Rokok dalam pergerakan

Tentu sangat sulit kita mengatakan bahwa rokok tidak memberikan kontribusi besar terhadap negara. Kenapa demikian? Karena penyumbang pajak terbesar sebagai pendapatan negara adalah perusahaan rokok. Coba Anda bayangkan, berapa juta orang pengangguran dan kehilangan lapangan kerja jika perusahaan rokok ditutup.

Tidak memungkiri juga bahwa tak sedikit yang menganggap rokok bisa menyebabkan kanker, serangan jantung dan impoten meski faktanya bukan indikator utama. Apapun dampak negatifnya, rokok bagi para pengisapnya membawa keberkahan dan manfaat tersendiri.

Ya, rokok dianggap sebagai sahabat saat jenuh dalam kesendirian, saat istirahat dari aktivitas kampus dan kehidupan dunia yang penuh tanda tanya. Rokok juga dianggap menjadi salah satu perekat sosial sesama teman baru ataupun teman lama.

Bercanda ria dengan secangkir kopi hangat dilengakapi dengan sebatang rokok saat di warkop dekat kampus, kos-kosan, di teras rumah sesudah makan ataupun sambil membaca buku menjadi nikmat tak terkira. Nikmat yang harus kita rasakan sepenuh hati.

Bagi para aktivis macam saya, sudah pasti ada yang hilang saat diskusi tidak ditemani rokok. Ada separuh jiwa yang hilang saat rokok tidak berada di kantong atau di tengah jemari.

Kalau kita menilik sejarah gerakan aktivis mahasiswa, rokok dan kopi selalu hadir menemani setiap agenda diskusi, debat, aksi demonstrasi maupun saat advokasi. Rokok pun selalu menjadi kawan akrab saat sebuah oase dalam ketandusan dan paceklik pikiran mahasiswa dalam mengurai benang kusut problem sosial kebangsaan di malam hari.

Rokok telah menjadi energi positif di kala aktivitas kuliah yang menjenuhkan. Rokok telah menjadi pacar romantis dalam kegalaun, kemalasan dan kekerdilan berpikir. Ia seringkali mampu berkata dan bertindak dalam mengarungi dialektika keilmuan dan diskusi-diskusi yang menyangkut ketimpangan sosial.

Sebuah kerancuan yang luar biasa jika kemudian rokok dimaknai sebagai ‘stereotip’ oleh para ahli kesehatan. Meski rokok dalam pemahaman dokter dianggap sejenis sabu-sabu yang jika dikonsumsi akan berakibat fatal bagi kesehatan, ternyata bisa menjadi obat mujarab dalam menyembuhkan penyakit kekerdilan dan kebuntuan berpikir.

Disadari atau tidak, rokok seringkali dianggap kalangan aktivis mahasiswa sebagai pemicu daya kritis, dalam menganalisis setiap persoalan sosial dan gerakan parlemen jalan. Sebagai masayarat sosial yang sering berinteraksi, tentu akan terasa hambar jika obrolan hanya ditemani gorengan saja. Rokok bisa menjadi teman obrolan yang membuat betah.

Sekali lagi, bukan bermaksud untuk mengagung-agungkan rokok. Bahkan tanpa dia segalanya tak bermakna. Tidak sama sekali demikian, akan tetapi rasanya ingin makhluk seperti rokok juga memiliki manfaat yang luar biasa dan dihargai jasa-jasanya dalam dunia pergerakan. Coba bayangkan ketika para aktivis tak lagi mampu membeli rokok, tak ada kopi di tengah diskusi mereka. Tentu saja mereka akan mengalami kemunduran dalam mendiskusikan wacana keilmuan. Tulisan ini sama sekali tidak berlebihan. Jika boleh jujur, kegiatan ini sudah menjadi realita di kalangan aktivis mahasiswa.