Pulang, dan Tak Ingin Pulang Lagi

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Sore itu sepulang kerja, ia dengarkan lagu karya Float yang berjudul Pulang. Earphone yang menyambung dari smartphone murahnya itu, menjadi penyambung nada-nada itu ke telinganya. Masuk ke otaknya, membuatnya berfikir tentang seseorang, lalu turun ke hatinya menjadi rindu. Kangen.

Sekitar 7 menit kemudian, datanglah seorang pengendara motor mengenakan jaket dan helm hijau, menghampirinya. “Mas Marno?” tanya si pengendara motor. Pertanyaan yang menghentikan lamunannya akan rindu.

“Ke Matraman ya mas?” lagi si pengendara motor itu bertanya.

“Iya bang, tapi boleh mampir sebentar bang ke Stasiun Senen? Saya mau beli tiket kereta dulu sebentar, habis itu baru antar saya ke Matraman,” jawab Marno.

“Boleh aja mas,” jawaban singkat dan jelas.

Meluncurlah Marno di jok belakang motor, macet cukup parah Selasa petang itu di Jakarta. Meliuk-liuk mencari celah si pengendara di antara mobil-mobil. Masker yang menutup mulut dan hidung Marno, dirasa cukup baginya untuk menghindari dari polusi kendaraan yang cukup brutal di Jakarta, mengancam nafas siapa saja.

Sampai di stasiun Senen, Marno langsung meninggalkan si pengendara motor, hanya mengucap kata “tunggu sebentar”. Satu tiket kelas ekonomi ia pesan untuk esok pagi, menuju Semarang. Lalu berbegas meninggalkan loket dengan tersenyum, menuju pengendara motor, menuju Matraman, menuju tempat tinggalnya yang hanya seluas 4×3 meter persegi.

Pecahan uang kecil yang ada di saku Marno tak cukup untuk membayar jasa pengantarnya. Selepas merogoh saku, lalu selembar uang seratus ribu dari dompet dicabutnya, dan diulungkannya. Melihat uang itu sang pengendara tersenyum, seraya menggelengkan kepala. “Gak ada kembalinya mas.”

“Sebentar bang, saya belikan rokok dulu,” ujar Marno.

Warung gerobak di pinggir trotoar yang tak jauh darinya segera ia hampiri. Dibelinya sebungkus rokok kretek filter. Meski masih ada 5 batang di bungkus kretek yang tersimpan di saku kanan celana jeansnya. Dirasa cukup untuk persediaanya malam ini. Penjual rokok itu memaklumi si pembeli yang tersirat sekadar ingin menukar uang untuk membayar jasa pengendara motor. Hal yang lumrah tentunya, justru itu membuat ia senang. Paling tidak salah satu barang dagangannya yang paling laris itu terbeli lagi satu bungkus.

Jasa pembayaran tujuh belas ribu, ia lebihi delapan ribu, karena mau mengantarnya ke mampir ke stasiun.

Sampai tempat tinggalnya, ia kembali dengarkan lagu itu, berulang-ulang kali. Tubuhnya yang lelah karena bekerja selama delapan jam, direbahkannya di atas kasur yang tak terlalu empuk itu. Bantal yang tak pernah ia jemur sebulan lebih itu, mengganjal kepala dan lehernya yang letih. Matanya berkedip perlahan menikmati lagu itu, pikirannya melayang, sesekali bibirnya tersenyum. Abu di sebatang rokok kreteknya sudah cukup panjang, karena tak ia isap. Jatuh ke lantai. Karena bibirnya sibuk tersenyum-senyum.

Setengah tiga dini hari, Marno baru bisa memejamkan mata, setelah cukup lama melamun dan menghayal. Dan seperti biasa, terbangun setengah tujuh pagi. Bergegas ia menyiapkan beberapa pakaian, ditata dalam ransel hitamnya, cekatan ia menderas menuju stasiun. Sebatang rokok dinyalakannya selepas mengunci pintu huniannya.

***

Sepanjang perjalanan di kereta, ia selalu melihat pemandangan dari jendela. Tak selalu bagus pemandangannya, tak selalu hamparan sawah hijau yang ia lihat. Kadang jalan raya dan lalu lintasnya, kadang deretan rumah, kadang bukit-bukit kecil gundul.

Harapan indah ada dalam pikirnya, bertemu dengan rindunya. Satu, dua hari bersamanya, mungkin akan membuat rasanya menjadi tenang. Karena kesibukannya, teman-teman kesehariannya, tak mampu meringankan lara. Hanya pulang, segera, yang ia rasa mampu kegalauan yang terus diproduksi oleh otaknya.

Di beberapa stasiun, kereta berhenti cukup lama. Lumayan untuk sejenak menenangkan pikirannya dengan menghisap dalam dengan nikmatinya kepulan asap dari tembakau dan cengkeh dari bungkus yang ia beli semalam di warung pinggir trotoar. Tak bisa setiap waktu ia menikmati batang demi batang, karena di kereta tak lagi bisa merokok.

Di toilet biasanya orang mencuri kesempatan menghisap rokok, tetapi ia tak mau mengambil pilihan itu. Ia masih bisa menahan diri, karena bukan candu yang ia hisap. Baginya, menghisap rokok di toilet secara sembunyi-sembunyi, seakan-akan merendahkan harga dirinya. Ia sadar betul barang legal yang dikonsumsinya bukan sesuatu yang harus dinikmati secara sembunyi-sembunyi. Ia patuhi saja larangan yang berlaku atas haknya itu. Baginya tak akan mati ia hanya karena menahan diri tak merokok untuk beberapa jam.

Stasiun Semarang Poncol menyambutnya petang itu. Rindunya semakin dekat, langkahnya tak lagi jauh kini. Lagu milik Float kembali ia putar dari handphonenya, ia tambahkan sedikit volume, agar semakin merekah senyumnya.

Mungkin hanya satu setengah kilometer jarak dari stasiun Poncol menuju Gang Tambra Dalam XI, tempat tinggal Yunita. Sosok yang menjadi tambatan kegundahan segala pikirannya selama ini di Jakarta. Walau hubungan yang mereka jalin hanya sekadar berbincang melalui telepon, berbagi cerita keseharian, kadang bercanda, kadang juga berdiskusi. Kadang berbagi foto.

Hanya beberapa kali bertemu tatap muka, saat Marno mampir ke Kota Semarang dari kampung halamannya di Kudus. Mereka berkenalan setahun lalu, dengan gaya anak muda saat ini. Berkenalan melalui jejaring media sosial. Terlalu muda mungkin Marno, mengambil hati dari hubungan yang penuh dengan keterbatasan itu.

Pak, muleh mawon pak. Balek teng stasiun maleh,” ujarnya buru-buru kepada tukang becak yang mengantarnya. Padahal ia sudah berada di mulut Gang Tambra Dalam XI.

Lho, pripun, mas. Lah niki sampun tekan Tambra,” jawab si bapak pengayuh becak dengan rokok klembak menyan yang menempel di ujung bibirnya.

Mboten nopo-nopo, pak. Mboten sido, terke kulo balek teng stasiun mawon saiki, pak,” agak tegas kali ini suara Marno. Berharap bapak pengayuh becak tak mempertanyakan lagi keputusannya.

Tak lama setelah becak yang ditumpanginya memutar balik arah, sebuah motor melewatinya dengan laju pelan. Nampak seorang lelaki membonceng perempuan dengan paras manis dan rambut hitam yang tak seberapa panjang itu, tersibak, teriup angin, tak tertutup helm rambut indah itu. Tangan si perempuan terlihat mennyentuh lembut paha si lelaki.

Memudar rinduku.

Jangan lagi pulang!

Jangan lagi datang!

Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

 

Dan lalu…

Dan lalu…

 Syair lagu Float telah sampai di penghujung.