Tembakau Campalok

Banyak jenis tembakau di Indonesia yang masuk dalam kategori unik dan mahal. Di Temanggung dan Muntilan ada tembakau srintil, di Lombok ada tembakau senang, di Garut ada tembakau mole, dan di Madura ada tembakau campalok. Dengan membawa penerjemah yang bisa berbahasa Madura, saya datang ke lokasi tempat tembakau campalok berada, di dusun Jembengan, desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep.

Ketika lima tahun lalu saya mendatangi lokasi tanaman tembakau ini di dusun Jembengan, Guluk-Guluk, Madura, harganya 1.250.000 ribu per kilogram. Harga yang cukup fantastis. Padahal, menurut Aziz, mulai bibit sampai cara penanaman dan perawatan tembakau Campalok tidak berbeda dengan tembakau lain. Itu pun, saya tidak bisa membeli apalagi mencicipnya. Kenapa? Karena tembakau tersebut sudah dikontrak untuk dibeli oleh seorang pedagang dan pencinta tembakau bernama Haji Guntur.

“Saya sudah kadung dekat dengan Pak Haji Guntur, jadi tidak menjual ke orang lain. Bahkan tembakau saya ini sudah dikontrak untuk terus dibeli oleh beliau.”

Ketika saya bertanya ke Pak Aziz, petani yang mengolah lahan yang menghasilkan tembakau Campalok, sampai kapan Haji Guntur mengontrak pembelian tembakau tersebut? Pak Aziz menjawab, “Sampai beliau meninggal dunia.”

“Anda pernah mencicip tembakau Campalok ini, Pak?”

Pak Aziz menggelengkan kepala. Dia tidak enak mencicipnya karena sudah janji dijual semua ke Haji Guntur. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang bernama Haji Guntur di Sumenep untuk nempil sekadar mencicip rasa tembakau Campalok. Tapi saya kurang beruntung. Dua hari di Sumenep, saya tidak berhasil bertemu dengannya.

Pupus harapan saya untuk menikmati tembakau Campalok.

Tembakau ini dihasilkan dari lahan kecil berleter U, di dekat sebuah kuburan. Total hasil panennya dalam kondisi kering hanya berkisar 7 kilogram. Benar-benar barang langka. Sehingga saya yakin, orang bernama Haji Guntur itu mestilah irit sekali dalam merokok tembakau Campalok agar bisa tahan sampai musim berikutnya. Kalaupun toh harus berbagi dengan orang lain, pastilah disuguhkan hanya untuk orang-orang spesial.

Punya uang tak pasti bisa dapat barang. Salah satunya ya soal tembakau Campalok itu. Anda bawa uang 1 miliar pun, belum tentu bisa mendapatkannya tembakau Campalok barang 1 linting kecil.

Diberi nama tembakau Campalok karena ada pohon Campalok di lahan tersebut. Ketika saya tanya kenapa tembakau tersebut bisa sangat spesial? Pak Aziz hanya bisa menjawab, “Saya tidak tahu persis kenapa tembakau ini bisa terkenal. Mungkin karena faktor tanahnya yang bagus. Tapi kalau menurut bapak dan kakek saya, dulu tanah tempat tembakau ini pernah disinggahi seorang ratu dari Sumenep. Kebetulan di sana ada sumur kecil. Saat singgah, ia mandi di sebelah sumur itu. Saat mandi, bunga yang ada di kepala ratu itu jatuh. Dari bunga itu tumbuh menjadi pohon yang disebut pohon campalok. Baunya harum. Mungkin dari bau harum tumbuhan ini, tembakau yang hidup di sekitar pohon itu jadi harum.”

Tapi nasib baik tampaknya masih berpihak di diri saya. Kemarin, saya bertemu dengan kawan baik saya dari Sumenep. Dia datang dari salah satu pesantren terbesar di Sumenep, Pesantren Annuqayah. “Mas, saya ada titipan dari Pak Kiai untuk Sampeyan.” ujarnya dengan logat yang khas.

Saya berpikir mungkin dia dititipi buku. “O endak, Mas.” Lalu dia mengeluarkan plastik transparan kecil. “Ini tembakau Campalok, Mas…”

Allahu Akbar! Segera saya menghaturkan terimakasih. Segera saya linting menjadi 5 batang kecil. Rasanya…. Ah, saya tidak mau menceritakan kepada siapapun bagaimana rasanya. Setidaknya saya sudah mencicip barang langka. Barang yang jika Anda kaya pun belum tentu bisa mendapatkannya.

Keberuntungan selalu menaungi orang-orang baik. ‪#‎eh