Di Indonesia, yang Bagus-bagus Tidak Boleh Tumbuh

Sejauh ini, kebanyakan orang hanya mengikuti hal-hal yang umum dilakukan orang lain tanpa mengetahui dan yakin apakah yang dikerjakan berasal dari diri sendiri atau karena pengaruh orang lain. Contohnya soal demokrasi, yang hanya katanya dan katanya, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Pukul 20.15. Penyanyi perempuan itu belum selesai menyanyikan lagu “Ruang Rindu,” ketika kami: Sabrang Mowo Damar Panuluh, Abhisam, Gugun Elguyani, saya dan beberapa teman; bersiap meninggalkan Coffee Shop Hotel Elmi, Surabaya, Senin malam lalu. Lagu itu tampaknya dipesan oleh seseorang yang melihat Sabrang atau Noel, penyanyi “Ruang Rindu.” Sabrang terkekeh mendengar lagunya dinyanyikan oleh penyanyi perempuan, yang entah kenapa terlihat sedikit kikuk. Kami keluar lewat pintu belakang menuju tempat parkir.

Mobil kami meninggalkan Hotel Elmi. Hotel yang tak jauh dari gedung “Surabaya Post,” nama harian sore yang pernah merajai Jawa Timur, di seberang tugu Bambu Runcing itu adalah hotel lama, yang pada zamannya terkenal di Surabaya dan Jawa Timur. Mobil kami melintasi Jalan Jenderal Sudirman menuju Kampus B Universitas Airlangga di Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan. Lalu-lintas agak padat tapi tak lama, kami tiba di Kampus B, yang pelataran parkirnya sudah penuh kendaraan. Dari gerbang masuk, mobil kami menusuk jalan di depan gedung utama, berbelok ke kiri. Turun di pertigaan, kami berjalan kaki menuju aula kecil, tempat Cak Nun, Mas Totok Rahardjo dan anggota Kiai Kanjeng mendiskusikan pementasan.

Senin malam itu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng memang hadir di Unair. Memenuhi undangan BEM Fisip Unair dan BambangWetan, komunitas yang dirintis Cak Nun di Surabaya dan sekitarnya. Cukup lama Cak Nun dan anggota Kiai Kanjeng di aula dan baru keluar menjelang pukul 21.30. Di panggung, yang di gelar di salah satu ujung tempat parkir Gedung Program Magister Management, acara sudah dimulai sejak sehabis maghrib: bazar, pameran, beberapa pementasan tari.

Cak Nun datang sewaktu Saifullah Yusuf atau Gus Ipul akan memberikan sambutan. Sesaat sebelum wakil gubernur Jawa Timur itu memberi sambutan, dia bersalaman dengan Cak Nun. Cak Nun menyambutnya. Gus Ipul memeluk Cak Nun. Cak Nun membuat gerakan seolah hendak memukul kepalanya. Semua yang melihat adegan itu tertawa. Gus Ipul terkekeh. “Tadi waktu wakil rektor memberi sambutan, Cak Nun belum datang. Giliran saya, Cak Nun datang. Agak grogi eh,” kata Gus Ipul.

Dua orang itu memang teman lama. Gus Ipul tahu Cak Nun.  Cak Nun apalagi: tahu “luar-dalam” Gus Ipul. Maka setelah mengajak semua yang hadir membaca Alfatihah, Cak Nun memulai acara juga dengan mencandai Gus Ipul. “Ipul ini, sudah pernah jadi menteri. Masih bisa jadi menteri lagi. Sekarang wakil gubernur. Ada yang mencalonkannya sebagai bupati dan lurah. Ya kan Pul? Mau kamu ambil semua Pul? Itu namanya gragas Pul.”

Orang-orang geer. Menurut Cak Nun, seperti itulah guyub, kemesraan orang-orang Jawa Timur. Tak ada jarak. Dia mencandai Gus Ipul karena kemesraan, karena tahu siapa Gus Ipul.

Berceritalah Cak Nun kemudian tentang Gus Ipul yang pernah menjadi wartawan tabloid detik, dan Cak Nun yang diminta menulis kolom tetap di halaman terakhir. Tabloid detik yang terbit setiap Rabu itu dibreidel oleh Soeharto, Juni 1994, sebab sering mengkritik kekuasaan, dan membangkitkan kesadaran masyarakat. Sejak detik dibreidel, Gus Ipul lantas jadi sopir Cak Nun. Sopir Kiai Kanjeng.

Pernah suatu waktu, kendaraan yang dikendarai Gus Ipul dicegat oleh polisi. Sebetulnya polisi hanya akan menilang, tapi keadaan menjadi lain karena polisi menemukan di dalam mobil, tumpukan buku yang dianggap merongong kekuasaan Orde Baru. Polisi tidak menilang Gus Ipul, melainkan membawanya ke Polda Metro Jaya. Polisi tidak tahu Gus Ipul. Mereka juga tidak tahu, Gus Ipul adalah keponakan [almarhum] Gus Dur. Dia bisa keluar dari tahanan setelah Cak Nun datang ke kantor polisi, dan menjadi penjamin.

Acara Cak Nun dan Kiai Kanjeng telah dimulai dengan suasana segar. Cak Nun juga tampil segar. Wajahnya sumringah, sudah sejak di Hotel Elmi. Mengenakan kemeja dan celana hitam dan kopiah mirip ushanka [topi khas Rusia] warna cokelat pudar, saya seperti mendapati Cak Nun pulang kampung, dan dia memang pulang kampung.

Tempat parkir sepanjang kurang-lebih setengah lapangan bola di Kampus B penuh lautan manusia. Di depan kampus, di Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, sesak dengan kendaraan yang diparkir. Mahasiswa, warga Surabaya, komunitas BambangWetan dan sebagainya tetap tumpah ruah, di depan, di samping, di belakang panggung. Di luar pagar, orang-orang duduk tertib. Penjual jagung bakar laris dagangannya. Penjual kopi dan teh keliling berlimpah pembeli. Pemulung mendapat berkah.

Nanti, mobil Alphard hitam milik Gus Ipul [L 1748 BS] bahkan tidak bisa keluar meskipun di parkir tepat di belakang panggung, sehingga memaksa Gus Ipul yang sudah pamit pulang pada Cak Nun pada pukul 24.00, kembali ke atas panggung. “Sinau Kedaulatan” yang menjadi tema Kiai Kanjeng, malam itu menemukan nyawanya di Kampus B Unair.

Unair memang kampung Cak Nun. Surabaya tanahnya. Jawa Timur airnya. Malam itu adalah pertemuan besar keluarga besar pemilik kampung dan tanah air. Tak ada yang bisa menghalangi, apalagi cuma ocehan di Twitter dari seseorang yang jengah dan tampaknya tak suka Cak Nun tampil di Unair, yang muncul sehari sebelumnya, yang diteruskan ke akun resmi BEM Fisip Unair dan sebagainya. Ocehan dari orang-orang pengecut yang disampaikan di media sosial dengan nama samaran, yang justru tidak bersedia diajak berdialog berhadap-hadapan, bertatap muka.

Orang-orang itu tidak tahu, Cak Nun bukan sekadar keluarga besar Unair. Dia adalah salah satu pengusul atau pendiri Fisip Unair. Dekan Fisip Unair, Ignatius Basis Susilo mengungkapkan hal itu ketika dia berbicara di panggung menemani Cak Nun.“Dia [Cak Nun] adalah guru besar kita, profesor Fisip Unair,” kata Basis.

Selesai mencandai Gus Ipul, Cak Nun memulai acara dengan memberi optimisme bahwa kekuatan umat Islam dan rakyat di Indonesia ada di Jawa Timur. Dia memberi kepercayaan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak bisa dikalahkan. Tidak bisa dikadali oleh siapa pun.

Kata Cak Nun, hanya bangsa Indonesia, yang tetap tersenyum meskipun yang jadi presiden misalnya adalah monyet. Hanya bangsa Indonesia yang ketika semua kebutuhan hidup serba mahal dan pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM, malah menantang agar harga BBM segera dinaikkan. “Di Indonesia tidak ada kecemasan. Penderitaan kita ubah menjadi kebahagiaan.”

Lihatlah, ketika Islam di Timur Tengah sudah dihancurkan, hanya Islam Indonesia yang tersisa. Bangsa Arab telah menitipkan Bahasa Arab ke bangsa Indonesia. Dan di Indonesia, semua boleh hidup. Aliran apa saja. Islam model apa pun. Yang bercelana cingkrang, yang berjenggotan, yang bercadar, yang sarungan, yang berpoligami, semua boleh hidup dan rukun. Bahkan yang bau sekali pun akan dipaksa jadi wangi di Indonesia, meskipun baunya tetap menyengat.

Karena Islam Indonesia itulah, maka siapa pun yang minoritas seharusnya adalah orang atau kelompok yang paling dilindungi. “Jangan meremehkan siapa pun. Anda tidak punya kemampuan untuk menyatakan kebenaran sebab hanya Allah yang punya kebenaran.”

Dia karena itu meminta semua yang hadir untuk menjadi manusia berdaulat sebab kedaulatan adalah penting. Menjadi diri sendiri dan orisinil itu penting, sebab manusia lahir sendiri dan mati sendiri, kecuali hanya berurusan dengan Allah. Tidak ada misalnya, kawan setia yang ketika temannya mati lantas mau ikut menemani mati. “Orang hidup itu harus berani. Tidak bawa keris, tidak bawa pedang. Yang penting membawa hatimu. Ikhlas. ”

Menjelang tengah malam, suasana makin meriha. Cak Nun meminta beberapa mahasiswa naik ke panggung. Diajak berdialog. Seorang mahasiswa ditanya tentang demokrasi. Si mahasiswa menjawab, demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

“Itu demokrasi kata siapa?”
“Kata dosen.”
“Dosen Anda kata siapa?”
“Buku.”
“Lah buku itu siapa yang ngarang? Dan terus menurut Anda, demokrasi apa?”

Cak Nun karena itu mengajak semua yang hadir untuk berpikir tentang upaya menumbuhkan kedaulatan dalam urusan yang paling kecil: kedaulatan individu. Sejauh ini, kebanyakan orang hanya mengikuti hal-hal yang umum dilakukan orang lain tanpa mengetahui dan yakin apakah yang dikerjakan berasal dari diri sendiri atau karena pengaruh orang lain. Contohnya soal demokrasi itu, yang hanya katanya dan katanya.

Mestinya kata dia, setiap keputusan harus berasal dari kedaulatan dari pemikiran pribadi. Dan jangan mengambil keputusan kalau tidak menjadi keyakinanmu “Kita tidak mencari siapa yang benar, siapa yang salah, tapi mencari apa itu kebenaran.”

Sama dengan acara di Universitas Diponegoro, Semarang April silam, di Unair Surabaya, Cak Nun tak hanya mengajak mahasiswa berdialog melainkan juga diajak turut mempraktikkan arti berdaulat. Mereka yang naik ke panggung dibagi dalam tiga kelompok: kedaulatan negara, ekonomi, dan individu. Cak Nun mengajak mereka memaknai kedaulatan dalam skala yang lebih kecil.

Ada yang menarik perhatian Cak Nun, ketika sampai pada pembahasan kedaulatan negara. Sabrang yang menjembatani dialog, meminta Gugun yang juga duduk di atas panggung untuk menjawab.

Kata Gugun, saat ini ada sekitar 76 lebih Rancangan Undang Undang, yang konsultannya adalah lembaga donor asing. Dia menyebut USAID, IMF dan lembaga asing lain berperan menyiapkan draft rancangan yang merugikan rakyat. “Pasca reformasi, sebanyak 80 undang-undang kita justru anti-konstitusi. Kita bisa ambil contoh Undang Undang Penanaman Modal Asing. Izin hak guna usaha untuk pemodal asing bisa sampai 94 tahun. Itu pun masih bisa diperpanjang 35 tahun lagi. Jadi memang luar biasa intervensi kepentingan asing untuk menghegemoni bumi Pertiwi ini,” kata Gugun.

Dia juga menyebut Undang Undang Kesehatan sebagai undang-undang yang aneh, karena tiba-tiba ada Pasal 113-155 yang berbicara soal standarisasi tanaman tembakau. Pertanyaan sederhananya: bagaimana mungkin petani tembakau di Madura Jawa Timur, bisa menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin yang sama dengan petani di Temanggung dan daerah lainnya? “Petani kita ditekan hingga tak berdaulat lagi” kata Gugun.

Mengutip kesaksian [almarhum] Profesor Mubyarto, Gugun menyatakan, Pasal 33 UUD 1945 yang asli, yang menjadi pilar kedaulatan ekonomi, waktu amandemen hampir dihapus karena tekanan asing. “Bagaimana hal itu mengidentifikasi ketidakberdaulatan negara ini Mas Gugun?” Cak Nun bertanya.

Menurut Gugun, pintu masuk kepentingan asing yang membuat negara ini tak berdaulat lagi adalah lembaga legislatif lewat proses legislasi, melalui produk legislasi. Lembaga atau ormas keagamaan juga ikut membuka pintu lebar-lebar menampung intervensi asing. Dari awal, kata Gugun, NKRI sebetulnya tidak berdaulat secara de facto dan de jure.

“Terima kasih Mas Gugun. Tolong adik-adik mahasiswa segera merapat ke Mas Gugun. Yang mau bikin penelitian atau skripsi, Mas Gugun saya kira punya eberapa data penting,” kata Cak Nun.

Gugun adalah dosen hukum tata negara IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pengurus PWNU DIY, dan pernah meneliti kewenangan Mahkamah Konsituti lewat tesisnya. Sama dengan saya, dia juga penggemar Cak Nun. Di Yogyakarkarta, kami pernah datang bersama ke acara Macopat Syafaat Cak Nun di Bantul, menyimak pengajian Cak Nun hingga menjelang subuh. Dia datang ke Surabaya karena diajak Abhisam, dan ikut menemani Sabrang di Coffee Shop, Hotel Elmi.

Sebelum mengajak para mahasiswa berdialog dan berdiskusi, Cak Nun mengajak yang hadir mempraktikkan kedaulatan. Seseorang diminta mengumandangkan azan yang nadanya tidak meniru-niru nada-nada azan yang sudah biasa di dengar di banyak masjid. Beberapa orang diminta berjoget sesuai dengan keinginannya, asli, tidak meniru joget siapa pun. Seorang petinju Roy Muchlis, Juara WBO juga ditampilkan ke panggung. “Di Indonesia, yang bagus-bagus tidak boleh tumbuh. Dan Roy, anak muda dari NTT ini adalah juara dunia yang tidak diperhatikan. Berdoalah untuk Roy, agar dia membawa harum nama Indonesia.”

Senin malam itu, Cak Nun memang pulang kampung. Pulang ke Unair. Pulang ke Surabaya. Pulang ke Jawa Timur. Bergembira bersama. Tidak ada kesedihan. Membangkitkan semangat dan optimisme. Kegembiraan kata Cak Nun adalah syarat utama dari kedaulatan. Tidak ada yang perlu ditakutkan. “Kedaulatan bukan berarti melegitimasi untuk berbeda dengan yang lain, melainkan pilihan untuk memilih sesuatu.”

Sekitar pukul 02.00, acara “Sinau Kedaulatan” di Kampus B baru sampai pada ujungnya. Cak Nun menutupnya dengan doa, agar yang sakit diberi kesembuhan, yang bingung diberi ketenangan, yang tidak rukun diberi kerukunan. Udara Surabaya yang sejak sore diguyur hujan, dini hari itu bertambah sejuk. Dini hari seperti malam yang baru muncul.

Berdiri di pojok panggung, saya melihat seribuan orang berebut ingin bersalaman dengan Cak Nun. Mahasiswa-mahasiswa mendesak ingin befoto dengan Sabrang. Silih berganti naik ke atas panggung. Kami segera menarik Sabrang, membawanya ke Hotel Elmi karena Selasa siang, kami semua harus kembali ke Yogyakarta, sebagian ke Jakarta.

Di hotel itu, menjelang subuh, saya menjumpai Cak Nun masih menerima tamu di lobi. Masih segar bugar, sementara saya sudah terkantuk-kantuk. Saya membayangkan ketangguhan fisik dan batin Cak Nun, yang hampir setiap malam, menemui banyak orang, dari malam hingga menjelang subuh. Di Surabaya dan sekitarnya itu, setelah Senin malam di Unair, Selasa malam dia akan tampil di Kampus Universitas PGRI Abdi Buana Surabaya, Rabu malamnya akan memimpi maiyah di Rumah Cak Gajah, Pejangkungan, Prambon, Sidoarjo.

Cak Nun memang pulang kampung.