Sebatang Dulu Ya

Begitulah kira-kira satu kalimat yang kerap kali muncul dikalangan para perokok. Kalimat tersebut mungkin terjadi ketika ada dua orang atau lebih para perokok sedang berkumpul, lalu bersepakat untuk berpindah lokasi nongkrong mereka. Kapan mereka akan bergerak? Nah, sebatang rokoklah yang kemudian menjadi ukuran waktunya.

Begitu juga ceritanya ketika si Amel mengajak si Rio, kekasihnya untuk pulang dari sebuah coffee shop karena merasa sudah mengantuk. Rio yang seorang perokok akan menjawabnya dengan kalimat, “Sebentar sayang ya, sebatang dulu. Sekalian ngabisin kopinya nih.”

Kalimat-kalimat yang menandakan satu batang rokok sebagai sebuah ukuran waktu untuk memulai aktifitas baru, belakangan ini memang cukup kerap terucap dari mulut para perokok. Bahkan untuk mempersingkat kalimat seperti tersebut diatas, mereka juga kerap kali menyingkatnya dalam bentuk akronim.

Misalnya; Sebatman, yang berarti sebatang terus mandi. Sebatbo, sebatang terus bobok. Sebatbut, sebatang terus cabut.

Ucapan seperti ini tentu tak akan dikeluarkan dari mulut para perokok yang mungkin masuk dalam kategori orang tua. Si Mbak Marno tak akan mengatakan sebatman kepada istrinya, Mbah Jumilah. Atau Tante Nia yang tidak akan mengatakan sebatbo kepada Om Roy, yang merasa buru-buru mengajak istrinya tidur. Karena mengantuk.

Kalimat ini mungkin baru muncul beberapa tahun belakangan dikalangan anak muda perkotaan, yang kemudian terus meluas dan lambat laun tanpa mereka sadari, mereka telah menciptakan sebuah satuan ukutan waktu sebagai penanda untuk berpindah dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Kreatif.

Begitulah memang perkumpulan para perokok. Disetiap generasi, mereka kerap kali memiliki berbagai istilah yang menarik yang diambil dari rokok. Pada tahun 90-an cukup terkenal nama-nama merk rokok yang diplesetkan dalam sebuah singkatan. Sedikit tak elok untuk diungkapkan dalam tulisan di sini, tapi jika anda penasaran, silahkan tanyakan kepada orang-orang yang pada tahun 90-an masuk dalam kategori usia anak muda.

Atau juga saling meledek diantara para perokok dengan merk dan jenis rokok yang mereka hisap. “Ah, kayak kuli aja lu ngerokok itu.” “Ah, kayak dukun aja lu ngerokoknya itu.” Saling meledek yang sebenarnya lebih ke arah bercana seperti itu juga pernah ngehits pada jamannya. Namun sekarang sepertinya kedua contoh diatas itu telah hilang.

Generasi muda baru para perokok telah menemukan istilah baru yang terinpirasi dari sebatang rokok. Ya, menjadikan rokok sebagai sebuah penanda ukuran waktu. Mungkin anda yang saat ini tengah membaca tulisan ini juga pernah mengucapkannya, atau mendengar orang lain mengucapkannya.

Seperti juga hal-hal lain dalam sebuah potret sosial kekinian, maka tangan-tangan gatal orang kemudian menjadikan ungkapan tersebut dalam bentuk memey, atau sebuah gambar yang tertera tulisan kecil yang lucu.

Dan begitu juga dalam hal kata sebatang itu. Meme yang mungkin paling lucu adalah ketika ada sebuah pertanyaan orang tua kepada anaknya yang telah dianggap pantas untuk menikah, yang biasanya ditanyakan pada saat kumpul keluarga di hari raya. “Kapan nikah?” Entah karena kesal dengan pertanyaan tersebut yang terus diulang-ulang, maka jawabanya pun cukup nyeleneh. “Ntar lah, sebatang dulu.”

Tak banyak eksplorasi dalam tulisan ini tentang sebatang rokok sebagai satuan ukuran waktu. Saya akhiri saja tulisan ringan ini, karena saya harus buru-buru pergi bertemu dengan kekasih saya yang sudah on the way menuju bioskop. Tapi sebatang dulu lah, palingan dia juga akan lama sampainya karena terkena macet.

(Visited 568 times, 4 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam