Kabar Gembira dari Rupa Baru Bungkus Rokok

Mari bernostalgia sejenak ke peringatan di bungkus rokok yang dulu: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.”

Ya, banyak perokok mengaku takut dengan gambar-gambar di bungkus rokok saat ini. Barangkali kamu juga. Dari sekian gambar seram yang menghiasi bungkus rokok sejak Juni 2014 itu, justru mendatangkan beberapa kabar gembira. Kabar gembiranya tentu bukan berupa ekstrak kulit manggis maupun kulit salak atau bengkoang atau apa saja. Berikut ini beberapa hal yang saya sebut sebagai kabar gembira itu dan bisa menghilangkan ketakutan, ataupun keresahan kamu, terhadap gambar-gambar seram di bungkus rokok.

Pertama, rokok tidak lagi dapat menyebabkan impotensi. Baik laki-laki maupun perempuan, patut menyambut peringatan baru di bungkus rokok dengan tenang. Tak ada lagi kekhawatiran para pasangan kekasih yang perokok, termasuk yang jomblo meski tidak bisa dibilang punya pasangan kekasih, untuk menghasilkan keturunan. Saya sih sangat bersyukur. Burung saya tak lagi takut menembakkan amunisinya. Kelak istri saya pun tak perlu khawatir. Mikirin istri segala, kuliah aja belum selesai.

Kedua, masih berhubungan dengan kebutuhan alami setiap makhluk: berketurunan—menurut Biologi. Kehamilan dan janin kini terlindungi. Perempuan perokok/pengkretek tak usah resah janinnya bakal terganggu. Peringatan itu sudah tidak ada di bungkus rokok. Jadi, kepulkan saja tembakau itu. Asal jangan berlebihan dan ditunjang pola hidup maupun konsumsi yang seimbang. Kalau kamu ikuti kampanye Komunitas Kretek yang funky nan kece itu, kamu pasti tahu, minum air segalon saja bikin mabuk. Apalagi dalam ajaran setiap agama Tuhan membenci segala yang berlebihan.

Ketiga, peringatan ‘Merokok Membunuhmu’ di bungkus rokok sekarang mengurangi beban para da’i atau pemuka agama lain dalam mendakwahkan ‘ingat mati, ingat surga’. Hewan bersel setengah pun tahu, semua bakal mati, lenyap, musnah, dan apalah istilahnya lagi. Kembali ke Sang Pencipta. Sok alim banget ya, coy. Hehehe. Maka dari itu, kapan lagi kamu menikmati aroma tembakau, harum semerbak cengkeh yang hangat-hangat di tenggorokan, sedap gurih asin-asin dan asam yang lengket di lidah khas saus buah-buahan, bunyi ‘tek kre tek tek’, berakhir hembusan asap yang mendatangkan inspirasi atau ide-ide brilian. Yuk, bakar lagi kreteknya coy. Srup, srup, sruput kopi hitamnya. Mantap ‘kan?

Peringatan ‘Merokok Membunuhmu’—ini semacam do’a, mohon kamu aminkan—membuat para koruptor, mafia hutan, laut, dan narkoba bertobat. Begitu membacanya, mereka ingat mati, segera sadar, dan mengakui kelakuan jahat yang merugikan bangsa dan negara. Amin, amin, amin.

Keempat, untungnya tak ada peringatan kalau menghisap tembakau (rokok, kretek, klobot, cerutu, dan kawan-kawinnya) menyebabkan jomlo seumur hidup. Kalau ada, bukan hanya dunia tembakau yang akan galau, hukum percintaan akan mengalami huru hara bahkan bisa memunculkan petrus-petrus (penembak misterius) baru. Ngebayanginnya ngeri, coy. Bakar lagi ah. Sedap…!

Nah, kamu tak usah risau lagi dengan gambar-gambar seram itu. Cuekin aja, coy. Toh, yang dibakar kretek, bukan bibir atau leher. Toh, kalau habis puntungnya dibuang ke asbak atau tempat sampah, bukan dimasukkan ke paru-paru atau jantung. Sruup, ah… ‘tek tek kret tek’ sedap!