Setelah melewati masa panen yang bagus tahun lalu, petani tembakau harus bersiap menghadapi musim tanam baru dengan cuaca yang tidak bersahabat. Maklum, La Nina adalah kondisi yang harus dihadapi petani tembakau setelah begitu dibantu oleh cuaca bersahabat dari El Nino.

El Nino adalah kondisi cuaca yang gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut. Pada fenomena cuaca ini, curah hujan menjadi minim akibat suhu udara yang menghambat pembentukan awan hujan. Karenanya kondisi cuaca akan menjadi sangat kering.

Untuk tembakau, kondisi cucaca seperti saat El Nino itulah yang cocok dengan tanaman ini. Cuaca yang benar-benar kering serta curah hujan yang sangat rendah adalah kondisi cuaca yang dibutuhkan tembakau untuk menghasilkan daun-daun terbaik.

Karenanya, tahun lalu adalah salah satu masa panen terbaik yang pernah dialami petani tembakau. Harga tinggi didapatkan para petani, tembakau yang katanya murah itu dibayar tinggi oleh pabrikan yang membeli. Bahkan di Temanggung, sebuah rekor untuk pembelian dengan harga tertinggi tercipta. Pembelian tembakau Srinthil yang dilakukan Perusahaan Gudang Garam dengan nilai transaksi mencapai Rp 1 juta perkilonya menjadi rekor harga tembakau tertinggi.

Tahun lalu, rata-rata harga tembakau di Indonesia naik hingga 30 persen. Harga terendah pun ada di kisaran Rp 36 ribu sampai Rp 40 ribu. Itu untuk tembakau dengan kualitas yang biasa. Tembakau dengan kualitas bagus tentu memiliki harga yang berbeda lagi.

Namun semua itu hanya ada saat El Nino berlangsung. Mengingat La Nina adalah fenomena cuaca yang sudah diprediksi bakal terjadi setelah El Nino berlangsung, maka petani tembakau harus mempersiapkan diri buat musim yang kurang baik.

Pada masa La Nina, femomena cuaca yang terjadi akan berbanding terbalik ketimbang masa El Nino. fenomena La Nina akan memperparah musim hujan yang terjadi di Indonesia karena intensitas curah hujan akan semakin meningkat.

Ancaman La Nina bagi Indonesia bukan hanya banjir bandang yang dapat melanda, namun mengancam produksi sejumlah komoditas seperti tembakau yang membutuhkan curah hujan minim untuk proses produksinya. Padahal, tembakau adalah sumber penghidupan utama bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Dalam hal ini, pemerintah harusnya mengambil beberapa kebijakan untuk melindungi para petani tembakau dari ancaman jeleknya kualitas tembakau juga ancaman gagal panen. Karena, produksi tembakau harus tetap berjalan, minimal pemerintah dapat memberikan penyuluhan dan bantuan untuk petani sebelum masuk masa panen.

Masa panen tembakau sendiri berkisar pada bulan Mei hingga panen raya di bulan September. Dimulai menjelang musim kemarau dan berakhir menjelang musim penghujan. Sudah tepat sebenarnya, hanya karena ada fenomena La Nina inilah curah hujan bakal terus tinggi sepanjang tahun.

Jangan sampai, keberadaan La Nina menyebabkan sulit hidup para petani tembakau. Dan yang lebih parah lagi, jangan sampai kesulitan petani pada musim tanam tahun ini malah dijadikan bahan pemberitaan negatif soal tembakau. Bukannya membantu petani, malah mencaci.