Hidup Para Legenda Rock n Roll

Beberapa hari lalu saya menerjemahkan artikel panjang tentang Eddie Van Halen. Dia sosok penting dalam dunia rock n roll. Mungkin salah satu gitaris dengan pengaruh terbesar kepada generasi setelahnya, tentu setelah Jimi Hendrix.

Ada salah satu bagian yang menarik dari kisah itu. Yakni ketika Eddie bercerita tentang kanker lidah yang ia derita. Kanker lidah itu membuat lidahnya harus dipotong sekira 1/3 bagian. Saya sempat menduga kalau dia akan menyalahkan rokok sebagai penyebab kankernya, apalagi dia mantan perokok berat. Ternyata saya salah.

“Aku menggunakan pick logam –kuningan dan tembaga– yang selalu aku gigit di bibir. Tepat pada bagian di mana aku kena kanker,” katanya.

“Ditambah, aku benar-benar hidup dalam studio rekaman yang dipenuhi oleh energi elektromagnetis. Itu teorinya. Maksudku begini. Aku memang merokok dan banyak ngedrugs. Tapi paru-paruku bersih. Itu memang teoriku, tapi dokter bilang bisa jadi pick logam dan energi elektromagnetis itu yang menyebabkan kankerku.”

Saya sedikit terkejut tentang cara Eddie memandang kanker dan juga rokok. Dia berhasil berpikir dengan jernih, bahwa rokok bukanlah penyebab tunggal kanker. Dia, yang menghabiskan besar waktunya berada dalam studio, beranggapan bahwa pick gitar dan medan elektromagnetis-lah yang punya andil sebagai penyebab kanker. Hebatnya lagi, mungkin dia juga ikut takjub, dokternya bilang kalau paru-parunya bersih.

Dan Eddie, gitaris dahsyat itu, masih hidup sehat hingga sekarang. Di umur yang ke 61 tahun ini, dia masih aktif tur keliling dunia.

Eddie bukan satu-satunya musisi perokok yang hidup panjang umur. John Lydon, mantan vokalis band punk legendaris Sex Pistols, juga masih merokok. Bahkan hingga sekarang. Sang biduan ini baru saja merayakan pencapaian umur ke 60 pada akhir Januari kemarin.

“Jika saya tidak bisa menikmati hidup, saya tidak mau menjalani hidup. Rokok, alkohol dan bersenang-senang adalah hal menarik yang membuat saya tetap menjalani hidup,” kata Lydon seperti dikutip oleh CNN.

Kalau mau merunut, masih banyak sekali musisi tua –entah itu mantan perokok atau masih merokok– yang masih bugar hingga sekarang. Keith Richards di umur ke 72 masih aktif tur keliling dunia dan bikin album. Tom Waits sekarang sudah berumur 66 tahun, juga masih aktif bermusik.

Kenapa mereka berusia panjang dan masih segar bugar?

Saya menduga jawabannya adalah gerak badan, juga tak lupa berbahagia. Eddie, Lydon, maupun Richards, semua masih tetap aktif berolahraga. Apalagi tur dunia itu butuh fisik yang bugar. Berolahraga jadi kewajiban.

Perihal ini, saya jadi ingat buku dan film Mereka yang Melampaui Waktu. Buku itu berkisah tentang manusia-manusia perokok yang masih sudah berusia lanjut, tapi tetap merokok, dan hebatnya: masih sehat. Dari penuturan mereka, dapat ditarik kesimpulan bahwa usia dan kesehatan itu tidak bisa ditentukan oleh satu faktor belaka. Tak bisa kita menghakimi perokok akan mati muda ataupun terkena kanker, serangan jantung, atau sakit paru-paru.

Mereka yang berusia panjang dan sehat memang masih merokok. Tapi hidup mereka seimbang. Semisal terus bergerak dan berusaha agar pikiran tetap tenang. Contohnya Mbah Sopowiro, yang bangun subuh lalu jalan kaki 5 kilometer, setiap hari. Beliau bertani hingga siang. Makannya pun sederhana. Hanya nasi,  banyak sayur mayur, dan tempe tahu goreng. Setelah makan dan merokok, beliau akan kembali kerja. Kemudian pulang ketika sore, kembali jalan kaki.

Saat punya uang, beliau tak mau berlebihan. Ia hanya mengambil sebagian rejekinya untuk beli tembakau dan kertas linting. Sisanya diberikan kepada anak dan cucunya. Menurutnya, mempunyai uang berlebihan akan membuatnya kepikiran.

Bandingkan dengan saya, kamu, dan kita semua yang hidup di era modern, juga kita kita yang hidup di kota besar. Kita menghirup karbon dioksida setiap hari, dalam jumlah yang nyaris tak terukur. Kerja di balik meja dan nyaris tidak bergerak sama sekali. Makan junk food. Lalu mengejar uang sedemikian rupa, terus memikirkan cicilan kartu kredit, tujuan liburan, atau gawai baru yang akan dibeli.

Lha bagaimana kita tidak terserang penyakit jantung, stroke, atau kanker?

Maka benarlah kiranya kalau sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang sedang-sedang saja namun tetap bahagia. Semua rock star idola saya, mulai Jim Morrison hingga Keith Richards, adalah tipikal orang-orang seperti itu. Menjalani hidup dengan bahagia. Entah kamu merokok, minum minuman keras, atau tidak.

Perihal ini, Lemmy “The God” Kilmister, rocker ultra cool dan maha keren, punya petuah hidup yang oleh fansnya disebut sebagai The Tao of Lemmy. Rata-rata petuahnya memang mencerminkan hidupnya yang suka menyerempet bahaya. Kita tahu kalau Lemmy meninggal pada 28 Desember 2015, di umurnya yang ke 70. Dia, hingga akhir hidupnya, tidak mau mengubah gaya hidupnya, tidak mau berhenti merokok atau minum wiski. Simpel: karena dia suka. He was a tough old bastard.

Saat dia meninggal, saya pikir dia meninggal dalam kebahagiaan. Sebab dia menjalani hidup yang ia suka. Live to the fullest. Suatu ketika, rocker Inggris ini memberikan petuah menarik tentang kematian.

“Death is an inevitability, isn’t it? You become more aware of that when you get to my age. I don’t worry about it. I’m ready for it. When I go, I want to go doing what I do best. If I died tomorrow, I couldn’t complain. It’s been good.”

“Kematian itu tidak bisa dihindari kan? Kamu akan lebih was was kalau sudah seumurku. Tapi aku tak khawatir. Aku siap mati. Saat aku mati, aku ingin mati dengan bahagia. Kalau aku mati besok, aku tak akan protes. Hidupku sangat bahagia.”

Sekarang anda tahu kan kenapa penggemar Lemmy memanggilnya dengan sebutan Tuhan. []