Obituari: Prof. Kabul Suluh Pertembakauan

 “Kelahiran, kehidupan, dan kematian—masing-masing menempati

sisi tersembunyi pada selembar daun.”—Toni Morrison.

Mungkin tak banyak orang yang mengenal dekat sosok Prof. Dr. Kabul Santoso, MS. Beliau adalah mantan rektor Universitas Jember, dikenal juga sebagai sosok akademisi yang gigih memperjuangkan harkat pertembakauan Indonesia. Namanya memang tak bisa disetarakan dengan pesohor yang sibuk merayakan polemik di panggung politik dan hiburan. Namun jasanya dalam menyuarakan nasib daun emas ini merupakan amal berharga bagi hajat hidup para pihak.

Kemarin siang, dua kabar tak biasa pada waktu bersamaan melalui whatsapp saya baca. Yang satu kabar suka cita akan prestasi gemilang seorang teman, yang ke dua, kabar wafatnya Profesor Kabul. Tak terlalu mengejutkan memang, usianya sudah cukup sepuh. Tak ayal situasi ironis itu mendapat respon dari sejumlah teman. Doa-doa pun dialamatkan dengan takzim silih susul.

Prof. Dr. Kabul Santoso, MS menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 73 tahun, tepat di hari Kamis (10/3/2016). Tersiar kabar beliau tutup usia pada pukul satu siang di Rumah Sakit Jember dan akan dimakamkan di Sumenep. Tidaklah berlebihan kiranya jika kita mengingat jejak sumbangsih beliau, baik untuk dunia pendidikan maupun pertembakauan. Dimana selama beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Jember, Prof. Kabul Santoso telah mengembangkan fakultas dari 6 fakultas menjadi 14 fakultas. Selain itu, beberapa produk temuan Universitas Jember merupakan rintisan sejak masa kepemimpinan Kabul Santoso.

Dan pada usianya yang ke 70 silam, dalam memperigati hari ulang tahunnya Prof. Kabul meluncurkan tiga buku, yang dua buku karyanya adalah Tembakau, Dibutuhkan dan Dimusuhi serta Membahas dunia tembakau dan dinamikanya. Sementara buku ke dua berjudul Kemiskinan Di Indonesia: Mungkinkah Diakhiri ? Adapun buku ke tiga adalah buku biografi berjudul Melintas Zaman, Meretas Perubahan. 70 Tahun Perjalanan Hidup, Pemikiran dan Pengabdian Sang Pendidik. Sebuah dedikasi yang luar biasa untuk masyarakat luas.

Tak hanya sampai di situ, pandangan ilmiahnya terhadap nikotin tidak serta merta jatuh pada pengertian adiktif seperti yang digadang-gadang kaum normatif. Baginya, mengkonsumsi nokotin adalah sesuatu yang habituatif, selibat faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang melingkupi dimana tembakau itu tumbuh.

…tidak salah bila ada ungkapan kebiasaan makan nasi bangsa kita seperti halnya kebiasaan merokok kretek. Kedua bahan yaitu nasi dan nikotin larut dengan baik dalam air, masukannya dan keluarannya dari tubuh tidak mengganggu unsur lainnya.” (http://bukukretek.com/files/v88dd1/opini-akademik.pdf)

Dengan demikian tidaklah berlebihan atas sumbangsih pemikiran serta dedikasinya, saya sebagai penghayat kretek, juga mungkin Anda mendapatkan nilai pengetahuan berharga. Yang jika bagi kalangan anti rokok hal ini kerap dipandang sebelah mata. Takdir. Seumpama tembakau, adalah anugerah dariNya yang mengandung sekian rahasia. Bukankah masih sedikit yang kita ketahui dari kejaiban itu semua (?)

Selamat jalan Prof. Kabul. Dedikasimu menjadi suluh bagi semua.

(Visited 368 times, 1 visits today)