Hujan telah reda. Menyisakan basah pada jalanan yang dilalui kendaraan, juga rumput dan pepohonan. Langit sore berangsur malam. Sinar lampu penerang jalan membias pada genangan. Juga bayangan yang melintasinya. Mencipta diorama tersendiri. Sepeda motor yang dikendarai suami akhirnya sampai di AEON Mall. Suami memarkir motor legendarisnya di antara jajaran sepeda motor muda usia. Istri segera turun dari boncengan. Suami merangkul pundak istri. Serba rupa ornamen, lalu lalang pengunjung, serta produk-produk sandangan modern terpajang di jajaran outlet. Terasa dinamis.

Langkah istri cukup bersemangat, suami mengimbanginya. Berbeda jauh dari suasana sore di Lotte Mart sebelumnya, beda konsep dan tentu citra kelasnya. Merujuk info dari sebuah situsweb, mall ini memiliki luas bangunan 125.000 Meter, dan disebut-sebut juga sebagai mall bergaya Jepang pertama di Indonesia.

Suami merangkul pinggang istri, merapatkan diri. Menaiki  eskalator demi eskalator untuk sampai ke lantai yang dituju. Setelah mendapati rak yang memajang beberapa unit komputer jinjing. Istri melihatnya satu per satu, tak lebih dari 6 unit terpajang. Bukan spesifikasi yang terlalu menjadi fokus, melainkan harga. Istri membanding-bandingkannya dengan harga umum yang diketahui dari sejumlah situs referensial.

Dan tanpa makan waktu lama, istri memutuskan hasil pertimbangannya. “Dihitung-hitung mending beli cash aja deh. Mahal kenanya,” begitu cetus istri. Suami berdehem mendengarnya. Istri menimpali dengan senyum. “Haus?” tanya istri. Suami pun mengiyakan. Istri menggiringnya untuk membeli air kemasan. Yang berarti turun lantai menuju supermarket. Setelah mendapatkan air kemasan mengarah keluar menuju pintu utama kembali.

“Aku mau merokok dulu,” cetus suami kepada istri.

“Memang ada area merokoknya?” tanya istri seiring langkah.

“Ada. Kelihatan tadi waktu kita mau masuk,” jawab suami yakin.

“Jeli aja kalo urusan ngerokok deh,” gurau istri.

Tak meleset dari yang dikatakan suami. Tempat khusus merokok yang dimaksud tak jauh dari pintu utama. Terbilang dekat dengan parkiran motor, hitungan jarak 100-150 meter tak kurang.

Secara tampilan luar tempat khusus merokok itu terbilang minimalis dan kece. Berhubungan langsung dengan udara terbuka. Langit malam kali itu tak menampakkan banyak bulan-bintang bertebaran. Dari kejauhan dua orang petugas parkir terlihat sibuk mengatur lalu lintas, dan membantu menyebrangkan orang ke parkiran motor.

Suami membakar kretek filter kegemarannya. Istri tetap bersetia di dekatnya. Suami masuk ke tempat peruntukkan itu. Suami berada pada ruang yang menjadi haknya. Mencoba merasakan duduk di besi, yang baginya tak terlalu nyaman untuk berlama-lama duduk, hanya sebatang besi berdiameter tak kurang dari  10 Cm. “Rasanya kayak lagi duduk di pagar jembatan,” celetuk suami. Dijatuhkannya abu rokok pada tempat yang disediakan, tempat sampah yang menyerupai termos, berceruk asbak.

Spot merokok bertuliskan Smoking bercetak tebal itu sedianya belum berfungsi maksimal. Jika ada yang menyebutnya nyaman, tentu perlu dipertanyakan lanjut. Nyaman dari sisi apanya, tampilan? Bagi suami, nyamannya tempat merokok tak sekadar soal tampilan. Tetapi utilitas; kebermanfaatan dan kelayakan.

Dan yang tersirat dari tempat tersebut, secara rancang-bangun memang bukan dihadirkan untuk para perokok berleha lama. Kesan itu diisyaratkan dari fasilitas yang tersedia, diperkuat pula dengan terlihatnya para perokok beryaman-nyaman nongkrong di depannya, bersandar pada dinding mall. Namun setidaknya sudah ada itikad baik pengelola yang patut diapresiasi atas upaya yang nisbi solutif itu.

Suami berhasil mengabadikan gambaran itu lewat kamera ponselnya. Seraya mengunggahnya melalui akun media sosial. Lantaran tidak disediakannya bangku yang ergonomis, bisa dibilang tempat khusus merokok di AEON Mall belum mengakomodasi sepenuhnya keinginan perokok.

“Boleh jadi memang sesuai keinginan penyedianya, biar pajangannya awet,” seloroh suami disertai senyum.

“Berarti masih mending yang di Lotte Mart dong?” tanya istri spontan.

Suami membalas dengan mimik mengiyakan, lalu mematikan rokoknya, seraya mengajak istri untuk melangkah menuju parkiran, dan pulang.