Melestarikan Tembakau Deli

Krisis lahan dan konflik yang menyertainya memang menjadi satu persoalan penting di hampir semua sektor pertanian. Tergerusnya lahan untuk bertani sebagai salah satu dampak dari pembangunan membuat komoditas tanam kita semakin berkurang. Hal ini juga yang mengancam pertanian tembakau Deli di Sumatera Utara.

Keberadaan tembakau Deli saat ini semakin tergerus karena berbagai faktor seperti perkembangan Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumut yang begitu pesat. Kebutuhan pembangunan guna mempecantik sebuah kota acapkali menyerap lahan-lahan yang dulunya digunakan sebagai tempat bertani, kini beralih fungsi menjadi gedung-gedung perkantoran atau perumahan.

Untuk persoalan lahan di Sumatera godaan bukan hanya datang dari pembangunan, tapi juga godaan dari perkebunan sawit. Sebagai sebuah sektor perkebunan yang dianggap praktis dan menguntungkan, sawit menjadi primadona di Sumatera Utara yang membuat banyak petani mengalihkan lahannya untuk menanam sawit.

Sebagai sebuah komoditas yang sangat legendaris dan menjadi salah satu ikon Sumatera Utara, tembakau deli tidak boleh hanya menjadi sejarah. Selain itu, tembakau Deli juga menjadi salah satu tembakau terbaik di dunia dan masih memiliki pasar tetap di Bremen Jerman dan kemudian tersebar ke berbagai pasar di Eropa dan Amerika dalam bentuk cerutu. Karenanya, komoditas ini menjadi salah satu pemasukan devisa terbesar pemerintah daerah dalam bentuk ekspor tembakau.

Dalam sejarahnya, Deli dikenal dunia sebagai salah satu penghasil bahan pembungkus cerutu (wraffer) terbaik dunia. Karena kualitasnya inilah, tembakau Deli menjadi komoditas yang diserap di pasar global. Karenanya, perkembangan pertanian tembakau di Deli turut mendongkrak kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kota Medan (saat itu Deli termasuk dalam wilayah Medan) pun berkembang sebagai sebagai pusat perdagangan dan pusat pemerintahan di wilayah itu.

Dengan latar sejarah dan pencapaian yang telah diberikan tembakau ini kepada Sumatera Utara, agak miris jika kemudian lahan untuk menanam tembakau ini justru digerus untuk persoalan lain. Meskipun pembangunan (fisik) penting, namun agaknya pemerintah propinsi Sumut haruslah bijak menyikapi ini.

Jangan sampai sejarah panjang tembakau Deli dan segala yang telah diberikannya hanya menjadi kisah yang bisa diwariskan kepada generasi penerus. Sebagai salah satu komoditas yang menguntungkan, harusnya tembakau Deli diberikan ruang yang lebih untuk bisa berkembang. Jangan hanya karena dorongan kampanye anti tembakau, kemudian pemerintah melupakan potensi ekonomi yang besar dari komoditas ini.

(Visited 69 times, 3 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam