3 Tokoh yang Minta Kretek Sebelum Wafat

Merokok adalah aktifitas yang pernuh arti. Setiap batang yang dihisap punya gaya dan cerita masing-masing. Cerita menarik datang dari beberapa tokoh yang menjelang wafat justru meminta dibakarkan sebatang kretek. ‘Aku ada karena aku ngerokok’ seakan kalimat yang pas untuk menggambarkan mereka. Berikut beberapa tokoh tersebut.

Pramoedya Ananta Toer

Bung Pram panggilan akrabnya. Ia bukanlah haji lulung yang wajahnya menghiasi jejaring sosial saat ini. di zaman serba internet ini, semakin tidak banak orang yang mengenalnya. Ia memang hanya manusia biasa yang berjuang untuk buminya manusia. Pria dengan segudang wawasan itu telah mengajari kita betapa pentingnya menulis dengan berani dan pikiran terbuka.

Di balik itu semua, Pram adalah pria yang tak muluk-muluk. Di akhir hidupnya, Ia tak repot meminta ini-itu, apalagi meminta masuk surga. Beberapa jam sebelum wafat, ia hanya meminta disuapi havermut dan meminta sebatang rokok. Tentu saja, permintaan itu tidak dikabulkan keluarga. Hingga akhirnya, salah seorang keluargan hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya.

Itulah pram, baginya rokok adalah sebagian besar dunianya. Setiap hisapan adalah nafas kehidupan bagi petani-petani tembakau untuk menghidupi anaknya. Dalam setiap karyanya yang lahir tercium aroma kretek yang menemaninya melahirkan ratusan karya, termasuk tetralogi pulau buru yang melegenda. Andaikata masih hidup, barangkali saja saya bisa mengajak Bung untuk  menikmati sebatang kretek bersama.

Sekarmaji Marijan  Kartosoewiryo

Masih ingat dengan Sekarmaji Marijan  Kartosuworyo? Ya, dialah pemimpin DI/TII. Hari itu 12 September 1962, sebelum dieksekusi mati wajah Kartosoewirjo tampak tua dan beruban, mukanya sedikit berminyak. Hidangan nasi putih dengan lauk rendang yang tersaji di meja tak juga ia makan. Ia lebih memilih menyeruput kopi dan menghisap kretek. Kartosoewirjo duduk sejajar dengan istri, dan anaknya. Ia sadar, siang itu adalah makan siang terakhir dengan keluarganya.

Selepas makan siang, seorang petugas datang dan memborgol tangannya dan menuju ruang tunggu. Jam tangan Rolex yang biasa ia kenakanpun dilepas dan diserahkan ke keluarganya. Di ruang tunggu Kartosoewiryo kembali mengambil sebatang rokok dari sakunya. Seorang petugas yang akan mengantarkanya ke lokasi eksekusi memberinya api. Itulah rokok terakhirnya sebelum diangkut mobil tahanan menuju kapal yang membawanya ke Pulau Ubi di Kepulauan Seribu, tempat dimana ia dieksekusi.

Itulah kisah pemimpin DI/TII sebelum wafat. Rokok terakhir yang ia hisap kala itu adalah obat yang paling ampuh dikala bayangan kematian menghantui dirinya.

Jenderal Soedirman

Siapa yang tak kenal Jendral Soedirman. Dialah Panglima besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah kegemaran Pak Dirman terhadap rokok. Begitu senangnya Pak Dirman terhadap rokok, beliau selalu membawa tembakau ke mana-mana. Bukan rokok buatan pabrik, namun rokok buatan sendiri atau yang lebih dikenal dengan rokok tingwe (nglinting dhewe – melinting sendiri).

Semasa hidup, Jendral Besar kerap tergolek lemah akibat penyakit paru-paru. Namun, penyakitnya bukan disebabkan rokok, tapi disebabkan salah diagnose dokter yan mengakibatkan sebelah paru-parunya diangkat. Hingga akhirnya, Pak Dirman harus berjuamg dengan sebelah Paru semasa hidupnya. Ia pun pernah bergerilya mempertahankan republic dengan ditandu hamper sepanjang perjalanan, namun tak lupa tetap membawa kretek bersamanya.

Menjelang wafat, Pak Dirman sempat meminta sebatang kretek untuk dihisap. Namun, permintaan itu tak dikabulkan karena larangan dokter yang merawatnya. Akhirnya, dengan rasa cinta yang begitu dalam pada suaminya, istri Pak Dirman menghisap sebatang kretek, lalu menyemburkan asapnya pada Pak Dirman.

Begitulah kisah beberapa tokoh Indonesia yang meminta sebatang kretek menjelang wafat. Ada yang diperbolehkan meikmatinya, ada juga yang menikmatinya dengan bantuan keluarga. Namun, kretek memang telah memiliki makna yang besar dalam hidup ketiga tokoh tersebut.

Masih banyak tokoh-tokoh lain yang punya kebiasaan merokok seperti Soekarno, Agus Salim Chairil Anwar, dan lainya. Mereka sadar, selain sebagai teman hidup dan beraktifitas, kretek adalah produk yang dihasilkan dari bumi Indonesia dan patut kita syukuri.