Inggit Ganarsih, Rokok, dan Pesan Kaum Pergerakan

Ada narasi mengenai perjuangan Inggit Ganarsih, istri pertama Bung Karno, saat Ia harus mendukung pergerakan suamiya kala ditahan Pemerintah Kolonial Belanda di Bandung. Apalagi setelah Soekarno dipindahkan dari Penjara Banceuy ke Penjara Sukamiskin.

Pada masa itu, Soekarno tidak boleh dijenguk siapa pun kecuali istrinya. Karena itu hanya Inggit lah satu-satunya orang yang bisa diharapkan membawa pesan politik dari Soekarno pada rekan-rekannya, pun sebaliknya. Dengan menggunakan berbagai medium, seperti telur asin dan kertas rokok, Inggit menjadi penyambung lidah Soekarno pada aktivis pergerakan.

Sebagai istri seorang tahanan politik, Inggit tentu saja diawasi oleh polisi Belanda atau PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Namun tetap saja rekan-rekan Soekarno, para aktivis pergerakan itu berkunjung ke rumah Inggit. Selain untuk mendapat pesan dari Bung Karno, mereka juga menitipkan pesan untuk Soekarno di Sukamiskin.

Saat menjenguk Engkus, panggilan akrab inggit pada Soekarno, Inggit diperbolehkan membawa oleh-oleh makanan ringan dan rokok. Pada kertas rokok itu pula Inggit menuliskan pesan-pesan dari kaum pergerakan. Sebaliknya, Soekarno juga menulis balasan atau membuat pesan singkat di kertas rokok tersebut.

Pada masa-masa sulit saat suaminya ditahan, Inggit memang mencari penghidupan dengan menjahit baju dan berjualan kecil-kecilan. Salah satu dagangan yang dijajakan Inggit adalah rokok. Rokok dagangan Inggit dilinting dengan kertas putih dan diikat dengan benang merah. Ini rokok khusus yang dijualnya pada orang tertentu atau kurir khusus.

Melalui rokok dagangan Inggit lah, pesan-pesan dari kaum pergerakan bisa disampaikan kepada Bung Karno. Begitu pun sebaliknya. Hal ini terus berlangsung selama dua tahun, hingga kemudian Soekarno bebas dari Penjara Sukamiskin.