Kopi, Rokok dan, Batik di Lasem

Lasem memang tidak ramai dikenal dalam dunia perkopian Indonesia. Lasem lebih dikenal sebagai daerah sentra batik dan pemukiman Tionghoa, lebih tersohor sebagai L’Petit Chinois / Cina Kecil. Memang tidak ada perkebunan kopi di sekitar Lasem, namun bukan berarti Lasem tak lekat dengan kopi. Sebagai daerah yang erat dengan kultur kopi, Lasem memiliki budaya minum kopi yang kental, unik dan mungkin jarang ditemui di daerah-daerah lain.

Pada siang yang panas, di sebuah sudut Lasem saya bertemu Pak Karjin, seorang pemilik warung kopi di Lasem. Siang itu saya disuguhinya kopi hitam tanpa gula dalam cangkir ukuran kecil. Tidak ada yang istimewa dari kopi yang saya terima. Pak Karjin memasukkan bubuk kopi lalu dituangkannya air panas ke cangkir, begitu saja.

Namun justru ada yang unik dari cangkir kopi di Lasem. Beberapa gagang cangkir di warung-warung kopi di Lasem diganti dengan seng yang membebat kepala cangkir. Unik memang. Menurut Pak Karjin hal ini karena gagang cangkir bawaan biasanya mudah pecah lalu patah.

“Warung ini sudah puluhan tahun mas, dulu punya ibu. Sekarang saya tinggal nerusin,” ujar Pak Karjin sambil melayani pembeli yang lain. Walaupun sederhana, warung ini selalu ramai pengunjung. Layaknya kultur warung kopi, warung ini penuh dengan orang-orang yang sekedar menghabiskan hari dan terlibat diskusi satu sama lain. Diskusi apa? Entahlah, tapi sepertinya seru.

“Ya, begini mas, kalo siang rame. Mungkin sekalian leyeh-leyeh. Ngopi, makan gorengan, ngobrol-ngobrol” lanjut Pak Karjin. Warung kopi berdinding bambu siang itu memang agak sesak, penuh pengunjung.

“Buka jam pinten mas?” tanya saya.

“Biasanya buka jam 4 pagi mas, nyubuh. Tutupnya maghrib.” Jawabnya.

Saya lalu menyeruput kopi racikan Pak Karjin dalam-dalam. Hmm, khas kopi di desa-desa, sedikit asam dan pahitnya kuat. Saya lantas mengerjap-ngerjapkan lidah untuk menetralisir rasa pahit. Ini saja? Tunggu dulu. Alasan saya datang ke Lasem tidak untuk menyeruput kopi saja, buat apa jauh-jauh ke Lasem hanya untuk secangkir kopi?

Saya menatap seorang bapak yang duduk di meja samping. Ia meminta tisu pada Pak Karjin. Saya berpikir, buat apa tisu itu? Bapak itu juga meminta tatakan cangkir. Lalu ia mengambil sebotol cuka. Ha? Buat apa cuka itu? Melihat saya yang kebingungan, Pak Karjin meminta saya duduk di depan bapak itu. Pertunjukan dimulai.

Bapak tadi menuangkan ampas bekas kopinya di atas tatakan cangkir dengan hati-hati. Ampas kopi itu kental dan pekat. Kemudian ampas kopi tadi dialasi tisu, yang berfungsi untuk menyerap air yang tersisa pada kopi. Dan terakhir, sang bapak meneteskan sesuatu dari botol cuka tadi. Rupanya itu bukan cuka, namun susu. Susu yang dicampurkan pada ampas kopi juga berfungsi sebagai lem untuk ampas kopi sehingga menempel pada kertas rokok.

“Adonan” dari ampas kopi, tisu, dan susu tadi telah selesai tercampur. Kemudian bapak tadi mengambil tusuk gigi dan rokok. Perlahan tusuk gigi tadi dicelupkan ke dalam adonan, dan sang bapak kemudian mulai melukis rokok tadi dengan adonan ampas kopi. Itulah pertunjukan utama di warung-warung kopi di Lasem: ngelelet.

Ngelelet adalah budaya ngopi yang khas dari Lasem dan kemudian menyebar ke kawasan Rembang dan sekitarnya. Budaya ini erat dengan tiga kata: batik, rokok dan kopi. Para lelaki Lasem biasanya ke warung kopi untuk melepas penat, bertemu rekan sejawat lalu mengobrol banyak hal. Nah, dari situlah kemudian lambat laun muncul kreativitas untuk mengisi waktu daripada hanya sekedar mengobrol tak tentu arah. Mulailah mereka ngelelet/ menempelkan ampas kopi pada sebatang rokok.

Aktivitas ngelelet yang dilakukan oleh lelaki-lelaki Lasem jika dipandang dari perspektif seni tentu saja masuk ke dalam kategori seni lukis. Bagaimana tidak, sebatang rokok merupakan kanvas lukis bagi para lelaki pecandu kopi Lasem. Lalu apa hubungannya dengan batik?

Ya, batik yang merupakan tradisi turun temurun di Lasem serta membuat Lasem tersohor adalah sumber inspirasi saat ngelelet. Pola-pola batik yang rumit tadi dilukiskan pada sebatang rokok. Dengan cekatan sang bapak tadi membatik diatas rokok. Jika kain adalah kanvas untuk pembatik, maka rokok adalah kanvas untuk penglelet. Jika canting adalah media untuk membatik, maka tusuk gigi adalah senjata untuk menggores pola pada sebatang rokok. Alat untuk melelet tidak terbatas hanya tusuk gigi, terkadang bisa dengan benang untuk memberi warna tipis pada rokoknya.

Kopi untuk kopi lelet ini membutuhkan proses yang sedikit rumit. Pak Karjin kemudian berbagi rahasia Kopi Lelet. Kopi untuk Kopi Lelet dibelinya dari pasar, Pak Karjin sendiri tidak tahu kopi tersebut asalnya dari mana. Kemudian kopi tersebut digoreng sendiri. Nah, kunci untuk Kopi Lelet terjadi pada proses pasca penggorengan, yaitu proses penggilingan.

Proses penggilingan Kopi Lelet dilakukan berulang kali, bisa sampai 6 – 7 kali penggilingan. Hasilnya adalah bubuk kopi yang lembut dan halus, hampir seperti bedak. Namun karena proses penggilingan tersebut dilakukan berulang kali, kopi pun semakin berkurang. Pak Karjin bertutur, dari 1 kilogram kopi, setelah 6 – 7 kali penggilingan mungkin hanya tinggal 400 – 500 gram bubuk kopi, menyusut banyak sekali.

Kopi yang halus ini adalah kunci utama menghasilkan leletan yang sempurna. Residu kopi yang dihasilkan adalah residu yang kental dan pekat, sehingga mudah menempel saat dileletkan pada batang rokok tadi. Itulah mengapa kopi yang saya seruput tadi agak kental. Rupanya memang karena kopi hasil penggilingan yang berulang kali tadi yang menghasilkan kopi yang kental sebagai bahan leletan.

Pak Karjin kemudian menambahkan satu hal lagi. Selain kopi multiple gilingan tadi, elemen yang tak boleh terlupa adalah pemilihan rokok. Sebenarnya semua rokok bisa jadi menjadi kanvas saat melelet. Namun ada beberapa rokok yang kertas rokoknya bertekstur halus dan menjadi kanvas terbaik untuk me-lelet. Rokok-rokok mild lah yang biasanya digunakan untuk melelet, karena rata-rata rokok jenis itu memiliki tekstur kertas rokok yang halus sehingga mudah dijadikan media lelet dan ampas kopi akan cepat menempel.

Bagaimana rasanya rokok hasil leletan? Karena saya bukan perokok, saya kemudian bertanya pada bapak tadi bagaimana rasanya rokok berlumur ampas kopi. “Sedep mas, aroma kopinya masuk, cuman ya itu tadi jadi agak berat nyedotnya.”

Mungkin bisa jadi karena ampas kopi tadi kemudian merembes melewati kertas rokok dan bercampur dengan tembakau sehingga menimbulkan aroma kopi pada sela-sela hisapan rokok. Dan ampas kopi yang menempel tadi membuat rokok agak susah terbakar, sehingga menjadi berat saat dihisap.

Tidak memiliki kebun kopi, tidak berarti Lasem sepi dari kultur kopi. Justru sintesa dari batik dan budaya minum kopi lelaki Lasem kemudian menghasilkan budaya minum kopi yang unik, yaitu kopi lelet. Hal ini ditambah dengan rokok yang menjadi peneman minum kopi sekaligus media untuk melelet. Kopi lelet tanpa rokok ibarat Romeo tanpa Juliet.

Jika di Belitung warung kopi adalah tempat bertukar diskusi, maka di Lasem menikmati kopi adalah sekaligus menikmati seni. Seni ngelelet sangatlah khas dan ditemui di tempat lain. Paduan kopi, rokok, dan batik menghasilkan budaya kopi yang baru. Di antara panas kopi dan asap rokok yang mengepul, kultur minum kopi di Lasem menjadi hidup dengan adanya kopi lelet.

Pertunjukan selesai dan saya mohon pamit pada Pak Karjin dan sang bapak yang telah menunjukkan demonstrasi kopi lelet pada saya.

Untuk Kopi Lasem yang nikmat dengan kultur minum kopinya yang unik saya hanya perlu mengeluarkan dua ribu rupiah. Benar-benar murah untuk pengalaman yang mungkin tak ternilai harganya. Dua ribu untuk secangkir kopi: hanya sepersepuluh dari secangkir kopi di kedai kopi mewah di kota besar.

*Sebelumnya pernah dimuat di Minum Kopi