Mungkin sedikit dari kita yang tahu kalau seorang Affandi, mantan pemimpin pusat Lekra bagian seni rupa, adalah penggemar tembakau garis keras. Sang seniman sendiri pernah diabadikan dalam perangko seri Seniman Indonesia tahun 1997. Maestro seni lukis Indonesia yang saat muda pernah bekerja sebagai tukang sobek karcis juga pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung pada masa pra kemerdekaaan. Pekerjaan itu tidak lama digelutinya, karena ia lebih tertarik pada bidang seni lukis.

Begawan yang gemar menyulut rokoknya dengan pipa ini tentu akan melontarkan jawaban serupa jika dulu kita punya kesempatan menanyainya perihal kenapa dia melukis. ”Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.” Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Dan Affandi juga bukan satu-satunya pelukis yang diabadikan dalam seri perangko Seniman Indonesia.

Selain Afandi, ada juga Sindoedarsono Sudjojono yang dijuluki Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Sebagai seniman pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Dalam karya-karyanya ia biasa menulis namanya dengan S. Sudjojono. Bapaknya adalah seorang mantri kesehatan di perkebunan karet di Kisaran, Sumatera Utara. Pada masa sekolah, dari seorang bapak angkatnya yang bekerja sebagai guru HIS pada 1925, Sudjojono kemudian mendapat panggilan Djon.

Djon sering mengecam Basoeki Abdoellah sebagai seniman yang tidak nasionalis, karena hanya melukis keindahan Indonesia sekadar untuk memenuhi selera pasar turis. Dua pelukis ini kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan. Meski pada akhirnya didamaikan oleh Ciputra, seorang pengusaha yang juga penyuka seni rupa, pada sebuah pameran bersama Affandi dan Basoeki Abdoellah di Pasar Seni Ancol. Pada seri perangko Seniman Indonesia foto S. Sudjojono tampak berdiri gagah dengan cangklongnya. Yang entah di masa datang apakah masih ada seri perangko yang menampakkan sosok bercangklong seperti S. Sudjojono ini. Sementara kita sama-sama tahu,  semua tayangan di televisi sekarang mengharamkan adanya properti yang berhubungan dengan tembakau.

Oiya, kebetulan kemarin, persisnya pada Sabtu malam masih dalam suasana Imlek. Di salah satu stasiun televisi ada tayangan FTV yang mengangkat cerita tentang Bakso Si Lukman, dimana ada salah satu pemerannya yang dihidup-hidupkan sebagai leluhur Lukman dan tampak menggigit cangklong. Absurdnya pada pemeranan lelaki itu, cangklong terkesan ornamen pelengkap belaka, sama sekali tak mengeluarkan asap tembakau. Itu pun tidak konsisten sampai akhir ditampakkan kebiasaannya menggigit cangklong. Tidak ada kausalitas adegan yang menginformasikan keberadaan maupun ketiadaan cangklong itu.

Kalau boleh dibilang properti selewat itu menjadi semacam kegenitan yang tanggung, alias setengah-setengah. Genit kok setengah-setengah. Apakah demikian wajah produk budaya di Negeri kita hari ini ?  Ya tentu tidak semua. Seni rupa adalah pengecualiannya. Dari gambaran sekelumit dua maestro yang punya kesenangan yang sama dalam menghisap tembakau itu, bisa kita petik nilai-nilai perjalanan berkaryanya. Dan terbukti karya-karyanya tetap hidup serta dikenang sepanjang masa, tanpa harus dijadi-jadikan atau dihidup-hidupkan.