Menyimpan Mbako dalam Slepen

Coba Anda ketikkan kata slepen ke dalam kotak mesin penerjemah google. Di situ akan secara otomatis diarah-terjemahkan sebagai kata yang berasal dari bahasa Belanda. Yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, selepen akan berarti gandengan. Lain lagi jika Anda dating ke sentra penjual perabot dari anyaman di pasar Beringharjo. Tanyalah salah seorang penjual di sana dimana kios yang menjual slepan, maka anda akan menemukan kios penjual wadah tembakau.

Ya, pada masyarakat Jawa benda serupa dompet dari anyaman pandan itu lazim digunakan sebagai wadah penyimpan mbako untuk tingwe (melinting dhewe). Kebiasaan menyimpan mbako ke dalam slepen ini memang identik dengan kebiasaan perokok lanjut usia di desa-desa di Jawa. Kata slepen ini adalah jenis kata anomatope (sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkan), seperti juga sebutan kretek dan dangdut.

Lalu kenapa slepen identik dengan bawaan perokok lajut usia yang gemar bertingwe ria? Berdasar cerita KH. Saifuddin zuhri dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren, Ia mengungkapkan pengalaman masa kecilnya dan orang-orang yang dikaguminya. Terdapat dalam cerita beliau tentang keguyuban guru-gurunya dalam mengkonsumsi tembakau, termasuk detil tentang slepen dan isinya yang kerap dibawa para kiyai di berbagai kesempatan.

Pukul 12 waktu Zuhur pengajian selesai. Minuman dihidangkan. Masing-masing kiai cepat-cepat mengeluarkan slepen dari kantong bajunya. Slepen itu sejenis kantong penyimpan tembakau yang dibuat dari anyaman daun pandan halus dengan ukuran rata-rata 15x10cm. Di dalamnya disimpan kecuali tembakau, daun jagung keying dan lain-lain perlengkapan merokok komplit. Jangan lupa, rokok orang Banyumas, tanpa pakai kemenyan dan klembak, bukan rokok. Kiai Raden Iskandar dari Kiai Akhmad Bunyamin masing-masing mengeluarkan slepennya komplit dengan klembaknya sebesar tinju, maklum bonggol klembak. Kiai Akhmad Syatibi biasanya melinting rokoknya ukuran cabe rawit saja, tapi Kiai Zuhdi ukuran rokoknya sebesar ibu jari. Kalau ditegur orang rokoknya kok gede amat kiai, maka kiai yang satu ini (orangnya kecil tapi suaranya menggeledak) kontan menjawab: “Buat pukul setan !”

Menilik ciri kebiasaan para sepuh di atas, slepen memang befungsi sebagai wadah penyimpan keperluan untuk tingwe. Mulai dari menyimpan mbako, kertas sigaret, klembak, kemenyan, juga wur. Tercermin suatu nilai kedisiplinan pada mereka akan kebiasaan tersebut. Di daerah Banyumas dan Kedu ada sebutan lain untuk rokok campuran klembak-menyan, Siong disebutnya. Aromanya demikian harum jika dibakar. Pada tahun 1932 tercatat ada 60 perusahaan yag memproduksi rokok jenis itu.

Pada penceritaan selanjutnya beliau mengungkap pula detil tempat mbako (tlekem) yang biasa digunakan golongan priyai yang terbuat dari logam. Mungkin semacam stainless stell hari ini. Termasuk pula jenis mbako yang biasa dikonsumsi golongan priyai, yakni jenis shag warning.

Ustadz Mursyid juga keluarkan slepennya dari kantong bajunya. Orang mengira tentu beliau akan keluarkan tlekem, yaitu sejenis tempat tembakau berupa kotak kecil biasanya terbuat dari logam putih, suatu kebiasaan golongan priayi jika menyimpan perlengkapan rokoknya. Tetapi tidak ! Ustadz Mursyid tidak menggunakan tlekem. Padahal orang Sukaraja dan Banyumas pada umunya memandang Ustadz ini golongan priyai atau cabang atas, merokok tembakau “shag warning”, atau kalau tembakau biasa tidak pakai kemenyan dan klembak, tetapi cengkeh. Di dalam tlekem ini tersimpan juga gunting kecil mungil alat untuk memotong cengkeh kecil-kecil. Ustadz Mursyid tidak tembakau “warning”, tapi tembakau biasa, tembakau Kendal atau Kedu. Tidak juga cengkeh, tetapi kemenyan dan klembak komplit.

Dari penceritaan di atas maka terpujilah kebiasaan para sepuh yang bersetia menjaga ritusnya (melinting dan meracik rokoknya sendiri), mereka tidak mengenal istilah saling bully atau saling menjelekkan kesenangan masing-masing. Guyonan renyah berkelindan terasa betul keguyubannya. Kita, termasuk saya, dengan segala akses kemudahan hari ini, barangkali adalah sedikit orang yang mengenal atau akrab dengan ketrampilan melinting seperti para perokok lanjut usia di Jawa. Dan memang zaman yang menutut efektifitas waktu pun tidak lagi mendukung.

Syukurlah, jika Anda sudah memiliki buku Ensiklopedia Kretek. Buku itu banyak menjawab keingintahuan kita akan khazanah budaya kretek. Di situ jika Anda buka halaman 172 terjelaskan secara singkat apa itu slepen, kawul, watu lintang, perangkat-perangkat yang menyertai kebiasaan para perokok tingwe, dan ternyata kebiasaan menyelipkan slepen di pinggang, di balik lipatan (bebetan) sarung atau saku celana adalah pemandangan umum di kalangan para sepuh penikmat tingwe. Berkebalikan dengan kebiasaan Ustdaz Mursyid atau Kiai Raden Iskandar yang menaruh slepen di saku baju.

Sebagai penutup, ada satu pertanyaan untuk para penghayat kretek. Tidakkah Anda berminat menjadikan slepen wadah pelindung bungkus rokok yang ada gambar pesan sponsor kesehatannya itu ? Atau biarlah slepen menjadi artefak suatu bangsa yang pembenaran klisenya, “nggak praktis ah, toh kita sudah terbiasa dengan gambar horor itu.” Boleh jadi slepen dan para pengrajinnya memang ditakdirkan bernasib sama dengan produsen kretek rumahan yang terancam kepunahan.

(Visited 1,109 times, 16 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam