Sehari Dengan Koh Ayong dan Cak Rusdi

“Hari ini kamu ngapain? Kalau gak sibuk, mau aku ajak ke Glodok.”

Suara Cak Rusdi menyapa di ujung telepon. Rusdi Mathari, saya memanggil beliau Cak Rusdi. Orang Situbondo. Pernah kuliah di Malang. Sudah lebih 25 tahun jadi wartawan. Saya menganggapnya sebagai guru. Entah dalam menulis, atau dalam banyak hal lain. Saat ini beliau sedang menulis tentang para penjual tembakau di Jakarta.

Saya langsung mengiyakan ajakan beliau. Toh, kerjaan di kantor sudah purna. Lagipula, saya selalu suka berjalan-jalan di Glodok. Suasana yang ramai, semrawut, tapi penuh makanan enak, itu benar-benar menyenangkan.

Kami bertemu di Stasiun Cikini. Lalu lanjut naik kereta ke Stasiun Kota. Kemudian dilanjut naik bajaj untuk mencari toko tembakau yang dimaksud Cak Rusdi. Ia sendiri baru tahu tentang toko itu dari seorang teman.

“Ancer-ancernya sih di GKI (Gereja Kristen Indonesia),” kata Cak Rusdi.

Kami sempat muter-muter dengan bajaj. Oh ya, supir bajaj ini agak ajaib. Logatnya akan membuat orang menduga ia berasal dari Tegal atau atau Banyumas. Tapi ternyata dia dari Rangkasbitung! Saya sempat terkekeh waktu dia mati-matian meyakinkan kami kalau dia memang berasal dari Rangkas.

“Ini karena pengaruh pergaulan aja,” katanya, tetap dengan dialek Banyumasan yang kental.

Gereja Kristen Indonesia berada di jalur ramai, Jalan Perniagaan. Di kanan kiri ada ruko yang menjual aneka mesin atau spare part mesin. Pas seberang gereja adalah Jalan Perniagaan Timur. Di bagian depan jalan ini ada mushola kecil. Juga ada Bakmi Alok, kalau saya tak silap. Sebenarnya saya tergoda ingin mampir. Tapi mengingat Cak Rusdi sangat berhati-hati dalam memilih makanan, saya menunda keinginan itu.

Berjalan menyusuri Perniagaan Timur, sekitar 200 – 300 meter dari depan, kamu akan dengan mudah menemukan toko tembakau itu, di kiri jalan. Di bagian depan toko ada jejeran toples kaca berukuran besar. Tampak sudah diselaputi warna cokelat dan terdapat serpihan rajangan tembakau yang lengket di dinding toples. Tanda kalau toples kaca ini sudah berumur tua. Di bagian belakang, terdapat banyak sekali besek tempat tembakau. Juga tembakau yang diwadahi plastik. Di lantai, banyak kardus yang masih terbungkus karung. Isinya juga tembakau.

Pemilik toko ini adalah Koh Ayong. Orangnya pendiam. Sedikit canggung kalau bertemu dengan orang asing. Bahkan Cak Rusdi sudah dititipi pesan oleh sang kawan: Koh Ayong agak tertutup.

Benar saja. Ia sedikit kagok ketika kami bertanya-tanya. Sepertinya ia memang jarang menghadapi konsumen yang banyak tanya seperti kami.

“Apa tembakau yang paling enak?”

“Mau yang polosan atau enggak?”

“Yang polosan itu gimana?”

“Yang gak pakai cengkeh.”

“Yang kayak kretek ada gak?”

Koh Ayong mengeluarkan satu pak tembakau. Saya lupa tak menengok berapa beratnya. Saya menebak sekitar 200 gram. Tembakau itu punya logo mirip Dji Sam Soe. Rasanya mungkin juga sama. Karena itu Koh Ayong menyebut tembakau ini sebagai tembakau Sam Soe.

“Enak Ran,” kata Cak Rusdi sembari mengepulkan asap ke udara. Koh Ayong mengambilkan asbak untuk Cak Rudsdi.

Saya tersenyum saja. Saya memang tak merokok. Tapi Cak Rusdi adalah perokok berat. Saya yakin indera perasanya pasti bisa diandalkan. Saat itu lah kami duduk dan izin berteduh dari panas. Cuaca di luar memang sedang kurang ajar. Kami mulai memancing pertanyaan seputar tembakau. Koh Ayong memang masih kaku, tapi ia mau bercerita.

Ia berkisah kalau toko tembakau ini sudah ada sejak tahun 40-an. Saat itu sang ibu dan saudara-saudara sang ibu yang menjalankan usaha ini. Ayah Koh Ayong sudah meninggal waktu ia masih umur 2 tahun.

Ayong sempat kuliah di Universitas Kristen Indonesia. Saat itu kampus ini masih terletak di kawasan yang lama, di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Tapi kulihanya tak selesai. “Hampir lah,” katanya. Koh Ayong sempat bikin Cak Rusdi terkejut karena ternyata beliau kenal dengan Albert Hasibuan, mantan redakturnya di Suara Pembaruan.

“Dia kakak kelas saya, dua tahun di atas,” kata pria yang sekarang berusia 72 tahun ini.

Koh Ayong menjadi pengelola toko tembakau ini pada dekade 60-an. Saat itu perdagangan tembakau di Glodok masih ramai.

“Di sekitar sini aja ada tiga toko tembakau,” kata Koh Ayong yang ayah ibunya berasal dari Temanggung.

Sekarang toko Koh Ayong adalah satu-satunya yang menjual tembakau di daerah Glodok dan sekitarnya. Bahkan saya sempat bertemu dengan Andi, penjual tembakau di daerah Grogol yang membeli tembakau di toko Ayong. Ini mungkin karena terjadi pergeseran pola konsumsi rokok. Sekarang orang ingin yang praktis. Ketimbang melinting sendiri dan menambah pekerjaan, mending beli rokok pabrikan yang sudah tinggal hisap.

“Ya sekarang orang mana mau bisnis tembakau gini. Toko jadi kotor pula,” kata Koh Ayong.

“Kenapa gak ganti bisnis saja?”

“Ya mau ganti apa? Bisanya ya jual ini.”

Toko Koh Ayong punya banyak koleksi tembakau. Ia sendiri sampai tak tahu jumlah pastinya. Ada tembakau Bali. Ada yang dari Temanggung. Ada pula tembakau merk Virginia. Entah itu benar tembakau dari Virginia yang biasa dipakai untuk rokok putihan, atau hanya sekadar merk saja. Bahkan ada pula rokok klobot merk Cowboy yang biasa dipakai untuk sesaji.

“Masih ada yang beli ta Koh?” tanya Cak Rusdi takjub melihat rokok klobot.

“Ya masih ada lah. Satu dua.”

Harga tembakau di toko Ayong cukup murah. Apalagi kalau dibandingkan dengan rokok pabrikan. Satu pak tembakau Sam Soe misalkan, hanya dibanderol Rp 7 ribu. Kertas rokok bahkan jauh lebih murah: Rp 1000 dapat tiga pak kertas rokok. Saya sempat tertawa sekaligus kagum karena mendengar banderol yang sudah lama tak saya dengar. Apalagi di daerah mahal seperti Jakarta.

Untuk membantu Cak Rusdi melinting rokok, Ayong menawarkan alat pelinting rokok. Entah kenapa, Cak Rusdi tak pernah tahu alat itu. Padahal saya dulu sering melinting rokok memakai alat itu sewaktu naik gunung bareng kawan-kawan SMA saya. Alat linting, tembakau, dan kertas rokok memang selalu jadi bekal wajib kami saat naik gunung. Harganya jauh lebih murah ketimbang beli rokok pabrikan. Pun kuantitasnya bisa jauh lebih banyak.

Karena saya tak merokok, saya memilih untuk melinting rokok saja. Ini karena saya takjub pada orang yang bisa menciptakan alat sepraktis itu. Semoga pahala mengalir tak putus untuknya.

Cak Rusdi sendiri tercengang, dan takjub melihat cara kerja alat linting itu. Maka ia membeli alat linting ini juga. Lengkap dengan lem kertas. Total harga yang harus ia bayar untuk satu pak tembakau Sam Soe, tiga pak kertas rokok, alat linting, lem kertas, dan dua botol air mineral, hanya Rp 27.500 saja. Saya menaksir, tembakau sebanyak itu bisa untuk 30-40 batang rokok.

Kecanggungan Koh Ayong kembali muncul saat ia ‘mengusir’ kami dengan halus. Kami sadar diri. Langsung membayar dan berpamitan. Di luar, matahari masih kurang ajar. Jalan masih semrawut. Cak Rusdi memakai topi warna merahnya, juga mengenakan kacamata.

“Ayo Ran, makan Nasi Padang,” ajak Cak Rusdi.

Aha!

(Visited 9,558 times, 110 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,