Saya Perokok Asbak

rokok
rokok

Seringkali kita mendengar istilah tentang perokok asbak. Satu istilah yang ditujukan kepada orang yang tidak memiliki kepastian jenis rokok yang dihisapnya. Istilah yang ditujukan kepada orang yang tak punya selera tertentu dalam merokok, baik dari jenis rokok maupun merk rokok tertentu.

Perokok asbak adalah julukan yang disemayamkan pada orang yang mau merokok apa saja. Karena dia mau merokok apa saja, dia dianggap seperti asbak yang mau menerima abu atau puntung rokok dari jenis atau merk apapun, tanpa memilih, tanpa terkecuali.

Saya sendiri saat ini memiliki dua jenis rokok dari dua merk yang berbeda. Satu rokok kretek mild menthol, dan satu lagi adalah kretek non filter. Dua rokok itu selalu ada di kantong saya, dua jenis yang sebenarnya sangat berbeda, namun dimulut saya, keduanya sama-sama nikmat. Walau masing-masing punya waktu tersendiri untuk dinikmati. Misalnya kretek non filter yang akan saya hisap ketika kopi hitam saya masih hangat. Sementara yang kretek mild menthol, bisa saya hisap kapan saja.

Tapi jika keduanya telah habis, dan saya malas untuk keluar membeli rokok, maka tak ragu bagi saya untuk meminta rokok dari kawan. Walapun jenis dan merk rokok kawan itu berbeda dari yang biasa saya hisap, tapi saya tetap bisa menikmatinya namun mungkin konteksnya lebih pada selingan saja, sampai akhirnya saya membeli lagi rokok lain.

Namun sebenarnya saya pernah mengalami masa dimana saya tak punya pegangan jenis rokok apapun yang saya hisap. Pada masa masih kuliah, hal itu saya alami. Rokok apa yang ada di depan saya, maka saya akan hisap. Baik punya saya sendiri, ataupun punya kawan.

Demikian bukan berarti saya tak punya selera atas sebuah jenis atau merk rokok kesukaan saya sendiri. Kretek filter adalah idola saya pada masa kuliah dulu, bisa dibeli eceran atau bungkusan. Walau lebih banyak beli eceran, karena isi kantong yang memang berisikan pecahan uang receh.

Kondisi kantonglah yang sebenarnya membuat saya menjadi seorang perokok asbak, jika recehan di kantong sudah habis, tentu rokok kawan yang menjadi sasaran. Berbeda jenis dan merk tak masalah, karena mulut butuh kumuran asap, dan tubuh butuh relaksasi dari sebatang yang penuh kenikmatan itu.

Saat ini isi kantong saya masih recehan, karena lembaran besar ada di dompet dan di rekening. Dan saya telah memiliki rokok yang menjadi selera saya, seperti yang tersebutkan di atas. Namun pola atau identitas perokok asbak yang berjalan selama bertahun-tahun tersebut, membuat saya tak terlalu mengalami kesulitan jika satu saat saya harus menghisap rokok jenis yang lain.

Istilah perokok asbak menurut saya memiliki kecenderungan konotasi negatif, yang ditujukan kepada seseorang. Seolah orang tersebut tak punya selera. Padahal, mungkin, faktor terbesarnya seseorang menjadi perokok asbak adalah soal ekonomi.

Tapi sial memang, tiap perokok itu memang memiliki nilai-nilai sosial yang cukup tinggi. Dalam hal ini, perokok tak ragu untuk mau berbagi. Jadi bisa jadi, perokok lain yang dimintai rokoknya oleh seorang perokok asbak, tanpa disadari telah mendorong tumbuh dan hidupnya para perokok asbak. Sementara di sisi lain, ia tetap meledek si perokok asbak itu. Dan perokok asbak, tetap cuek, menikmati setiap hisapannya.

Karena alasan solidaritas atau memang mungkin saya memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk mau berbagi, maka ketika saya saat ini sudah bisa membeli rokok bungkusan dengan selera tertentu, saya tak ragu untuk mau membagi rokok saya kepada perokok lain. Perokok asbak khususnya.

Mungkin, jika dunia ini adil, jika Negara telah benar-benar memakmurkan rakyatnya, menerapkan dengan baik keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya dalam hal ekonomi, maka perokok asbak akan sirna secara perlahan.

Itu kondisi yang ideal, bukan kondisi yang nyata saat ini. Jadi perokok asbak masih akan banyak jumlahnya, sebanyak jumlah orang yang kantongnya berisi uang recehan. Dan jika anda adalah perokok asbak, silahkan cicipi rokok kesukaan saya, saya tak akan ragu berbagi. Tapi ingat, korek yang anda pinjam untuk menyalakan rokok, ditaruh kembali, jangan dikantongi.