Mengenal ‘Tari Kretek’ yang Genit

Kabupaten Kudus patut berbangga hati. Selain dikenal dengan sebutan Kota Kretek, atau Jenang sebagai makanan khasnya, kota yang juga dikenal dengan ‘Kota Santri’ itu masih punya gairah tinggi dalam melestarikan budaya kesenian. Seperti Tari Kretek yang sampai hari ini masih terjaga dengan apik.

Pernahkah anda melancong ke Kota Kudus? Eitss.. kalau belum, rencanakan segera untuk pergi ke sana. Sesampainya di sana, anda jangan sebatas menikmati kekayaan kulinernya saja. Kudus menawarkan sebuah produk seni budaya yang sangat indah; Tari Kretek. Anda sebagai kretekus wajib tahu tarian ini.

Ya, Tari kretek ini merupakan sebuah tarian kolosal. Tari ini dibawakan beberapa penari perempuan sebagai representasi buruh mbatil dan satu penari laki-laki, sebagai representasi seorang mandor. Seperti halnya tari tradisional khas Jawa lainnya, tari ini pun mengenal beberapa patokan-patokan dalam ’lakon’ atau peran yang dibawakan. Terdiri dari mandor, penjor (asisten mandor) dan beberapa penari wanita. Setiap pelaku memiliki tugas yang berbeda-beda.

Usut punya usut, Tari Kretek ini menggambarkan aktivitas buruh (bathil) rokok di Kudus. Para penari perempuan, menari laiknya proses pembuatan rokok kretek. Mulai dari memilih tembakau, merapikan batang rokok dengan memotong bagian ujungnya, hingga mengantarkannya ke seorang mandor laki-laki untuk diperiksa.

Tidak cukup sampai di situ, kelenturan yang aduhai dalam gerakan tangan para penari ini menggambarkan bagaimana cekatan dan terampilnya para buruh bathil dalam membuat dan melinting setiap batang rokok kretek. Adanya gerakan-gerakan genit dalam lenggak-lenggok si penari perempuan, menjadi daya tarik tersendiri.

Konon, gerakan genit macam ini disimbolkan sebagai upaya buruh rokok perempuan untuk menarik hati para mandor agar rokok kretek yang dibuatnya lolos sortir. Para buruh baru bisa tersenyum lega ketika melihat sang mandor puas melihat rokok yang diperiksanya. Namun, tak jarang para mandor memasang muka masam melihat buruknya kualitas bentuk rokok buatan tangan tersebut. Jika sang mandor sudah tersenyum, atau mesam-mesem, bisa dipastikan rokok akan lolos sortir.

Karena tingkah para buruh bathil tersebut, maka muncul guyonan agar rokoknya tak banyak disortir, pembathil harus mampu ”menggoda” para mandor dengan senyumannya. Sang mandor tak kalah genit.Ia pun kerap tebar pesona agar para buruh bathil, terutama yang cantik- cantik, jatuh hati padanya. Sang mandor pun digambarkan selalu mondar-mandir mengelilingi penari perempuan. Mereka memeriksa setiap pekerjaan para buruh perempuan. Tak jarang mereka bertolak pinggang menunjukkan kekuasannya.

Mungkin para kretekus bertanya-tanya, kapan Tari ini muncul?

Ide untuk membuat Tari Kretek ini bermula dari gagasan Gubernur Jawa Tengah Sutarjo Rustam. Kala itu, ia meminta kepada Kasi Kebudayaan Dwijisumono, agar dibuatkan sebuah tari khas Kudus. Tujuannya agar ada sebuah tarian pada saat mengesahkan museum kretek pada tahun 1986.

Gara-gara permintaan dari Gubernur itulah, Dwijisumono memberikan kepercayaan kepada Endang selaku pengajar tari di Kudus yang cukup terkenal. Ia juga merupakan pemilik sanggar tari Puring Sari, yang berada di Desa Glantengan. Endang menyatakan bersedia. Ia pun melakukan penelitian terlebih dahulu selam dua pekan sebelum menciptakan tarian.

Karena Kudus sebagai cikal bakal berdirinya kretek di Nusantara, tentu memberikan ide bagi Endang untuk memasukkan unsur pekerja kretek dalam tarian. Endang yang kala itu bekerjasama dengan Djarum, berusaha keras mengamati dan mempraktikkan secara langsung proses pembuatan rokok. Hingga terciptalah Tari Kretek.

Semula Endang memberi nama tariannya sebagai Tari Mbatil bukan Tari Kretek. Namun, karena nama mbatil tidak begitu dikenal di masyarakat luas, nama kretek dianggap lebih pas untuk tari ini. Sesuai dengan permintaan dari Gubernur Soepadjo Rustam, Tari Kretek kali pertama ditampilkan dalam peresmian Museum Kretek pada 3 Oktober 1986.

Ditahun yang sama, sanggar Rari Puring Sari milik Endang, menerjunkan 500 penari kretek. Sejak acara pembukaan Museum Kretek, Tari Kretek banyak digunakan sebagai acara pembuka, dalam berbagai acara besar di Kabupaten Kudus.

Melihat semakin populernya Tari Kretek, Endang dibantu Djarum Foundation mendaftarkan hak cipta Tari Kretek ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, Maret 2015. Meski sempat adanya kendala dalam proses pengajuan hak cipta, akhirnya Tari kretek pun mengantongi hak cipta dengan nomor pencatatan 073482.

Kebahagiaan Endang dari hasil penciptaannya atas Tari Kretek ini pun terlihat sudah. Antara lain dengan banyak masyarakat yang mempelajari Tari Kretek, bahkan tak sendikit mahasiswa dari berbagai universitas menjadikan Tari Kretek sebagai judul skripsinya. Tak sebatas itu, tari ini juga pernah ditampilkan di luar negeri.