Diskusi Buku Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau

Berawal dari satu momentum rapat akbar petani tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, yang mendeklarasikan dibentuknya Laskar Kretek pada 26 April 2012. Mohammad Sobary hadir dan juga turut berpidato di hadapan puluhan ribu petani tembakau yang berkumpul di lapangan Maron.

Ekspresi perlawanan para petani tembakau tersebut, lalu ia tuangkan dalam sebuah penulisan disertasi, yang diberinya judul ‘Perlawanan Politik dan Puitik, Ekspresi Politik Petani Tembakau Temanggung’.

Dengan menggunakan metode grounded theory dan metode interpretatif, Mohammad Sobaru mencoba melihat ekspresi perlawanan petani tembakau terhadap kebijakan pemerintah dalam pengendalian tembakau.

Salah satu temuan dari penelitian dalam disertasinya, menyebutkan bahwa perlawanan petani tembakau dalam memperjuangkan keadilan baginya, dirasa lebih substansial daripada pelaksanaan demokrasi di negeri ini. Bukan semata kemenangan yang hendak dicari, tapi itu adalah bagian dari proses ajakan dialog dari para petani kepada semua pihak, agar kebijakan yang dihasilkan dapat menyerap aspirasi petani tembakau.

Buku tersebut kemudian diterbitkan dan dipublikasikan. Kemudian juga dibedah secara mendalam dalam sebuah acara diskusi yang digelar di Jogja. Bertempat di Gedung Yustisia University Club, UGM. Acara tersebut berlangsung pada hari Senin, 26 September 2016, sejak pukul 09.00 WIB sampai dengan 13.00 WIB.

Kapasitas tempat yang hanya menampung sekitar 50 orang, dihadiri lebih dari 75 pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Acara tersebut dibuka dengan aksi pantomim yang menggambarkan tentang perjuangan petani tembakau, yang dimainkan secara apik oleh Andy Sri Wahyudi.

Dalam diskusi tersebut, Mohammad Sobary menjelaskan latar belakang riset yang dilakukannya. Yang kemdudian dilanjutkannya dengan memberikan penjelasan tentang perjuangan petani tembakau, yang tak melulu soal kalah dan menang.

Disertasi yang ditulisnya selama satu tahun tersebut, ia menggambarkan bentuk perlawanan petani tembakau yang diekspresikan dalam bingkai tradisi. Diberikan roh wisdom, sehingga menjadi gerakan yang puitis. “Mereka tidak menyerang dan membuat orang kehilangan muka. Mereka mengajarkan untuk mendengarkan suara orang lain. Estetik of art,” ujarnya.

Ditegaskannya pula, bahwa kretek yang merupakan produk khas Indonesia tidaklah sama dengan rokok. Ia menyatakan bahwa kretek adalah sebuah simbol perlawanan dari petani tembakau. “Menanam mbako itu sama saja dengan merawat bayi. Namun hal itu merupakan hal yang teknis. Dalam disertasi saya, fokus penulisan pada bentuk perlawanan dari petani tembakau di Temanggung,” sambunnya menjelaskan.

Apa yang dialami oleh petani tembakau di temanggung yang diserang oleh kebijakan pengendalian tembakau, telah menumbuhkan empati dari dalam dirinya. Baginya, apabila orang mengetahui ada sesuatu yang merugikan orang lain namun tidak muncul kepedulian, maka dia bukanlah manusia. “Empati dibutuhkan untuk melakukan tindakan membantu siapapun yang sudah terinjak dan kesulitan dalam melakukan perlawanan,” tegasnya.

Acara diskusi berjalan cukup aktif dan interaktif, hadir dalam acara tersebut juga adalah Saleh Abdullah dari Perkumpulan Insisst, serta Hairus Salim dari Kalatida.com. Acara diskusi ditutup tepat pukul 13.00 oleh Gati Andoko, seorang antropolog dari UGM.