Selama ini rokok selalu diidetikan dengan berbagai macam penyakit nan mematikan. Mulai dari Serangan Jantung, Pernapasan Akut, Kanker Paru-paru, serta Kanker lain-lain melulu dinyatakan karena satu hal; merokok. Penyakit-penyakit ini, kemudian, dinyatakan sebagai dalih untuk menyudutkan industri kretek.

Bukan hanya dijadikan ‘bantalan’ penyakit, rokok juga dijadikan faktor penyebab terkurasnya uang negara. Iya, uang negara. Bagi mereka para aktivis antirokok, rokok tidaklah dianggap sebagai penyumbang anggaran negara. Mereka beranggapan keberadaan rokok hanya akan merugikan negara dan menguras keuangan negara. Dalam pandangan mereka, uang yang didapatkan negara dari industri rokok tidak akan pernah sebanding dengan biaya kesehatan yang disebabkan penyakit akibat rokok.

Mereka menyatakan kalau rokoklah yang menghabiskan lebih dari setengah anggaran yang dimiliki Badan Jaminan Penyelenggara Sosial sebagai jaminan kesehatan negara bagi masyarakat. Menurut pihak dari kementerian kesehatan, tidak kurang dari 70% anggaran BPJS dihabiskan untuk menangani penyakit tidak menular seperti jantung , ginal, stroke, dan kanker.

Tingginya kasus penyakit tidak menular ini diakibatkan oleh gaya hidup tidak sehat, namun rokok tetap saja menjadi ‘bantalan’ dari perkara ini. Padahal ya, gaya hidup tidak sehat tidak melulu berkaitan dengan rokok. Pola makan yang tidak baik, dan hidup yang tidak teratur justru menjadi kunci dari persoalan kesehatan masyarakat kita.

Sayangnya, persoalan ini tidak menjadi perhatian khusus dari pihak kesehatan. Ketimbang mengajak masyarakat agar lebih memperhatikan pola makan dan lebih sering berolahraga, Kementerian Kesehatan lebih banyak memasang iklan “Merokok Membunuhmu” di beragam sarana periklanan. Tak heran jika kemudian angka kasus penyakit tidak menular tetap saja tinggi.

Sebenarnya, tidak sedikit masyarakat kita yang hidup sehat walaupun merokok. Namun para aktivis antirokok selalu mengatakan bahwa ini adalah kasus-kasus yang jarang terjadi. Padahal ya, silakan dicek, masih banyak para orang tua yang sudah sepuh tetap sehat dan beraktifitas tanpa meninggalkan kreteknya. Para orang tua ini tetap saja menghisap kretek tanpa peduli petuah kesehatan sambil tetap beraktifitas dan menjaga pola hitup yang teratur.

Inilah hal yang tidak mau dipahami para aktivis antirokok itu. Bahwa betul rokok memiliki faktor resiko terhadap penyakit tertentu, tapi tidak bisa dijadikan ‘bantalan’ dari segala penyakit yang dimiliki masyarakat. Tentu tingginyan angka penderita penyakit tidak menular di Indonesia disebabkan begitu banyak faktor, termasuk juga stres dan polusi udara yang mereka alami di perkotaan.

Kalaupun ada sakit yang sudah pasti disebabkan oleh rokok, penyakitnya cuma satu: sesat pikir yang dialami mereka para pembenci rokok.