Tembakau Jambangan Madura

Ladang Petani Tembakau
Ladang Petani Tembakau

Pada Juli-Agustus, di Madura, khususnya di daerah Kabupaten Sumenep, tampak bidang-bidang tanah yang dipenuhi hamparan hijau pepohonan tembakau. Di penghujung musim kemarau, di sana, khususnya di sekitar Kecamatan Guluk-Guluk, tanaman daun tembakau menjadi andalan petani untuk meraup keuntungan pertanian. Muncul istilah di kalangan masyarakat bawah; “dengan baiknya hasil tembakau yang ditanam dan panen hanya dalam 3 bulan sudah cukup untuk biaya hidup satu keluarga sepanjang satu tahun.” Istilah ini menunjukkan bahwa tembakau merupakan andalan perekonomian masyarakat, dan bahkan satu-satunya.

Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep merupakan kecamatan dengan produksi tembakau terbanyak di Madura. Akan tetapi, masyhur diketahui bahwa tembakau-tembakau berkualitas bagus justru berasal dari daerah Prancak dan Montorna, (Pasongsongan), tetangga kecamatan. Tembakau dari daerah itu, di mana tanahnya relatif lebih gersang dan lebih sulit untuk memperoleh air, panen tembakau dapat dipastikan selalu mempunyai nilai jual yang lebih bagus daripada tembakau lain yang ada di Madura, termasuk tembakau Guluk-Guluk.

Tembakau kategori “tembakau rokok”, tembakau yang dirajang halus dan sifatnya bukan produksi massal (tidak dijual ke gudang tembakau untuk diproduksi menjadi rokok sigaret pabrikan), kebanyakan berasal dari daerah Guluk-Guluk. Salah satunya adalah tembakau Bakeong dan Pordapor. Tembakau-tembakau dari daerah ini relatif lebih mahal harganya, bahkan bisa dua kali lipat atau lebih, dibandingkan dengan tembakau Prancak sekalipun. Sebut saja misalnya, tembakau Lamojang dan tembakau Jambangan.

Tembakau Jambangan bukanlah tembakau yang populer. Tidak semua orang tahu perihal tembakau ini. Harga tembakau Jambangan merupakan harga tembakau tertinggi di Madura. Harganya bersaing dengan tembakau lain dari penjuru Indonesia yang harganya juga fantastis. Sebutlah misalnya tembakau Kayumanis dan Tambeng di Situbondo, Srinthil di Temanggung, juga Tembakau Seina di Lombok.

Sayangnya, di daerah Jambangan sendiri, yang letaknya ada di ujung paling barat Kecamatan Guluk-Guluk ini, hanya beberapa petak tanah saja harganya melambung. Dari semua petak itu, yang paling mahal adalah Campalok. Harga per kilogramnya pernah tembus di atas 1 juta. Tentu, dibandingkan dengan harga tembakau lain yang saat ini hanya berkisar 15.000-an hingga 30.000-an, harga ratusan ribu, apalagi di atas satu juta, adalah angka yang fantastis.

Di daerah itu, terdapat beberapa petak tanah yang hasil panen tembakaunya sangat bagus. Harganya ratusan ribu, antara 300 hingga 400 ribu per kilogram. Masyarakat setempat lalu memberi julukan tembakau dari hasil petak-petak tanah tersebut dengan nama yang unik, seperti Maronggi, Salaka, Tarebung. Namun, Campalok tetap yang paling mahal.

Untuk mendapatkan hasil panen tembakau dari lahan yang digarap oleh Pak Aziz ini sulit sekali. Konon, hal itu disebabkan oleh adanya ikatan janji pemilik dengan H. Fatoni, seorang saudagar yang telah puluhan tahun membelinya secara borongan, semuanya. Jadi, hubungan antara penjual dan pembeli di sini bukan semata-mata karena hubungan bisnis, melainkan juga hubungan emosional.

Di samping itu, tembakau Campalok juga merupakan tembakau yang derajatnya naik bukan saja karena tanahnya yang bagus, hasil panen tembakaunya juga berkualitas tinggi, melainkan juga mitos. Banyak orang percaya bahwa tanah Jambangan dan sekitarnya, khususnya Campalok, merupakan tilas tempat bermain, atau pernah ditempat-tinggali, oleh bermain Pottre Koneng dari Keraton Sumenep. Karena itu, standar penilaian tembakau yang mengandalkan daya indera manusia (dilihat, diraba, dicium) mungkin juga telah dipengaruhi lebih dulu oleh cerita-cerita yang mengungkunginya.

Ada ada satu hal lagi yang mungkin membuat tembakau ini berbeda dengan yang lain. Petani pemiliknya mandiri dan merdeka. Tembakau Jambangan, termasuk Campalok, tidak seapes tembakau lain sesaudaranya, yang bagaimanapun bagus kualitasnya, harganya tetap ditentukan oleh pembeli, bukan oleh petani.