“Seluruh sumber masalah di dunia ini bersumber dari orang-orang bodoh dan fanatik, yang sedemikian yakin dengan diri mereka sendiri. Sebaliknya, orang-orang “bijak” selalu dipenuhi keraguan!”  Bertrand Russell.

Bangsa ini adalah bangsa fanatik. Saking fanatiknya terhadap sesuatu, seseorang berani dengan suka rela mempertaruhkan dirinya untuk membela mati-matian apa yang telah diyakini. Termasuk dalam menyikapi rokok tak berdosa itu.

Jika ditanya perihal bahaya rokok, para perokok tentu akan berkata “aku rokok, aku ora opo-opo” (saya merokok, saya tidak apa-apa), sebaliknya orang-orang yang mulai membenci rokok lengkap dengan perokoknya akan berujar “kowe rokok, kowe bongko!” (kamu merokok, kamu mati). Perdebatan mengenai barang nikmat ini tak akan pernah ada habisnya, mungkin sampai nanti saat Malaikat Israfil meniup sangkakala. Bahkan kalau bisa pun, di alam kehidupan selanjutnya pedebatan ini akan terus berlanjut.

Seharusnya kita mulai menyadari, bahwa rokok tak ubahnya sebuah alat, laiknya pisau. Pisau itu tergantung bagaimana memfungsikannya, kalau pisau dipegang tukang masak tentu akan dipergunakan untuk mengiris daging atau bahan masakan. Namun, apabila yang kebetulan memegang perampok, bisa jadi pisau itu berguna untuk melukai seseorang. Dan rokok, terkadang digunakan orang-orang tak bertanggungjawab untuk menyundut temannya.

Keluar dari konteks perdebatan, ternyata rokok bisa dijadikan alat untuk mengolah batin jiwa manusia. Barangkali kita perlu menyimak jawaban Cak Nun saat ditanya pengikutnya sewaktu pengajian di Malang pada akhir Agustus silam. Meskipun beda konteks, saya kira ada benang merah yang bisa diambil. Saat itu jamaahnya bertanya, “Cak, dokter menganjurkan manusia untuk tidur 6-8 jam  sehari. Nah, bagi orang yang suka beribadah malam, tentu tidur selama itu tidak akan tercapai. Bagaimana menurut Cak Nun?”

Sebagai dokter spiritual umat yang tak tau arah di negeri ini, Cak Nun memiliki jawaban dan resep-resep jitu di luar dan tidak akan mungkin di terima nalar medis. “Tidur cukup itu memang perlu. Tapi tidur itu ada dua; kuantitatif dan kualitatif. Kalau tidur kuantitatif itu ya waktu yang dianjurkan dokter itu. Kalau kualitatif ya tidurnya ga usah lama-lama, tidur lima menit memiliki efektifitas seperti tidur 6 jam. Asalkan kamu benar-benar nyumelehke semua badanmu kepada Allah. Latihan atur pernafasan, kalau nyedot ambekan sertakan illullah dan kalau mengeluarkan nafas sertakan batin laailaha. Udah begitu aja, jangan nuruti anjuran dokter!”

Statement itu bukan berarti Cak Nun anti dokter. Cak Nun itu kalau sakit ya perginya ke dokter. Artinya, kalau ngomongin kesehatan tergantung bagaimana kita berpikir mengenai badan kita sendiri. Meminjam bahasanya Cak Nun, badanmu adalah doktermu. Jadi, bagi yang belum yakin, maka yakinlah bahwa segala penyakit adalah diri kita sendiri yang dapat mengalahkannya. Jadi kalaupun “mereka” bilang merokok adalah menghisap racun, maka teruslah merokok agar mereka tahu kalau kekuatan racun rokok tak melebihi kekuatan anti bodymu.

Selain itu, menilik perkataan Cak Nun tersebut, perokok yang doyan wirid atau dzikiran patut berbahagia. Apa pasal? Selama ini, orang wirid dan dzikir identik berdiam di masjid atau tempat-tempat sepi yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia, dan tasbih menjadi alat populer untuk menghitung. Dan gaya seperti itu sudah nggak kekinian banget.

Siapa bilang juga, ngopi dan ngudud adalah perbuatan yang menjauhkan manusia dari Tuhannya. Banyak kaum tongkrongan yang sudah memraktekkan dhawuh Cak Nun tersebut, khususnya jamaah Maiyahannya Cak Nun. Pola bernafas sambil berdzikir dikombinasikan dengan merokok, menjadi rutinitas dzikir baru yang mengasyikkan. Para perokok tak perlu mencari masjid untuk menyebut nama Tuhannya, karena perokok paham betul bahwa masjid itu tempat sujud, dan semua tempat (termasuk warung kopi) adalah tempat sujud yang tersamarkan.

Jadi saat menghisap para perokok meresapi kata illullah dan saat menghempaskan asap laailaha menghentak bersama penyakit-penyakit dalam tubuh. Memang saya sendiri tidak bisa membuktikan manfaat kegiatan ini secara medis. Yang pasti, hati perokok yang mengamalkan ini akan terasa tenang, sejuk dan dijaukan dari yang buruk.

Dan berdzikir menggunakan rokok adalah pertanda orang tersebut benar-benar ikhlas menyebut nama Allah. Lihat saja, banyak orang hanya mengejar jumlah saat menyebut nama penciptanya sendiri. Semakin banyak jumlahnya, maka merasa banggalah mereka, sehingga dengan seenak udelnya mengafirkan dan menyesatkan orang lain.

Beda cerita dengan para perokok yang memanfaatkan kegitan rokoknya sebagai ajang olah jiwa, mereka menyadari betul, bahwa saat berdzikir bukan seberapa banyak yang mampu diucapkan, melainkan seberapa ikhlasnya diri saat menyebut nama penciptanya. Dan ini dibenarkan Gus Dur, bahwa sebenarnya yang amatir dalam berislam adalah mereka yang masih menggunakan itung-itungan untuk berbuat baik. Maka, marilah merokok sambil berdzikir agar jiwa dan bangsa ini menjadi lebih baik.