Selayang Pandang Industri Klembak Menyan Purworejo

nganjang tembakau
nganjang tembakau

Pertengahan April lalu, saya dan beberapa kawan dalam perjalanan menuju Kebumen, Jawa Tengah. Ketika memasuki kabupaten Purworejo, kondisi jalan di jalur lintas selatan Jawa atau lebih dikenal jalan Daendles rusak parah. Kami pun memutuskan untuk menepi sejenak di sebuah warung persis di pinggir jalan. Kepada pemilik warung, kami memesan kopi dan beberapa kawan memesan mi instan. Di meja terhidang pisang goreng, tahu bacem, rempeyek kacang, tape goreng. Sesekali, kami harus menutup hidung ketika bus atau truk melaju kencang karena debu turut berterbangan.

Di tengah obrolan bersama pemilik warung, mata saya tertuju pada sebuah lemari berkaca tepat di depan saya. Di dalamnya, saya melihat ada benda berwarna putih yang mulannya saya kira lilin. Hingga, saya tahu kemudian dari sang pemilik warung, benda tersebut adalah kretek klembak menyan. Sang pemilik warung bercerita, kretek klembak menyan banyak peminat, khususnya, para petani dan buruh.

Harga satu batang klembak menyan terhitung murah, seribu rupiah per batang. Saya bisa mengatakan murah, karena bagi saya sendiri, satu batang bisa untuk satu hari. Sambil bercanda, sang pemilik warung berujar bahwa ia rata-rata menghisap dua batang setiap harinya. Setiap seperempat batang dimatikan atau mati sendiri, hisap lagi seperempat batang, matikan lagi, hisap lagi dan seterusnya. “Ngirit mas,” ujarnya sambil tertawa. Dan memang, butuh waktu lama untuk menghabiskan satu batang klembak menyan. Sehingga, setiap batang dapat dihisap secukupnya, kemudian dimatikan, dan disimpan. Satu batang klembak menyan yang saya beli, bisa cukup untuk sehari.

Kretek klembak menyan bisa dikatakan salah satu komoditas khas Purworejo. Keberadaan industri klembak menyan di Purworejo telah berlangsung sejak 1970-an. Menurut catatan, kini terdapat 28 perajin kretek klembak menyan di Purworejo. Produksinya dilakukan dalam skala rumah tangga. Cikal bakal industri kretek klembak menyan di Purworejo berawal dari Desa Jono, Kecamatan Bayan.  Desa ini jugalah yang terkenal sebagai sentra kretek klembak menyan. Sementara itu, pangsa pasar terbesar berada di Purworejo, Kebumen, dan Banyumas.

Pada era 1970-an, di Desa Jono terdapat perusahaan kretek klembak menyan bernama PR Poncoroso. Perusahaan ini merupakan gabungan beberapa keluarga dan mengantongi izin usaha. Diperkirakan, ratusan orang bekerja di PR Poncoroso. Hingga periode 1980-an perusahaan ini mengalami masa jayanya.

Pada awal 1990, produksi klembak menyan PR Poncoroso berhenti sehingga menyebabkan ratusan mantan karyawannya menganggur. Para mantan buruh pabrik yang sudah puluhan tahun bekerja melinting harus berjuang untuk hidup.  Dalam perjalanannya kemudian, para mantan pegawai PR Poncoroso mulai melinting kembali. Keahlian mereka dalam meramu dan melinting kretek klembak menyan dilakukan dalam skala rumah tangga. Geliat ini pun diikuti beberapa desa di sekitar Desa Jono.

Perusahaan rumahan tersebut mampu memproduksi ribuan batang. Produksi mereka pun terus berkembang karena sudah mengetahui pangsa pasar kretek klembak menyan. Produksi di tingkatan rumah tangga tersebut juga memberi alternatif pekerjaan bagi para perempuan paruh baya dan lansia. Mereka mulai melinting di sela pekerjaan rumah tangga atau setelah dari sawah. Sejak 2009 lalu, produksi kretek klembak menyan di Desa Jono sudah tergabung dalam kelompok usaha produksi dan sudah mengantongi izin. Para produsen juga rutin membeli pita cukai seharga Rp 25 per pita cukai.

Pemberian izin produksi bagi para produsen kretek klembak menyan bisa dibaca sebagai dukungan terhadap keberadaan pengrajin kretek klembak menyan di Purworejo. Pada 2008, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Purworejo mencatat tedapat 138 pengrajin klembak menyan. Kebanyakan pengrajin kretek klembak menyan tidak mempunyai merek dagang atau dikenal dengan pengrajin “rokok polos”. Tiap-tiap pengrajin mampu menyerap tiga sampai lima orang dengan produksi hingga 800 batang per hari.

Jumlah pengrajin pada 2008 tersebut tentu jauh dari data yang ada sekarang yang hanya 28 produsen saja. Beragam kendala, termasuk aturan-aturan pembatasan tata niaga hasil tembakau menjadi salah satu penghalang utama. Sebenarnya, sejak 2011, pemerintah kabupaten Purworejo telah memberikan kemudahan bagi para pengrajin kretek klembak menyan, berupa pemberian nomor pokok barang kena cukai (NPBKC) tanpa harus menyertakan sertifikat kadar tar dan nikotin.