Mas Pram dan Rokok

Saya ingat, melihat Mas Pram pertama kali merokok tahun 1950, ketika ia pulang ke Blora bersama istrinya yang pertama. Waktu itu mereka masih pengantin baru. Saya lihat, ia sudah perokok berantai. Jari telunjuk dan tengahnya bahkan sudah coklat. Saya sampai heran: kok jari bisa mencoklat karena merokok. Dan itulah sekali-kalinya saya melihat jari orang coklat karena merokok.

Ia melinting sendiri. Tembakau disimpan dalam kantong khusus dari plastik dengan gambar cerutu (kalau saya tak salah ingat). Mengeluarkan tembakau itu dari kantong, dan menutup kembali kantong itu merupakan upacara sendiri. Dan tembakau itu dilinting dengan yang namanya papier, kata yang baru pertama kali itu saya ketahui. Ia melinting dengan gerak-gerik yang mengasyikkan, dan tidak pernah berubah. Dan di akhir pelintingan, ujung papier itu selalu ia jilat sedikit sebagai lem.

Waktu itu ayah kami sudah sakit keras. Dan memang Mas Pram datang untuk itu. Pengantin baru, melakukan perjalanan untuk menemui ayah yang sudah sekarat! Bisa dibayangkan, di Blora Mas Pram bertekad untuk hanya menangani masalah ayah kami itu. Saya menjadi saksi segala kejadian yang kemudian oleh Mas Pram dilukiskan dalam novelnya, Bukan Pasar Malam. Saya menjadi saksi waktu napas ayah kami sudah tersumbat riak yang bakal mencekiknya dan mengirimnya ke alam barzah. Saya menjadi saksi di tengah racaunya ayah kami berbicara tentang jagung dari barat dan dari timur. Saya pun menjadi saksi ketika Mas Pram melantangkan seruan “Allahu Akbar”, sesudah ayah kami menghembuskan napas penghabisan. Oleh karena itu, membaca buku Bukan Pasar Malam, tidak dapat lagi saya membendung airmata saya. Dan tiap kali saya ulangi pembacaan itu, airmata tetap menderas seperti hujan.

Waktu itu umur saya limabelas tahun, duduk di kelas 2 SMP. Mbakyu saya Koesaisah duduk di kelas yang sama, karena pernah tak naik kelas. Lebih tua daripada Koesaisah tidak bersekolah, namanya Oemi. Adik saya Soesilo duduk di kelas 1 SMP, dan adik terkecil Soesetyo di SR (Sekolah Rakyat). Kami berdelapan menjadi yatim-piatu, karena ibu kami sudah mendahului Ayah pada 1942, dan sejak itu ayah kami menduda.

Ini tragedi yang banyak menimpa anak Indonesia: anak banyak, orangtua meninggal dini, pendidikan anak-anak terlantar. Dalam keadaan demikian, Mas Pram sebagai anak tertua, langsung mengambil tanggungjawab. Kami bertiga-Koesaisah, Koesalah, Soesilo-diangkut dan ditanggungnya di Jakarta, padahal waktu itu ia hanya pegawai negeri tanpa ijazah di Badan Penerbit Balai Pustaka.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Pendek kata, kami bertiga ikut Mas Pram dan istrinya tinggal di Kebon Jahe Kober Gang III No. 8, Tanah Abang, di tengah kampung antara Jalan Tanah Abang I dan Jalan Tanah Abang II. Nah, selama tinggal di Tanah Abang itulah (1950-1954) salah satu tugas saya yang banyak adalah membeli tembakau dan papier di toko “Tabaksplant” di Jalan Noordwijk, yang kemudian menjadi Jalan Nusantara.

Sebagai anak dari kampung (Blora waktu itu memang betul-betul kampung), di toko ”Tabaksplant” yang berkaca-kaca dan megah, dengan barang dagangan yang aneh-aneh seperti pipa, cerutu, papier, tembakau, dan sigaret, saya seperti monyet yang tak lucu.

Saya tak ingat berapa kali sehari saya harus datang ke toko itu, tapi yang jelas, begitu tembakau Mas Pram habis saya harus berangkat, apapun keadaannya. Saya ke Noorwidjk naik sepeda. Jaraknya tidak jauh, paling paling 300 meter. Dan jalanan di Jakarta waktu itu tidak ramai. Mobil baru 5.000 biji di seluruh Jakarta.

Merokok sudah menjadi kebutuhan vital Mas Pram. Agaknya dengan merokok jalan pikirannya menjadi lancar. Kadang-kadang saya melihat dia mondar-mandir dalam kamar mandi sambil merokok. Terpikir oleh saya, apa sih yang dipikir kok sampai segitu amat. Soalnya, bapak kami pun tak pernah melakukannya. Itulah untuk pertama kali saya melihat orang mondar-mandir di kamar yang sempit itu.

Kadang-kadang merokok itu tidak lagi menjadi kebutuhan vital, tapi sekadar kebiasaan. Pernah saya diajak Mas Pram naik motor Harley Davidson bekas ke Sukabumi. Katanya, dia mau mencari tanah untuk beternak bebek. Sampai Sukabumi baik-baik saja, juga percakapan yang dengan orang yang dimaksudnya. Tapi pulangnya, hujan terus-menerus dari Sukabumi sampai ke Bogor. Waktu itu bukan zamannya orang pakai mantel atau jaket. Jadi kami sampai klebus. Kalau tidak karena gemetar kedinginan, barangkali kami tidak berhenti. Terpaksa kami berhenti di sebuah emperan toko di depan Kebon Raya untuk minum kopi dan makan kue pancong. Sambil menunggu hidangan, Mas Pram mengeluarkan tembakau dan papiernya yang sudah klebus. Anenya, ia ngotot terus menyalakan lintingnya yang basah itu. Geretannya yang juga basah dipaksanya mengeluarkan api, dan tembakau serta papiernya yang lembab, begitu mati, begitu dipaksakannya menyala lagi. Begitulah kalau orang sudah jadi pecandu.

Saya tahu benar, awal-awal tahun 1960-an itu kadang-kadang Mas Pram tak punya uang untuk beli rokok. Dalam keadaan itu, tidak segan-segan ia bilang kepada saya:

“Beliin aku rokok, Liek!”

Dan saya tidak perlu tanya ini-itu lagi. Saya pasti membelikannya, waktu itu sudah rokok kretek. Mungkin karena kebiasan rokok itu badan Mas Pram tidak pernah tampak segar. Tapi ia yakin, kopi menetralkan efek nikotin rokok. Karena itu ia pun teratur juga minum kopi.

Pada waktu Mas Pram masuk tahanan tahun 1965, salah satu pesanan yang dimintanya dari saya adalah juga rokok. Tapi memang pernah ia berhenti merokok. Pada suatu hari di tahun 1968 (sebelu saya sendiri masuk tahanan akhir itu), saya sempat menjenguk Mas Pram di penjara Salemba. Waktu itu saya lihat badannya penuh, sportif, dan gagah.

“Kok bagus betul badannya!” ujar saya.

“Aku berhenti ngrokok!” katanya bangga.

“Tapi lengannya itu keras betul!”

“Latihan!” terusnya tak kurang bangga.

“Latiha apa?”

“Barbel.”

Ya baguslah, pikir saya. Tapi baru saya ketahui bahwa ia berhenti merokok cuma setengah tahun saja. Sesudah itu, ya, ngebul lagi seperti lokomotif.

Di pulau Buru lebih lagi, karena di Mako (markas komando) waktu itu ia mendapat kesempatan untuk menulis, dan teman-temannya, karena dorongan solidaritas, selalu menyediakan tembakau untuknya. Konon persediaan tembakau bahkan berlimpah, karena banyaknya yang bersimpati. Dan simpati itu, saya tahu, pernah ada buntutnya.

Pada suatu hari, ketika saya sedang berkunjng ke rumahnya di Utan Kayu, datang seorang tamu eks-pulau Buru. Saya tidak kenal dengan tamu itu, tapi tentu saja diperkenalkan, dan karena merasa sebangsa, sebentar saja sudah akrab. Teman itu pun tidak segan-segan menyampaikan gagasannya kepada Mas Pram di hadapan saya. Menurut dia, adalah wajar kalau membagikan honorarium dari buku-bukunya kepada teman-teman eks-Buru, karena selama di Buru Mas Pram toh tidak bekerja seperti yang lain-lain. Itu hanya bisa terjadi karena dukungan teman-teman. “Kawan-kawanlah yang menyediakan alat tulis untuk Mas Pram. Bahkan tembakau Pak Pram, kawan-kawan juga yang menyediakan!” itulah yang terluncur dari mulut teman itu.

Tentu saja Mas Pram ada bahan untuk menjawab. “Ya, dulu kan sudah saya bangun perusahaan pemborong. Berapa rumah saya bangun. Dan berapa teman saya tampung. Saya tidak pernah minta-minta!”

Semua itu memang benar, tapi yang diharapkan oleh teman lama itu tentulah lain, yang di mata Mas Pram sendiri tentulah absurd.

Akhir-akhir ini Mas Pram banyak mengeluh sulit atau tak dapat mengingat sesuatu. Hal itu memang saya lihat secara nyata. Berkali-kali ia bertanya kepada saya siapa yang memperkenalkan nama Indonesia untuk pertama kali. Yang dimaksudkannya adalah Logan dan Bastian. James Richardson Logan adalah etnolog Inggris yang pada tahun 1850, dalam karangannya “The ethnology of the Indian archipelago”, untuk pertama kali menggunakan istilah “Indonesia” dalam arti etnografis dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Berasal dari bahasa Yunani ‘Indos’ (India) dan ‘nesos’ (nusa). Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh etnolog Jerman, Adolf Bastian, pada 1884 dalam bukunya Indonesien oder die Inselndes Malayischen Archipels. Pertanyaan diajukan langsung kepada saya, beberapa kali ia bahkan menyuruh anaknya Ti untuk menanyakan kepada saya lewat telepon.

Ia pun mengeluh sudah tak bisa menulis lagi, tak bisa bekerja lagi. Ia mengeluh, walau katanya apa yang ingin dituliskan sudah dituliskannya semua, sehingga ia tak punya lagi utang terhadap diri sendiri.

“Nggak tahu, apa yang terjadi dengan otak saya ini!” keluhnya.

“Mesti latihan lagi,” kata saya.

“Nggak bisa!” bantahnya. “Sebabnya disini!” ia menegaskan sambil menuding kepala belakang dengan tangan kiri, dan dengan tangan kanan menjepit rokok kretek. “Mungkin karena saya terlalu banyak merokok. Dulu saya merokok karena mau berpikir. Sekarang saya nggak bisa berpikir karena merokok.”

Kata-kata itu seperti vonis hakim terhadap diri si hakim sendiri, dan itulah contoh konkrit pepatah lama: Tangan mencencang, bahu memikul. Maka tugas saya hanyalah memberikan hiburan sedikit kepada dia dengan pertanyaan:

“Kapan Mas Pram mulai merokok?”

“Sejak umur limabelas tahun, di Surabaya.”

“Apa alasan merokok?”

“O, itu karena saya dikasih wadah rokok yang bagus oleh teman dari Blora juga. Wadah itu bisa dibuka-tutup degan bagus sekali. Karena nggak ada isinya, saya beli rokok. Sejak itu saya terus merokok.”

“Tapi waktu di Salemba pernah berhenti merokok, kan?”

“Cuma sebentar, dan tiap kali berhenti pakai proklamasi!”

 

*Tulisan ini diambil dari buku Pramoedya Ananta Toer dari dekat sekali: catatan pribadi Koesalah Soebagyo Toer