Sebuah Legenda yang Melintasi Waktu dan Benua  

Ia telah melintasi waktu, melintasi samudera dan benua agar dapat dinikmati oleh bangsa lain di Eropa. Setiap lembaran daun hijau yang lebar itu, memang dikenal mempunyai kualitas yang sangat baik. Tak heran jika kemudian ia digunakan sebagai pembungkus bagi cerutu-cerutu nomor satu. Tembakau Deli.

Proses panjang dari penanaman sampai dengan pasca panen melalui pengawasan yang baik membuat kualitas tembakau yang diproduksi oleh Perusahaan Terbatas Perkebunan Nasional (PTPN) II ini menjadi cukup baik. Misalkan saja pada proses penyaringan pasca panen, dimana lembaran daun tembakau tersebut sampai dijaga agar tidak robek. Sehingga lembaran tembakau yang telah melalui proses penyaringan persis seperti lembaran daun tembakau ketika baru dipetik, utuh.

Deli sendiri, sebagai sebuah perkebunan besar tembakau telah direncanakan dengan matang oleh pemerintah kolonial Belanda pada kisaran tahun 1830-1870an. Pada saat itu pula, tembakau menjadi salah satu komoditi unggulan di Eropa dan merokok menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Eropa. Tak menyenangkan memang jika mendengar bagaimana perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia yang dipaksa bekerja di perkebunan tembakau Deli.

Tembakau Deli atau kerap disebut Jacobus Nienhuys Deli Maatschappij, diambil dari nama Jacobus Nienhuys. Salah satu pegawai Firma J.F Van Leeuwen yang saat awal mula Belanda membuka perkebunan tembakau, merasa yakin tanah Deli sangat cocok ditanami oleh Tembakau. Dengan modal yang terbatas dia memulai pengelolaan dari perkebunan kecil tembakau miliknya sendiri.

Sejak saat itu perkebunan tembakau Deli menjadi semakin luas. Dari berbagai literatur seperti yang pernah dituliskan oleh Jan Breman dalam buku berjudul Menjinakkan Sang Kuli, pada 1873 jumlah kebun tembakau baru 13 kebun dan pada 1876 menjadi 40 kebun. Ann Laura Stoler dalam bukunya yang berjudul Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979, mencatat terdapat 179 perkebunan tembakau besar dan kecil tumbuh di Sumatera Timur pada tahun 1889.

Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia kemudian menasionalisasi perkebunan tersebut dari tangan Belanda. Dan pada tahun 1950-an, perkebunan tembakau Deli secara resmi dikelola oleh pemerintah Indonesia melalui PTP IX. Tahun 1996, pemerintah menggabungkan PTP IX dan PTP II. Setelah merger dan berubah nama menjadi PTPN II, kantor pusat ditetapkan di Tanjung Morawa, Deli Serdang.

Pengakuan atas kualitas tersebutlah yang membuat perusahaan tembakau yang bermarkas di Bremen, Jerman, menjadi pelanggan setia dari tembakau Deli, Sumatera Utara. Hellmering, Köhne & Co, menyebut tembakau Deli sebagai tembakau terbaik di dunia. Perpaduan antara benih, jenis tanah, dan iklim di daerah Deli, telah menumbuhkan tembakau yang bermutu tinggi. Yang tentunya berimbas pada nilai jual yang juga cukup tinggi, mencapai 150 Euro per kilogram, atau pada kisaran 2.250.000 juta.

Hubungan dagang yang sudah terbangun 120 tahun lamanya antara Deli dengan Bremen, membuat relasi kedua kota tersebut menjadi sangat erat. Memang, Hellmering, Köhne & Co tak hanya membeli tembakau dari Deli saja, tembakau Besuki dari Jember, Jawa Timur juga salah satu favorit dari perusahaan tersebut. Namun juga diakui bahwa cerutu yang diberbahan baku tembakau Deli telah menjadi produk yang ekslusif di Jerman.

Rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur maritim di Indonesia serta rencana membangun 24 pelabuhan baru telah memikat investasi dari kota Bremen untuk ambil bagian. Bahkan salah seorang Menteri Urusan Ekonomi, Tenaga Kerja dan Pelabuhan, dari negara bagian Bremen, Martin Gonthner, secara langsung datang ke Indonesia pada 5 November 2014 lalu.

Pelabuhan Bremen merupakan pelabuhan ke-4 terbesar di Eropa dan menjadi daerah industri untuk produksi kendaraan Mercedes Benz Daimler AG terbesar ke-2 untuk seri C-Class dan tempat produksi sayap pesawat Airbus. Namun tentu minat tersebut tak bisa dilepaskan dari hubungan dagang yang erat dalam urusan pertembakauan. Karena selama kunjungannya di Indonesia, ia tak lupa untuk menyempatkan diri berjalan-jalan ke Sumatera dan Jember.

Tembakau Deli juga telah melewati pasang surut hasil produksi dan jumlah perdagangannya. Namun hingga kini tembakau Deli telah menjadi legenda Dunia. Pada saat ini cerutu memang telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dari masyarakat dunia, tak lagi hanya masyarakat Eropa. Di Indonesia berbagai komunitas pecinta cerutu juga terus tumbuh dan meluas.

Menyium dahulu batang cerutu untuk menikmati harumnya, membasahi bibirnya sebelum membakar ujung cerutu. Menghisapnya sampai di mulut lalu asapnya dikumur untuk merasakan nikmatnya. Sembari memejamkan mata membuang asapnya dan membayangkan melakukan itu di tengah kebun tembakau Deli.

(Visited 230 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam