Buruh Gudang Tembakau Lombok

Awal bulan ini saya berkesempatan pergi menjelajahi pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Satu hari saya menjelajahi Lombok, khusus untuk melihat bagaimana pertembakauan di Lombok. Tak sendiri, sekitar 20 orang dari berbagai daerah, rombongan yang ikut serta dalam jelajah tembakau Lombok.

Melihat bagaimana kehidupan petani tembakau bagi saya sudah cukup sering. Mereka adalah golongan petani yang bisa dikatakan cukup sejahtera, tanpa harus menjadi tuan tanah. Dengan lahan yang dia miliki atau dengan lahan sewa yang ditanami tembakau, mereka sudah bisa hidup sejahtera. Seperti halnya dengan petani-petani tembakau diberbagai daerah yang pernah saya kunjungi.

Sedangkan kesempatan berkunjung ke gudang Tembakau adalah untuk pertama kalinya. Tentu tak boleh saya lewatkan bagaimana suasana gudang yang juga menjadi tempat transaksi jual beli antara para petani tembakau dengan industri. Selain pula mengetahui seperti apa kehidupan para buruh yang bekerja di gudang tersebut.

Dari bagian depan saya lihat proses jual beli tembakau, yang kemudian oleh buruh gudang di bawa ke satu tempat untuk dilihat dan disortir berbagai kotoran dalam tembakau tersebut, serta diikat dalam beberapa helai daun tembakau kering. Hilir mudik para buruh di gudang itu, jumlahnya cukup banyak, mungkin sekitar 200 sampai 300 an orang buruh yang bekerja di gudang tersebut. Buruh laki-laki tak dominan di sana, mungkin setengahnya adalah buruh perempuan.

Saya mencari-cari buruh yang bisa saya ajak bicara, namun rupanya mereka cukup sibuk sehingga saya enggan bertanya-tanya karena takut mengganggu pekerjaan mereka. Sampai akhirnya di bagian paling akhir dari proses di gudang tersebut, saya melihat dua orang perempuan muda yang terlihat tak terlalu sibuk. Langsung saja saya hampiri dan beri bertubi-tubi pertanyaan, sampai saya lupa untuk berkenalan dengan mereka.

Dari perbincangan kami, saya mendapatkan beberapa hal yang cukup menarik. Mereka yang bekerja di gudang tersebut, rata-rata hanya bekerja selama 3 sampai 4 bulan saja, tepat dimana musim panen tembakau tiba dan transaksi jual beli tembakau antara petani dan industri setiap harinya terjadi.

Mereka mulai bekerja pada pukul 07.30 pagi sampai dengan 13.30 siang. Para buruh bukan saja hanya dari penduduk sekitar gudang, namun juga datang dari wilayah lain yang sengaja datang memang untuk bekeja di gudang tersebut.

Dan nilai upah yang mereka dapatkan ternyata cukup lumayan. Dalam sehari mereka diberi upah sebesar 51.500 rupiah, dua kali lipat dari yang mereka dapatkan ketika bekerja di tempat lain. Kedua perempuan tersebut diluar musim panen tembakau, mereka bekerja di pengepul plastik bekas yang setiap harinya mereka dihargai 25.000 rupiah.

Mereka selalu senang ketika musim panen tiba, karena tembakau tidak hanya memberikan rejeki yang lebih bagi para petani tembakau, namun juga memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para buruh di gudang tembakau. Tentu juga bagi warga sekitar yang kemudian membuka usaha berdagang makanan bagi para buruh itu.

Sayangnya musim panen tembakau hanya berlangsung sekali dalam satu tahun dan selama 3 sampai 4 bulan saja. Andaikan musim panen tembakau berlangsung 3 kali dalam satu tahun, niscaya mereka akan bekerja terus setiap harinya di gudang itu. Dan karena hanya berlangsung dalam waktu yang singkat, status kerja mereka pun bukan menjadi buruh tetap, tapi buruh harian lepas. Mungkin suatu saat ada sebuah teknologi yang memungkinkan tembakau ditanam di musim penghujan sehingga produksi pertanian tembakau bisa berlangsung setiap tahun. Semoga.

Jadi bisa dikatakan bahwa para buruh dapat hidup lebih sejahtera selama 3 sampai 4 bulan pada masa panen tembakau. Bulan selebihnya mereka harus berjibaku kembali dengan kehidupan yang tak lebih baik ketika bekerja di luar gudang tembakau.

Pembicaraan saya kemudian terputus ketika ada dua orang perempuan lain di belakang saya yang hendak berbisik-bisik dan tertawa-tawa kecil. Ada Syamsul diantara kedua perempuan itu. Syamsul adalah salah satu petani tembakau yang berusia cukup muda. Lalu kami diperkenalkan oleh Syamsul dan sempat berfoto bersama.

Tak sempat juga saya melanjutkan perbincangan dengan mereka, karena tiba-tiba sebuah bel dengan suara keras dan panjang berbunyi, tanda waktunya istirahat makan siang. Seketika saya langsung ditinggalkan oleh mereka, yang bergegas menuju pintu keluar untuk istirahat bersama dengan ratusan buruh lainnya.

Sementara rombongan bis kami juga harus bergerak menuju tempat yang lain. Saya berpisah dengan para buruh perempuan muda tersebut, tanpa sempat bertukar nomor telepon atau akun Facebooknya. Tak apalah, semoga lain waktu saya berkesempatan kembali bersua dengan mereka.

(Visited 184 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam