Dilematika Buruh Kantoran Terhadap Ruang Rerokok

Sebagai buruh kantoran, saya harus bekerja sekitar 8 jam di dalam ruangan bersama teman-teman buruh kantoran lainnya. Di dalam ruangan ini, saya harus belajar berdamai dengan rekan kerja terkait kebutuhan dan kebiasaan masing-masing. Misalkan, saya yang kerap mendengarkan musik ketika bekerja tidak bisa menyetel musik tanpa earphone agar tidak mengganggu kerja mereka.

Begitu pun soal rokok. Saya, sekalipun tidak ada peringatan dilarang merokok, merasa sungkan untuk merokok di ruangan yang penuh  orang. Ini persoalan saya bisa menghargai rekan kerja saya yang tidak merokok. Meski tetap saja saya harus kebingungan bisa merokok dimana saat bekerja.

Di kantor saya tidak tersedia ruang merokok. Ya memang, perusahaan saya bekerja tidaklah begitu besar. Tapi tetap saja agak repot kalau ingin merokok saya harus melakukannya di luar gedung kantor. Di sana pun, tiada tempat yang benar-benar bisa disebut sebagai tempat merokok. Palingan hanya pada jam istirahat saya bisa menikmati rokok di warung-warung yang ada di sekitar kantor saya.

Sebagai seorang perokok, tentu saja saya menginginkan keberadaan sebuah ruang di dalam kantor yang memperbolehkan kami untuk sekadar melepas penat dengan rokok. Semacam relaksasi kecil di tengah tumpukan pekerjaan yang tiada kenal kasihan lah. Seperti teman-teman lainnya yang merelaksasi diri dengan ngemil serta minum kopi atau teh. Biar pekerjaan bisa kami selesaikan.

Bukannya perokok ingin dimanja, tapi alangkah senangnya saya apabila di tengah keruwetan kerja, mengalami stuck, bisa pergi sebentar untuk merokok barang sebatang di dekat-dekat ruang kerja. Kalaupun mau dipaksakan, bisa saja saya merokok di luar gedung. Tapi ya agak gimana kalau untuk sekadar merokok saja harus pergi sejauh itu.

Daripada saya merokok di sembarang tempat lalu mengganggu teman-teman, alangkah lebih baiknya jika disediakan sebuah ruang, yang nggak perlu terlalu besar, untuk saya dan teman-teman bisa sekadar meringankan beban pikiran dengan merokok. Apabila itu bisa kami lakukan, toh pekerjaan kami akan menjadi lebih baik ketimbang harus memaksakan dan hasil pekerjaan jadi tidak memuaskan.

Meskipun agak sulit, tapi saya masih memimpikan hal tersebut agar bisa terlaksana. Kesadaran banyak orang tentang arti pentingnya ruang merokok agar tidak mengganggu para karyawan yang tidak merokok, juga tetap mengakomodir kami agar bisa tetap merokok. Semoga segera bisa terlaksana.

(Visited 140 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam