Memahami Isarat-Isarat Mereka yang Non-Perokok

Percayalah, dalam hidup tak ada sesuatu yang tunggal. Jika tak pro-kontra, kemungkinannya akan berbeda. Ini hukum sederhana. Nah, dalam semua pro-kontra dan perbedaan itu, hanya ada dua kemungkinan, ia yang memilih untuk berkonfrontasi dan yang mengendap dalam prinsip masing-masing orang.

Di Indonesia, perkara berbeda dalam agama termasuk yang paling mudah mengemuka untuk kemudian berkonfrontasi. Agama bagi masyarakat kita mungkin menjadi ruang yang paling sensitif untuk disentuh apalagi ditentang. Ia bisa dengan mudah menjalar begitu cepat, yang bahkan eskalasinya tak bisa diprediksi siapapun.

Nah, perkara rokok ini agak mirip-mirip. Meski tingkat sensitivitasnya berada jauh di bawah perkara agama, tapi bukan tidak mungkin bisa dengan mudah mengemuka. Memang tak memancing konflik secara langsung, tapi ia akan menjadi semacam kepercayaan atau keyakinan antara yang pro dan kontra.

Bagi mereka yang pro, melihat para kelompok para anti rokok itu tak ubahnya seperti para korban-korban pembodohan massal. Mereka mungkin akan bergumam, “Ah, andaikan mereka tahu bahwa mereka itu adalah korban-korban hoax”. Sementara yang kontra akan bilang, “Kasihan sekali mereka, ya. Hidupnya hanya terus mencari pembenaran”.

Nah, ngeri kan? Jika sudah begitu, ya tinggal kita nikmati saja perang dingin antara dua kubu itu.

Agar perang dingin itu tidak berubah menjadi konflik terbuka, maka perokok mestinya mengenali gejala umum terjadinya perang dingin dalam bentuk isarat-isarat penolakan para anti-rokok. Tak harus untuk ditentang, namun pahamilah, selalu ada cara-cara elegan untuk melawan segala bentuk penindasan. Hahahaa

Berikut beberapa isarat para anti-rokok di ruang publik.

Menoak terang-terangan

Kelompok ini mungkin tak memikirkan jauh mengenai kemungkinan terjadinya konflik terbuka. Sikapnya dilakukan tanpa tedeng aling-aling. “Agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku”. Atau dalam bahasa kekinian, “senggol bacok”. Umumnya, mereka adalah kelompok yang meyakini bahwa hukum rokok adalah haram. Dalam agama, biasa disebut kelompok ekstrimis.

Mereka akan dengan mudah menatap sinis. Meski menolak atas dasar dalil agama, tapi kadang juga berargumentasi dengan dalil kesehatan. Mulutnya akan dengan mudah mengkritik para kelompok yang pro. Memang populasinya tak banyak. Tapi bukan tidak mungkin orang-orang model beginian akan semakin banyak dan tampil di depan umum. Maka kenali dan pahamilah akar-akarnya. Tentu saja dengan gejala-gejala kecil lain, seperti yang akan dibahas pada poin berikutnya.

Menutup hidung

Kelompok ini mungkin hanya akan menatap sinis. Tak akan lebih jauh membuat konflik terbuka. Tapi tetap, terkadang sikap mereka bikin sebagian perokok enggak percaya diri. Iya tho? Sudah ngaku saja. Misanya, di tengah kumpul-kumpul santai, meski tak ada larangan untuk merokok, mereka bisa sekonyong-konyong menutup hidung. Biasanya dilakukan perempuan, tentu saja, karena asap yang dikeluarkan kadang sembarangan. Tapi perokok juga mesti tahu, yang mereka lakukan hanya bentuk perlindungan diri. Jadi tak usah ditanggapi dengan serius lha ya. Cukup membelokkan asap agar jauh-jauh dari muka mereka.

Mengajukan pertanyaan

Jujur saja, kelompok ini yang paling saya benci. Mereka umumnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan klise, macam keuntungan merokok. Merokok hanya membuang-buang duit. Membunuh diri sendiri. Dan sejumlah pertanyaan klise lainnya. Kalo sudah berhadapan dengan kelompok ini, ingin rasanya mengajak ia makan kerupuk dengan sebaskom cabe rawit sampe mules-mules dan berak sekebon.

Bagi mereka, persoalan rokok itu mungkin hanya persoalan untung rugi dan melulu soal kesehatan. Ah, saya tahu mungkin dia bercita-cita ingin menjadi motivator ulung atau seorang trainer di salah satu televisi swasta. Atau ingin menjadi konsultas di perusahaan ternama, mungkin?

Bagi kelompok ini persoalan hidup mungkin dilihat dari kacamata matematis untung rugi. Dipikir hidup selalu dilihat dari sudut pandang angka.

Tapi, kadang kelompok yang mengajukan pertanyaan ini ada juga yang lebih lunak. Ia memang tak suka, karena tidak kuasa untuk melarang, maka hanya bisa mengajukan pertanyaan. Ah, para jomblo tentu tak tahu untuk bagian ini. Sudahlah.

Membuat aturan internal

Ini biasanya dilakukan oleh sebuah keluarga, karena misalnya, tak ada anggota keluarga yang merokok. Kelompok ini dibagi dua: ekstremes dan selow. Untuk yang pertama, ini agak mirip-mirip dan mungkin bagian yang pertama yang sudah saya jelaskan. Ciri-cirinya mudah dilihat, misalnya di rumahnya tak ada sesuatu apapun yang berkaitan dengan rokok, asbak misalnya. Tak ada tamu yang berani merokok di rumah keluarga model ini. Intinya, merokok dilarang. Titik. Tak ada toleransi.

Nah, sementara sisanya lebih woles. Sama, anggota dalam keluarga ini tak ada yang merokok. Namun ia masih menghargai para tamunya yang merokok. Cirinya, mereka biasanya tersedia asbak di rumah. ia tergletak di ruang tamu dalam keadaan bersih. Kadang bahkan, mereka sesekali merokok untuk menghargai tamunya.

Selain keluarga, bentuk aturan internal ini biasa diterapkan di organisasi. Aturan ini biasanya hanya diterapkan pada saat-saat tertentu aja, seperti ketika sedang rapat. Atau, untuk ruangan tertentu saja, karena keterbatasan tempat.  Tapi ada kesimpulan jika ada aturan ini ada dalam sebuah organisasi: sebagian besar atau notabene anggota organisasi tersebut adalah non-perokok. Anda yang perokok  siap-siap saja menerima perlakuan atau peraturan yang sewaktu-waktu bisa berubah dan merugikan Anda nantinya. Dilarang merokok, misalnya?

Membuat kontrak perjanjian (pacar)

Ah, lagi-lagi jomblo pasti tak mungkin tahu untuk poin yang ini. Jadi sebaiknya tak usah dilanjutkan. Poin ini khusus bagi mereka yang merasa bukan jomblo. Satu lagi, ehem, begini, jadi Anda tahukan siapa penulisnya?

Nah, persoalan ini memang agak rumit. Tapi sebagian besar cowok kadang menurutinya. Ada beberapa kelompok pasalnya. Pertama, mereka yang manut pada sang pacar. Apapun yang dikatakan, si cowok akan menuruti, termasuk aturan untuk berhenti merokok. Jika masih untuk tidak merokok di depan, mungkin masih dibilang wajar. Tapi jika, sudah melarang, ya itu urusan pribadi sih. Hahaa

Kedua, kelompok yang melarang pacarnya untuk tidak merokok di depan si cewek. Sementara jika sedang tidak bersama, sah-sah saja. Model cewek begini patut dipertahankan. Baginya, persoalan rokok adalah hak. Bukan kewenangan untuk melarang, karena sudah sama-sama mengerti baik dan buruknya. Asal tak merugikan hubungan mereka, tak ada soal untuk rokok.

Ketiga, mereka yang malu-malu kucing. Di sisi lain, mereka ingin misalnya, si cowok berhenti merokok. Tapi tak kuasa, untuk melarang. Maka yang tipe cewek ini lakukan, misanya dengan bertanya. “ Kok kamu ngerokok terus?”, “Kamu mau ngerokok ya?” dengan muka lesu, karena melihat si cowok merogoh kantong yang di dalamnya ada barang berbentuk kotak seperti bungkus rokok. Padahal, si cowok ingin mengambil uang untuk bayar makan mereka. Dan tepat di saat yang cowok keluarkan adalah uang, muka si cewek kembali bersinar seketika.

Nah, saya hanya bisa kasih tiga poin. Sisanya Anda tambahkan sendiri sesuai tingkat jam terbang Anda sendiri.

Itulah beberapa poin yang bisa Anda, perokok temui sehari-hari berhadapan orang-orang non-perokok. Sebagian memang memilih berkonfrontasi secara langsung sementara sisanya memilih diendapkan menjadi semaca ideologi.

Dan percayalah, sesungguhnya perdebatan mengenai rokok ini hanya hidup di kalangan kelas menengah ngehek kota saja. Tidak untuk masyarakat pedesaan. Ini juga belaku untuk segala perdebatan apapun, termasuk dalam perkara agama: bahwa segala bentuk perdebatan sejatinya tak berlaku untuk semua komunitas masyarakat. Jika perdebatan dalam perkara agama tak berlaku bagi masyarakat perkotaan yang notabene berpendidikan tinggi, persoalan rokok justru sebaliknya, ia tak berlaku untuk masyarakat pedesaan. Karena sejatinya perdebatan soal rokok itu sesuatu yang lebay.

(Visited 178 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,,