Cerita dari Gerobak Tembakau Bayu

“…jualan tembako ini sebetulnya ngelanjutin usaha yang pernah dirintis bapak saya, tahun 1993 lulus SMP saya udah kerja jadi buruh bangunan.”

Lelaki kelahiran Ciamis berstatus bapak dua anak itu biasa disapa Bayu. Sehari-hari Bayu hidup menafkahi keluarganya hanya dari berjualan tembakau. Persis di seberang Ramayana Ciputat, dengan memanfaatkan sedikit ruang yang masih bagian dari teras toko perlengkapan alat tulis. Gerobak tembakau Bayu bertengger dengan sahaja. Terbilang 8 tahun sudah usaha itu ditekuninya. “Yang saya ingat sejak anak pertama saya lahir, tahun 2007, sekarang anak saya udah kelas 2 SD.”

Lelaki 38 tahun ini mengaku mendapat banyak pengalaman berharga dari berjualan tembakau. Gerobak tembakau bapaknya yang dulu mangkal di pasar Kebayoran Lama, kini dilanjutkan oleh abangnya. Bapaknya sudah lama pensiun dari berjualan tembakau. Dan Bayu adalah satu-satunya penjual tembakau di Ciputat yang menyediakan banyak pilihan merk. Khususnya tembakau olahan yang dihasilkan dari industri rumahan di Jawa Barat; Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Majalengka, dan Cianjur. “Kalo satu dua merk tembako mole, di tukang kembang pasar Ciputat situ juga ada, tapi di situ nggak sekomplit saya” ujarnya seraya menunjuk ke arah pasar.

Para pelanggannya kebanyakan adalah buruh bangunan, meski tidak sedikit juga pekerja kantoran, baik yang biasa mengkonsumsinya menggunakan cangklong maupun dilinting. Bahkan tidak jarang mahasiswa yang membeli dengan alasan hemat, lantaran harganya yang sangat terjangkau. Dagangan yang dijualnya berkisar 5000 Rupiah/bungkus sampai 15.000 Rupiah/bungkus, itu pun sudah dinaikan akibat dampak kenaikan harga BBM. “Dulu sih harga per bungkus masih 3000 sampai 10.000, tapi ya tau sendiri kan sekarang apa-apa serba naik.”

Berdagang tembakau kadang membuatnya mendapatkan cerita menarik soal tembakau dari pelanggan. “Ada yang beli tembako ke saya cuma buat nyembuhin wasir,” ungkap Bayu dengan antusias. Tembakau yang dibeli pelanggannya itu, terlebih dulu direndam. Lalu, air rendaman tembakau yang berwarna kekuningan itu, ia basuhkan ke wasirnya. “Perih katanya di awal-awal, asal rutin nanti kempes sendiri.”

Tak hanya itu, Bayu pun pernah menceritakan pengalamannya menjual tembakau untuk seorang peternak ayam jago yang sohor di berbagai kancah adu ayam. “Kalo itu sama dia, air nikotinnya dipakai buat mandiin ayam biar nggak kutuan, ada juga yang ditaro di telor-telor ayam yang lagi diperam. Sama ampuhnya,” jelasnya.

Soal dagangan, toko mbako milik bayu terbilang lengkap. Bukan hanya tembakau mole, shag, garangan, atau tembakau susur saja yang tersedia, tapi juga papir (kertas linting), cengkeh, klembak, kemenyan, bahkan alat linting rokok tradisional tersedia dengan harga kurang dari 50.000 Rupiah. Sejumlah merk yang tersedia di gerobak dagangnya mayoritas berpita cukai TIS (Tembakau Irisan Halus) seperti Padud, Bunga Matahari, Cap Haji Edeng, Tawon Simadu, Cap Parabola, Kuda Langit. Masing-masing merk memiliki perbedaan pengolahan dan sudah barang tentu menghasilkan rasa yang berbeda. Misalnya jika meggunakan mesin akan menjadi satu warna, sedangkan jika diproses secara manual akan menghasilkan beberapa warna dan memiliki kualitas serta aroma tersendiri.

Ini hanya cerita dari satu gerobak penjual tembakau. Masih ada ribuan gerobak dan toko tembakau dengan beragam cerita menarik lainnya. Tentu, gerobak milik bayu bukan hanya menghasilkan cerita unik soal tembakau. Karena yang terpenting, gerobak tembakau inilah yang digunakan untuk menghidupi keluarganya. Begitupula gerobak dan toko tembakau yang lain.