Pomade Bung Kretek

“Banyak yang pada kaget tuh pas gua ngeluarin pomade varian Kretek. Apa-apaan tuh, pomade kok kretek? Ya gua bilang aja kalo pomade Bung bikinan gua emang pengen konsisten make ikon budaya Indonesia. Setelah Gurindam, gua ngeluarin Kretek,” katanya.

Lelaki itu masih dengan keriangannya yang sama dengan ketika kami sering nongkrong bareng bertahun-tahun lalu di sebuah warkop di depan kampus kami. Ia menerima saya di rumahnya di pelosok Bekasi yang jauh. Dari Ciputat, saya perlu waktu dua jam lebih naik sepeda motor untuk bertemu dengannya. Itu di tengah malam. Saya enggan membayangkan menempuh jarak itu di jam orang pergi atau pulang kerja. Olok-olok orang Jakarta sepertinya tidak berlebihan, Bekasi memang lebih jauh ketimbang Pluto.

Ia orang yang paling berjasa mengajari saya ngeblog. Ia yang menunjukkan kepada saya bahwa ngeblog pun bisa menghasilkan uang. Menjelang kelulusannya, ia menghabiskan ribuan dolar hasil ngeblog untuk melunasi semua kebutuhannya agar bisa diwisuda.

Ia yang secara tak langsung banyak mengajari saya menulis. Beberapa kali, saya memintanya memeriksa naskah yang saya buat, masukan darinya selalu sangat berguna, dan disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Dan yang jauh lebih penting, ia yang terus menjaga semangat membaca saya. Dia selalu mengajak saya berlomba-lomba memburu buku-buku bagus, untuk kemudian saling pamer apa yang telah masing-masing kami baca.

Ia adalah penulis bola yang paling saya kagumi setelah Sindhunata, sebelum Zen RS. Ia sempat membangun sebuah portal sepakbola bernama sepakbolamania.com. Di situlah analisis-analisis kerennya tentang berbagai pertandingan dipublikasikan.

Tapi kini ia banting stir! Sepakbolamania sudah lama gulung tikar. Ia semakin jarang menulis. “Gua juga udah jarang baca sastra. Paling buku-buku bola, gua pesen di book depository,” katanya.

Tapi ia masih punya keriangan yang sama. Selera humor yang masih meluap-luap. Ia menerima saya dengan gembira, dengan guyonan-guyonan lama, dengan kue lebaran yang enak-enak, dengan kopi Jambi yang tak kalah enak.

Tapi ia kini banting stir! Ia sudah jarang menulis. Sekarang ia seorang pebisnis. Pengusaha pomade.

Tapi ia tidak kehilangan karakternya. Ia tidak kehilangan wawasan kebudayaannya. Ia tidak kehilangan apa-apa yang ia yakini benar. Ia tidak kehilangan kecintaannya terhadap Indonesia. Ini bukan sekadar bualan tahi kucing. Ia masih memegang prinsip yang sama. Sejak dulu, ia seorang Indonesia yang bangga. Bukan congkak. Ia menolak gagasan bahwa bangsanya inferior, ia selalu berkeyakinan bahwa menjadi Indonesia bukanlah menjadi medioker. Ia yakin seyakin-yakinnya, dan itu bukan sekadar omongan tahi babi.

“Indonesia tuh pasar pomade yang pertumbuhannya paling tinggi. Sayang banget kalo kebanyakan beli produk luar. Grup Indonesia Pomade Enthusiast itu grup pomade yang anggotanya paling banyak di dunia. Produsen-produsen luar sekarang pada ngemis reseller di sini,” ujarnya, ngakak.

“Bayangin, pernah ada tiga produsen rumahan di Houston kolaborasi. Mereka bikin produk limited edition. Cuma 300. 200-nya orang Indonesia yang beli,” katanya, ngakak lagi. Gila memang.  “Nah, yang kayak-kayak gini nih yang perlu dicerahkan.”

Maka dimulailah perjuangannya di bidang perpomade-an sejak akhir tahun 2014. Setelah setahun sebelumnya dia mencobai berbagai jenis pomade, juga membaca banyak buku tentang itu, dia nekat terjun ke dunia yang tiga tahun yang lalu sama sekali asing baginya.

Tapi ia pembelajar yang cepat, dan tangguh. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia pernah secara serius membaca segala tentang sepakbola dalam waktu relatif singkat lalu mulai menulis. Kini ia mendalami seluk-beluk pomade, saya sama sekali tidak ragu dengan kemampuannya melakukan berbagai studi, percobaan, dan penelitian.

“Kami mulai memikirkan tentang Bung pada akhir tahun 2014. Setelah hampir setahun mulai menggeluti dunia pomade dan mencicipi berbagai merk, baik lokal maupun internasional, kami berpikir untuk membuat produk sendiri.

“Setelah membaca berbagai referensi, ide tersebut mulai dikerjakan pada awal Februari 2015. Lewat riset kecil-kecilan di dapur sederhana, kami mencurahkan antusiasme, waktu, tenaga dan tentu modal, demi menemukan formula produk yang bekerja dengan baik,” tulisnya di blog PomadeBung.

“Berapa kali percobaan, Bang?” tanya saya.

“Ratusan ada kali,” jawabnya. “Rambut gua sempet rusak. Gua nyobain satu formula, jelek, langsung cuci rambut. Bikin baru lagi, gua cobain lagi. Gitu terus, bikin yang lain, cobain, sampe tiga bulanan. Pernah sehari gua harus cuci rambut sampe tiga kali. Kelinci percobaannya rambut gua sendiri.” Kali ini roman mukanya agak serius.

Saya jadi ingat Thomas Alva Edison. Sampai akhirnya berhasil menciptakan lampu penerang untuk peradaban manusia, Edison harus melalui sepuluh ribu lebih percobaann yang gagal. Tapi, kata Edison, “Saya tidak pernah gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang belum pas.”

Saya ingat pula Kolonel Harland Sanders. Yang konon pernah gagal 1009 kali sebelum resep ayam gorengnya benar-benar diterima orang, lalu laku dan menjadi legendaris. Dan yang paling dahsyat, saya ingat pernah membaca di suatu tempat bahwa serial Twilight pernah 14 kali ditolak penerbit. Yawlaaa, kok ya ada yang mau menerbitkan novel vampire alay begitu. Yawlaaa.

“Kenapa Schweinsteigger?” Saya coba alihkan pembicaraan, ia seorang pendukung Manchester United garis keras. Ia terlihat tenang, sama sekali tidak tergeragap mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.

“Kehadirannya di lapangan tengah penting. Setelah Scholes, belum ada lagi yang bisa jadi bos di lapangan tengah Emyu,” katanya. “Justru gua heran sama orang-orang yang nanya kenapa Schweini.” Ia menghisap asap kreteknya dalam-dalam, menghembuskannya, kemudian terkekeh.

“Kenapa Bung?” Kembali ke pomade karyanya.

“Emang ada yang lebih bagus?” Giliran saya yang tertawa.

Ada review bagus dari temen di Solo. Dia bilang, orang mbaca merk ini gak mungkin lemah-lesu. Orang mbacanya pasti pakai tanda seru. Gua suka reviewnya.”

“Ya iyalah. Orang jualan mah pasti seneng kalo dagangannya dipuji.”

Ia cekikikan.

Waktu subuh hampir tiba, dari masjid di dekat rumahnya terdengar suara speaker membangunkan warga.

“Tambah lagi kopinya, Ban,” katanya.

“Nanti aja, Bang. Terus itu Gurindam gimana ceritanya?”

“Gurindam itu pomade medium hold. Daya rekatnya sedang. Itu kan produk pertama. Gua pengen, semua tulisan di kemasan produk gua pake bahasa Indonesia. Makanya gua mikir, apa ya nama varian yang bagus. Akhirnya gua putusin pake ikon budaya aja. Yang pertama: Gurindam.”

“Respons orang-orang gimana?”

“Ya namanya produk baru, pasti kan banyak yang pengen tau. Itu kesempatan gua buat ngasih penjelasan. Pada nanya apaan Gurindam, ya gua jelasin ini nama varian. Di grup Indonesia Pomade Enthusiast, gua juga jelasin pentingnya Gurindam buat Indonesia. Kalo gak ada Gurindam, gak bakal ada Bahasa Indonesia. Sambutannya lumayan.”

Saya manggut-manggut.

“Terus kalo yang Kretek, itu gimana ceritanya?”

“Gara-gara gua kesel sama orang, tuh. Jadi ada orang yang ngampanyain rokok elektrik. Dia ngejelek-njelekkin rokok. Gua bilang, jangan gitulah. Maksud gua, kalo lu kampanye pake pomade, gak perlu juga njelek-njelekin yang gak make pomade. Kalo lu ngampanyein faving, ya gak perlu bilang kretek itu jelek.”

“Apa sih enaknya faving? Kayak ngisep uap batu es.”

“Nah, itu lu njelek-njelekkin juga namanya.”

Saya nyengir kuda.

“Yaudah, kebetulan gua lagi nyari ide nama varian produk kedua, pomade light, gua pake aja nama Kretek.”

“Sambutannya gimana?”

“Di grup anak-anak pomade, gua ceritain fragmen Agus Salim yang ngisep kretek di Buckingham. Pada seneng banget sama cerita itu.”

“Terus, Bang?”

“Ada juga yang nanya emangnya Gurindam sama Kretek itu ikon budaya? Mereka kan taunya ikon budaya yang mainstream, Borobudur, Ondel-ondel, Tari Kecak, gitu-gitu. Ya gua kasihtau: Gurindam itu warisan budaya yang emang udah banyak dilupain, padahal penting banget. Nah, kalo kretek, saking deketnya sama kita sehari-hari, malah gak dianggep budaya.”

Ia terdiam sebentar, mengambil bungkus kreteknya lantas menyalakan sebatang. Setelah dua hisapan, ia beranjak. “Bentar, gua ambilin pomadenya.”

Selang berapa menit, ia muncul dengan empat kaleng bulat. Saya langsung mengambil Bung: Kretek, membuka penutupnya, menghirup aromanya. Wangi cengkeh menguar di hidung saya. Aroma khas kretek.

Oh iya, hampir lupa, perkenalkan: namanya Ahmad Makki.