Saat masih kecil, saya sempat melihat proses penanaman tembakau hingga siap untuk dirokok, atau biasa disebut rokok “tingwe” (linting dhewe). Di telaga yang tidak jauh dari rumah, jika musim kemarau tiba dan air kering, telaga berubah menjadi tempat menanam tembakau. Perawatannya memang sedikit manja. Ketika menanam, tanah ditutup dengan daun jati kering. Setiap tengah hari pulang sekolah, saya melihat laki-laki tua—yang merupakan kakek teman saya, menyirami tembakau tersebut.

Setelah dipanen, tembakau dirajang tipis-tipis dengan alat yang sangat sederhana berbahan bambu. Pisau yang digunakan sangat besar dan bisa dipastikan sangat tajam. Ketika semuanya sudah beres, proses selanjutnya adalah menjemur tembakau rajangan di atas papan anyaman bambu yang cukup lebar. Untuk menunggu kering, waktu yang diperlukan tidak tentu, karena tergantung dengan cuaca panas.

Tembakau yang dihasilkan tidak begitu banyak dan memang tidak untuk dijual, hanya dinikmati sendiri. Saya dan teman saya sering iseng mengambil kertas rokok, dan menjilati bagian pinggir-pinggirnya yang manis.

Seiringi berjalannya waktu dan setelah kakek teman saya meninggal, sudah tidak ada lagi yang memproses tembakau secara tradisional. Telaga yang dahulunya dijadikan lahan sudah direnovasi sehingga tidak bisa lagi ditanami.

Meski begitu, pertautan hidup saya dengan tembakau tidak berhenti begitu saja. Rokok adalah barang yang tidak asing dalam keluarga saya. Bapak saya merokok. Dulu rokoknya yang agak berat, kretek tak berfilter. Mungkin karena semakin tua, jadi sering pusing. Jadi sekarang memilih rokok yang mild.

Sementara itu, rokok tingwe sampai saat ini tetap mempunyai penikmatnya tersendiri. Mereka adalah simbah-simbah yang merasa tidak puas dengan rokok buatan pabrik, dan pemuda yang sedang kere. Setidaknya, tingwe menyelamatkan jiwa-jiwa yang tidak terpuaskan, juga menyelamatkan kantong pemuda yang tetap ingin menikmati rokok dengan uang cekak.

Setiap perkumpulan, orang-orang juga tidak terlepas dari rokok. Baik tua maupun muda. Ketika ronda, hajatan, main kartu, rapat, dan sebagainya. Hal ini sudah lumrah dan tidak begitu dipermasalahkan. Karena, bagi lingkungan kami, saling menghargai adalah hal yang penting. Yang merokok tidak mengganggu yang bukan perokok, begitu pun sebaliknya.