Menyapa Warga Papua dengan Tembakau

Dalam banyak kesempatan, tembakau dan rokok tidak sekadar menjadi barang konsumsi untuk masyarakat. Lebih dari itu, rokok bagi sebagian masyarakat telah menjadi bagian dalam kehidupan itu sendiri.

Selama ini narasi terkait rokok dan tembakau kebanyakan didominasi oleh narasi anti tembakau yang berbicara soal dampak negatifnya terhadap kesehatan. Narasi ini kemudian dilipatgandakan secara masif dalam bentuk kampanye untuk memerangi tembakau. Di lain pihak, adapula yang membahasnya dalam narasi soal ekonomi dan kebudayaan. Meski tetap tidak sebanyak narasi anti tembakau.

Jarang ada yang membahas, misalnya, soal bagaimana di beberapa daerah masyarakat menggunakan rokok sebagai bagian dari pelaksanaan tradisi. Seperti penyajian rokok dalam selametan atau menukar rokok antar mempelai dalam prosesi pernikahan adat suku Talang Mamak. Rokok menjadi bagian yang  tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

Karena itulah di Distrik Ambatkuy Kabupaten Boven Digoel, tenaga kesehatan dari puskesmas setempat menggunakan rokok untuk memudahkan komunikasi dengan warga sekitar. Bagi para tenaga kesehatan di sana, rokok menjadi kawan mereka untuk berhubungan dengan masyarakat.

Dengan sebungkus atau dua bungkus rokok, mereka melakukan barter dan memulai percakapan dengan masyarakat asli pedalaman yang sehari-hari berburu dan berkebun di hutan. Lewat perkenalan yang akrab dengan  rokok, mereka membangun kepercayaan masyarakat untuk kemudian dapat memberikan penyuluhan terkait perilaku hidup bersih dan sehat yang menjadi konsen puskesmas di sana.

Hal ini menjadi contoh, bahwa rokok dapat menjadi alat berkomunikasi yang efektif dalam hubungan masyarakat. Tidak berbeda dengan komunikasi hangat yang dapat tercipta antara dua orang tak saling kenal hanya karena meminjam korek untuk menyalakan rokok. Dari sana kemudian mereka dapat bercakap sembari menghabiskan sebatang atau dua batang rokok.

Hal yang sama juga pernah diterapkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang menggunakan rokok sebagai alat untuk membuka komunikasi dengan masyarakat suku anak dalam di Jambi. Saat itu Ia hendak memberikan bantuan untuk suku anak dalam. Namun, untuk memperlancar komunikasi Khofifah menggunakan rokok yang menjadi bagian dari hidup suku anak dalam itu sendiri.

Karenanya, membincangkan rokok dan tembakau tidak bisa hanya dengan membahas dampak kesehatan masyarakat. Agar adil, dalam pandangan Khofifah, “Kalau ingin memahami kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta saja. Saya ingin mengajak Anda ke sana, turunlah ke sana, sapalah mereka.” Jadi, pahami dulu kultur masyarakat setempat. Jangan melulu terbawa kacamata anti tembakau.

(Visited 141 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam