Manusia Indonesia dan Bungkus Rokok

Manusia Indonesia adalah warga dunia yang terlahir dengan daya kreatif yang istimewa. Lentur dalam menyikapi berbagai perubahan. Tercatat dalam rentang sejarah-budayanya, dengan anugerah alam yang terhampar di sekitarnya, manusia Indonesia mampu menghadirkan pelbagai jenis rumah serta perkakas pendukungnya, dari bambu, ijuk, lempung, pohon kelapa, dan sebagainya. Di ranah seni musik, dari tanaman bambu saja beragam alat musik dapat dibuat. Jauh sebelum nama Indonesia ada bahkan, dari sebatang rumput pun dapat dikreasikan menjadi sebuah serunai. Dengan demikian kita patutlah berbangga.

Namun  pada abad distribusi ini, terbilang sudah tidak ada yang baru lagi. Kebaruan lebih sering muncul dari daya adaptasi. Berbagai temuan tak lepas sebagai upaya melanjut-kreasikan gagasan besar yang sudah ada. Bahkan yang paling ekstrim hanya membalikkan ide-ide yang pernah diwujudkan orang-orang sebelumnya. Dari kesemua itu disebabkan zaman semakin menantang dan menuntut penyesuaian. Pada aras itulah keniscayaan bekerja.

Seperti juga kretek. Dari generasi ke generasi mengalami perubahan tren. Dari masa ke masa tak sedikit bermunculan nuansa kebaruan. Bisa ditilik dari bermacam inovasi yang dibunyikan melalui bahasa iklan pada berbagai media. Mulai dari inovasi rasa, bentuk, serta kemasan (bungkus rokok) yang menyiratkan daya gugah tersendiri, bersesuai dengan citra yang ingin dicapai. Yap. Setiap zaman memiliki semangat dan nilainya masing-masing.

Mungkin hari ini kita masih bisa melihat adanya kreasi dari bungkus rokok yang mewujud sebagai asbak dan tas. Entah di masa datang. Miungkin bungkus rokok sudah bisa dimakan, alih-alih (jika kelak) demi menekan angka sampah di masa depan. Pada masa yang lewat bahkan, pernah ada satu kesibukan lain dari sekelompok orang yang menguliti timah grenjeng. Untuk dipadatkan sampai berat tertentu agar dapat diuangkan. Ada juga orang-orang yang mengidentitaskan dirinya dengan mengkoleksi merek rokok kebanggannya, yang biasanya disusun rapi pada ruas ventilasi di atas pintu kamar.

Kemarin misalnya, waktu saya berkesempatan menginap di Jangkang Besi, Jogjakarta. Hal serupa masih saya dapati pada rumah makan di pinggir jalan bernama Ibra Minang. Ruas ventilasi pada pintu rumah usahanya itu penuh diisi dengan bungkus rokok kosong. Dari merek rokoknya dapatlah diketahui—sebut saja Uda—adalah penghayat kretek.

Dan satu sikap etik yang menjadi penilaian tersendiri bagi saya adalah saat Uda itu melayani pesanan. Kretek dalam hisapannya dia taruh terlebih dahulu sebelum menjalani laku usahanya membungkus pesanan pembeli. Bagi saya—yang juga kretekus—sikap itu tentu bukan semata-mata perkara etik belaka, namun pula menyangkut penghormatan terhadap produk usahanya. Yaiyalah. Tak elok kalau dia biarkan rokok tetap menempel di mulut. Coba apa jadinya, jika ada abu rokok yang jatuh ke makanan. Sama halnya jika kita menemukan sehelai rambut pada nasi bungkus yang sedang kita makan. Mungkin bagi sebagian orang tak soal, tapi bagi lainnya bisa merusak selera makan.

Ada dua hal yang membuat saya cukup mengaguminya pada kesempatan itu. Pertama, soal sikap etiknya sebagai perokok. Dan yang kedua, perihal bungkus rokok yang sengaja disusunnya itu, yang diniatkannya sebagai penghalau debu. Lantaran ia tahu betul resiko tempat usahanya yang berada di pinggir jalan. Pertanyaan saya di benak kemudian, kenapa Uda itu tidak membeli saja kain strimin yang umumnya  digunakan untuk itu?

Pertanyaan ini memang tidak saya lontarkan kepadanya. Saya berusaha menjawabnya sendiri. Boleh jadi itu merupakan upaya berhemat yang dipilihnya. Berhemat dalam arti, kalau ada barang di sekitar yang masih bisa dimanfaatkan, buat apa juga harus jauh-jauh untuk membelinya. Atau mungkin ada satu hal artistik yang dimaknainya dari bungkus-bungkus rokok tersebut. Dan dia masih mempertahankannya, yang boleh dikata merupakan cara lain dalam membahasakan dirinya; sebagai penghayat kretek.