Rokok yang dibalik

Suatu ketika jika Anda mendapati rokok seorang teman, dan ada satu batang yang terbalik di dalam bungkusnya. Jangan coba-coba untuk membaliknya lho. Bukan apa-apa, karena yang tampak terbalik itu sebetulnya sengaja di balik oleh empunya sebagai satu simbol pengharapan (make a wish) yang ditautkan melalui sebatang rokok. Ada pengharapan apakah di balik kesengajaan itu? Bisalah kita simpulkan, sederhananya sebagai satu bentuk kesadaran atas keterbatasan empunya rokok. Bukankah orang beriman adalah ia yang menyadari keterbatasannya sebagai manusia?

Sebungkus rokok bisa pula dianalogikan sebagai sebuah rumah. Ada sejumlah tata laku dan pernak-pernik yang melingkupinya. Anda tentu pernah sedikitnya mengetahui bagaimana tradisi masyarakat Nusantara membangun rumah, tradisi yang masih terlestari dalam rangka menyampaikan rasa syukur maupun rasa terima kasih kepada masyarakat sekitar yang telah turut membantu.

Kita cuil saja satu contoh, tata laku tradisi slup-slupan dalam prosesi selamatan membangun rumah di masyarakat Jawa. Terdapat muatan pengharapan yang dikandung pada penyelenggaraannya. Dari situ tersirat satu keinginan empunya hajat agar rumah dan penghuninya mendapatkan keberkahan serta ketenteraman.

Namun dalam konteks kebiasaan membalik sebatang rokok, tiap perokok punya kepercayaannya serta pengharapannya sendiri-sendiri. Bahkan tak ayal muncul tafsir-tafsir lain atas upaya simbolik tersebut.

Yang diketahui umum biasanya ingin mengisyaratkan bahwa sebatang rokok itu tidaklah diperbolehkan orang lain untuk menghisapnya.

Semacam upaya menghadirkan ‘batas’ untuk mengingatkan diri juga lingkup sosialnya (baca: sesama perokok). Ada juga yang meniatkannya sebagai ‘koncian’, untuk dihisap nanti apabila sudah dianggap tepat untuk dibakar. Entah sehabis makan atau setelah bangun tidur di pagi hari.

Entah sejak kapan hal itu sudah berlangsung, tidak ada catatan sejarah yang cukup menjelaskan secara utuh. Namun sedikitnya dari lingkung sesama perokok, penafsiran yang mengemuka tak jauh berbeda. Sebagai isyarat kesadaran personal. Sementara dalam lingkup komunal hal itu ditanggapi dengan sepenuh toleransi.

Dan tentu tidak semua perokok akan melakukan hal yang sama dalam membahasakan maksud yang sama. Di sinilah uniknya, ada sekian ragam pengucapan yang hidup di lingkungan perokok. Baik itu yang hanya berlaku di lingkungan terbatas, maupun yang sudah meluas.

Kelaziman terbentuk dari yang sehari-hari dan membawa arti tersendiri, bahkan tak dipungkiri secara tak langsung menguak dimensi identitas dari para penghayatnya. Hal lain di luar pesan simbolik sebatang rokok make a wish itu; ada pula perokok yang pantang bara apinya digunakan dua-tiga kali untuk menyulut rokok orang lain. Ya tentulah, siapa sih yang rela batang rokoknya tertunda berlama-lama untuk digunakan menyulut sekian batang yang lain. Coba itu…