Terima Kasih Pada Mereka yang Telah Bersama Kami

Sekitar dua minggu kami bersama. Tentu berlebihan jika dalam waktu yang sesingkat itu, terselip rasa suka dan duka yang kami alami bersama. Karena sejujurnya, yang kami rasakan hanya keriaan kecil atas apa yang kami lakukan.

Dua minggu menyusuri 4 kota, Jogja, Solo, Malang dan Surabaya. Membentangkan properti, ber-pantomim, berbaris berjajar, mengucapkan selamat berpuasa, dan berterima kasih kepada tembakau. Membagikan takjil pada masyarakat sekitar, dan berterima kasih walau dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami masih bisa berbagi.

Sekumpulan anak-anak muda, 40-an orang jumlahnya. Dengan kerelaannya, mau bergabung bersama kami untuk mengingatkan lagi kepada publik untuk mengucapkan terima kasih pada hal yang memberikan kehidupan. Berterima kasih kepada tembakau, yang memberikan kehidupan bagi jutaan orang.

Jogja sempat diguyur hujan sore itu, ketika kami hendak menuju dua lokasi tempat kami melangsungkan aksi. Sedikit menyiutkan nyali, walau akhirnya kami tetap bergerak ketika deras telah berubah menjadi gerimis. Melanjutkan rencana.

Alam memang tak bisa kita lawan, hanya singkat kami beraksi, dan untung takjil telah sempat kami bagi. Karena setelah kumandang Maghrib, hujan kembali menderas. Dan kami hanya dapat diam menunggu reda dipinggir-pinggir toko dan trotoar.

Namun sepertinya alam kemudian sadar, bahwa yang kami lakukan itu juga bagian dari terima kasih kami kepada alam yang menumbuh suburkan tembakau di Nusantara. Ia merestui perjalanan kami ke kota-kota berikutnya, tak menghalangi keyakinan kami untuk melakukan aksi dan berbagi.

Awal yang tak baik itu mungkin malah membuat kami semakin dekat, belum lagi omelan dari seorang pelatih koreografi yang terngiang-ngiang di telinga mereka. Mungkin sampai sekarang. Sebenarnya, ia cukup lucu ketika diluar hubungan pelatih dan yang dilatih. Konyol, ceplas-ceplos, lugu dan asu.

Perjalanan menuju Malang dan Surabaya lebih mendekatkan kami. Bagaimana tak dekat, kami harus duduk selama berjam-jam di bus. Seperti rombongan anak-anak SMP yang sedang bertamasya.

Deretan depan diisi oleh mereka yang tak biasa menikmati perjalanan dengan bus. Memandang ke depan, agar tak mual. Entah benar atau mitos, tapi ya seperti itulah pada umumnya hal itu berlaku. Biasanya juga, mereka yang berada di deretan depan adalah anak-anak yang baik, dan benar saya kira dengan rombongan ‘tamasya’ kami kali ini.

Deretan bangku bus belakang, sudah barang tentu di isi oleh mereka anak-anak nakal. Berisik, tak berhenti saling berceloteh, bergenjreng-genjreng gitar, tertawa yang disentakan keras dan panjang. Entah benar-benar lucu atau tidak. Karena begitu aktifnya mereka, tak kala waktunya tidur telah tiba, lelap sekali. Hanya terdengar suara ngorok dua orang bertubuh tambun di Belakang.

Bagian tengah tentu di isi oleh anak-anak yang tak sepenuhnya nakal dan tak sepenuhnya baik hati. Walau sebenarnya barisan ini cukup banyak yang cerdas, bukan dalam ilmu formal. Ada si pelatih yang duduk sendiri tak berteman, ada seorang anak Madura yang sejak kelas satu SD sudah khatam Al-Quran, ada seorang perempuan muda calon ahli bahasa dan sastra Jawa. Ada juga seorang yang tak banyak bicara, sekali celetuk saja banyolannya, tapi cukup membuat orang terpingkal-pingkal.

Ya, mereka semua dengan segala perilakunya adalah anak-anak muda yang tak ingin menafikan tembakau dan kretek sebagai bagian dari kehidupan mereka, atau bagian dari kehidupan orang lain. Dan tak ingin hal itu hilang atau dihilangkan, oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

Selepas dari Surabaya, dan sesampainya di Jogja. Semua kembali dengan aktifitasnya masing-masing. Tersirat diantara mereka, ingin kembali mengulangi aksi itu, mengulangi lagi keriaan yang hanya sekejap itu.

Mengulangi lagi membentangkan properti, ber-pantomim, berbaris berjajar, mengucapkan selamat berpuasa, dan berterima kasih kepada tembakau. Membagikan takjil pada masyarakat sekitar, dan berterima kasih walau dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami masih bisa berbagi. Mengulangi keriuan, tawa, cerita dan berbagai kenakalan sepanjang perjalanan tamasya itu.

Setelah aksi mereka berterima kasih kepada tembakau, tentu kami sampaikan juga ucapan terima kasih itu pada mereka melalui tulisan ini. Karena selayakanya apa yang telah mereka lakukan, penting bagi kami untuk didokumentasikan. Agar mereka mengingat, agar orang lain tahu bahwa kami ada dan berlipat ganda.

Selamat beraktifitas kembali dan sampai bertemu di lain kesempatan.

Salam