Ini Bukan Cafe, Ini Warung Kopi

Dua buah meja digabukan menjadi satu, beberapa bangku diseret, dikumpulkan melingkari meja tersebut. Sebentar kemudian memesan kopi spesial, timun serut, dan ada juga yang sekedar memesan es teh tawar. Selesai memesan, langsung riuh kumpulan orang-orang tersebut dengan berbagai macam pembicaraan.

Tempatnya memang terbilang kecil, hanya berada di sudut sebuah tower apartemen. Tapi bisa dibilang tak pernah sepi dari kunjungan orang. Lebih-lebih lagi kalau jam-jam sepulang kerja. Belum sempat pulang ke rumah, langsung duduk memesan kopi.

Di sisi lain dua orang nampak duduk berhadapan dengan wajah yang serius, mengerutkan dahi. Sebentar mereka serutup kopi hitam pahitnya, sedikit demi sedikit, satu jam tak kunjung habis kopi pahitnya. Lalu dibakarnya rokok kretek tanpa filter. Bernafas dengan lirih, satu tangannya mengusap-usap dahi. Lama berfikirnya, walau hanya sekedar memajukan satu langkah bidak pionnya. Mereka tak terpengaruh dengan bisingnya kanan-kiri, tetap fokus pada papan Hitam-Putih.

Meja sebelahnya orang-orang bercerita dengan semangatnya, kadang tertawa terbahak-bahak. Sebentar berubah pembicaraan soal keseharian mereka dengan topik politik, tapi walau bicara soal negara, tetap ada tawa bahaknya. Kadang menertawakan para elit-elit politik yang perilakunya seperti elit-elit pelawak. Kadang juga bicara soal strategi bagaimana merebut kekuasaan dengan jalur revolusi massa. Tapi tetap diselingi tawa, mungkin menertawakan dirinya sendiri karena selalu gagal melakukan revolusi.

Sementara itu terlihat satu orang yang sibuk sendiri. Ikut dalam perbicangan dan tawa itu, tapi kakinya bergerak-gerak kecil seperti sedang menjahit. Tangannya sibuk menepuk kaki atau bagian tubuh lainnya yang sedang diserbu oleh nyamuk-nyamuk nakal.

Di meja kasir ada sebuah televisi 32′, dua orang beradu sepakbola virtual. Saling meledek dan bahkan menghina klub lawan. Satu gol tercipta dan dirayakan dengan gembira, seolah-olah seperti mencetak gol di lapangan sebenarnya, padahal hanya jempolnya saja yang mencetak gol.

Si pemilik tempat dan asistennya berkeliling dari satu meja ke meja lain. Menyapa dengan ramah setiap pengunjung, kadang ikut serta duduk barang beberapa saat. Ikut campur dalam pembicaraan setiap meja.

Semua orang nampak senang di tempat itu, tak berhenti tertawa dan bicara. Walau masih ada satu-dua orang yang sibuk dengan laptopnya atau tertidur dibangkunya. Jika lapar melanda atau ingin ingin isi ulang es teh tawar, cukup teriak memanggil nama salah satu penyaji.

Beginilah sejatinya warung kopi, dia menjadi tempat berkumpul orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Bukan tempat yang memfasilitasi orang untuk duduk nyaman dalam sofa empuk, namun mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hanya tertawa kecil, tapi bukan dengan teman satu mejanya, tapi dengan smartphonenya.

Kopi Pancong namanya. Mampirlah dan bergabunglah dengan keriuhan khas warung kopi. Cicipilah kopi gayo trubruknya. Tak semahal harga cafe tiap gelas koinya, tapi nikmatnya melebihi harga cafe. Tower Gaharu, apartemen Kalibata City.

Semua boleh kau rampas, tapi tidak secangkir peradaban dalam genggaman ini