Budidaya Cengkeh Tradisional

Semua rumah di Desa Lipulalongo, Kecamatan Labobo, Kabupaten Banggai Laut, punya pohon cengkeh. Desa ini berpenduduk sekitar 370 keluarga. Cara bertanam cengkeh yang mereka lakukan pun masih memakai cara-cara tradisional.

Saat pemetikan cengkeh, Hasarudin Aladjai (51) selalu menyisakan beberapa tangkai cengkeh di pohonnya. Cengkeh itu dibiarkan hingga warnanya menjadi merah, menghitam, lalu jatuh ke tanah dan mengelupas, kemudian tumbuh menjadi tunas cengkeh di bawah pohon induknya. Tunas cengkeh yang hidup itu dia biarkan setinggi botol hingga setinggi anak remaja.

Jika sudah setinggi itu, cengkeh tadi ia gali dan pindahkan ke lokasi kebunnya yang masih lowong. Hasarudin memiliki 500 pohon cengkeh yang tersebar di tiga hutan: Basuit, Sindung, dan Bonggon. Sekarang, ada 200 pohon cengkehnya sudah dewasa, yang 300 pohon masih remaja dan belum belajar berbuah.

Berkebun cengkeh bagi Hasarudin adalah obat stres. “Kalau stres dengan pekerjaan sekolah, saya pergi ke kebun cengkeh, lihat pohon-pohon cengkeh saya yang berjejer, itu bisa membuat senang,” ujarnya. Lelaki yang bekerja sebagai penjaga sekolah ini bilang, jiwa tani sudah ada dalam dirinya sejak masa remaja. Sejak tahun 1978, dia sudah bertani cengkeh. Namun kebun cengkeh pertamanya ia jual.

Dalam menanam cengkeh, Hasarudin masih memakai cara tradisional. Mulai dari penggalian tunas, pembibitan, hingga perawatan pohon. Untuk menggali lubang, ia menggunakan linggis. Untuk bibit setinggi balita, kedalaman lubang tanamnya adalah 25 – 30 cm. Namun, jika bibitnya setinggi botol teh sosro, kedalaman lubangnya 15 cm. Setelah bibit dimasukkan dalam lubang, dia memilih tanah galian awal untuk menutupi lubang. Lubang ditutup hanya setengah. Tujuannya agar ketika tunas cengkeh itu dewasa, akarnya tidak muncul di permukaaan tanah. “Biarkan saja alam yang menutupi lubang tunas itu sampai penuh,” kata Hasarudin.

Selain perkara lubang, perkara tanah juga harus diperhatikan. Hasarudin menanam tunas cengkehnya di tanah miring yang berhadapan dengan arah terbitnya matahari. Rata-rata pohon cengkehnya tidak ditanam di tanah rendah. Alasannya, jika musim  hujan, air bisa menggenang di tanah rendah dan mengakibatkan buah cengkeh gugur. Jarak tanam antara pohon cengkeh yang satu dengan yang lain 10 – 12 meter.

Dalam penanaman pohon cengkeh, seringkali ia menggunakan bibit cengkeh yang sudah berumur dua hingga tiga tahun. Dia bilang, memang bibit seperti ini harus hati-hati saat penggalian, tapi dalam hal pertumbuhan, bibit inilah yang cepat tangguh. Setelah tunas cengkeh ditanam, di batang tunas itu dia ikatkan bambu sepanjang tiga ruas. Sebelumnya, bambu ini dilubangi menggunakan paku. Bambu itu kemudian diikatkan pada batang tunas cengkeh. Lantas bambu itu diisi air, airnya akan menetes sedikit demi sedikit ke lubang tunas cengkeh.

“Cara tradisional ini bisa menghemat tenaga saat penyiraman, air dari bambu itu akan menetes tiga sampai empat hari. Jadi empat hari Tangga bambu, alat bantu pemetikan cengkeh di kawasan hutan cengkeh Sulawesi. kemudian barulah saya datang lagi memeriksa apa air di bambunya sudah kosong dan butuh ditambah lagi,” terang dia.

Di musim kemarau, tunas cengkehnya dia pagari daun nyiur di sekelilingnya. Agar tunas cengkeh itu bisa terlindungi dari panas matahari yang menyengat. Di kebunnya di hutan Bonggon, Hasarudin menanam cengkeh di bawah pohon kelapa. Selain cengkehnya terlindung, dia merasa itu lebih efektif, karena kalau baparas pohon kelapa, dia ikut juga membersihkan pohon cengkehnya. Baparas adalah istilah lokal untuk pembersihan rumput liar yang sudah meninggi. Saat baparas, ia menggunakan parang. Namun tahun ini, ia menebang 100 pohon kelapanya karena cengkeh-cengkeh di bawah pohon kelapa itu sudah belajar berbuah.

Soal perawatan cengkeh, Hasarudin tak menggunakan pupuk. Ia malah membiarkan daun-daun cengkeh yang jatuh di tanah untuk pupuk pohon cengkeh itu sendiri. Dalam menandai apakah pohon cengkeh akan berbuah, Hasarudin melihat tanda itu pada pohon durian, manggis dan langsat.

“Misalnya jika tahun ini, pohon manggis dan langsat berbuah banyak, maka tahun depan pohon cengkeh akan berbuah banyak juga. Namun jika tahun ini hanya pohon mangga dan durian yang berbuah, berarti tahun depan pohon cengkeh kurang berbuah,” ujarnya. Cara itu ia tandai sejak masa ia menanam cengkeh.

Itu hanyalah caranya sendiri, ia tidak tahu apa petani lain menggunakan cara itu untuk memprediksi buah cengkeh. Namun, menurut Mardia Abdul Karim, istri Hasarudin, jika di Desa Lipulalongo pohon cengkeh tak berbuah sama sekali, berarti ada orang yang berbuat tak senonoh di dalam kampung, seperti orang berzina.

Mardia juga bilang, dahulu di Lipulalongo, saat panen cengkeh, para petani membawa aneka makanan berat dan penganan di bawah pohon cengkeh. Lalu para petani melakukan baca doa. Tapi sekarang ritual ini sudah tak ada lagi. “Sejak orang rajin menonton acara-acara ceramah di televisi, ritual-ritual begitu sudah hilang,” ujar Mardia.

Cara bertanam cengkeh tradisional yang dilakukan Hasarudin cukup populer di kalangan petani cengkeh di Kabupaten Banggai Laut. Bedanya hanya satu, kalau petani lain, saat tunas dimasukkan dalam lubang, mereka menutup lubangnya hingga penuh. tapi Hasarudin tidak. Ia mengaku bertanam cengkeh tradisional lebih untung, karena hemat biaya dan tenaga. Soal bibit tak perlu membeli, karena sudah ada di kebun, bahkan dengan pembibitan seperti itu, ia bisa memberi ke orang lain secara gratis. “Jika orang lain perlu bibit cengkeh, ia bisa datang dan menggalinya di kebun siapa saja,” ujarnya dengan raut wajah puas.

*Sumber: Ekspedisi Cengkeh