kretek1

Merokok tak semata bagian dari ekspresi budaya. Setidaknya bagi saya. Di dunia yang kian absurd diperulah kepentingan kapitalisme farmasi—terkait larangan merokok dan intervensi pada tata niaga pertembakauan—yang kerap melecehkan akal sehat. Seakan-akan semuanya itu menihilkan andil sejarah-budaya penggunaaan tembakau pada masyarakat dunia.

Misalnya saja seorang Pacheco, sebutan untuk dokter tradisional bagi suku Wachiperi—sebuah suku yang hidup di kaki pegunugan Andes—yang populasinya kian menyusut drastis sejak pertengahan abad ke-20 ketika berhubungan dengan dunia Barat. Kini sekitar tinggal 90-140 orang Wachiperi yang bertahan.

Dokter tradisional itu adalah satu dari enam orang yang masih tersisa. Khususnya yang memiliki kemampuan menyembuhkan pasien dengan menggunakan daun tembakau, mereka mendapat sebutan daun Santa Maria.

Proses penyembuhan itu tak hanya menggunakan daun tembakau yang dikibas-tepukkan ke tubuh pasien, ritus penyembuhan itu diawali sang Pacheco dengan bernyanyi—yang kalau di Nusantara semacam melantunkan jampi-jampi—menggunakan bahasa Harkmbut suku Wachiperi. Adakalanya Pacheco mengunyah daun tembakau itu, dan meludahinya ke bagian cidera, kemudian memijit-mijit anggota tubuh pasien yang diludahinya itu.

Prosesi semacam itu bagi Anda yang terlalu mengagungkan kerja medis modern tentu akan dianggap tidak efektif, bahkan dituduh primitif, apalagi ini menggunakan unsur liur, lantunan dan tembakau. Bukan lagi rahasia jika kepercayaan semacam ini didiskriminasi dari sistem kedokteran masa kini.

Jangankan proses penyembuhan yang dilakukan Pacheco, di Indonesia, aktivitas mengonsumsi kretek saja malah distigmatisasi sebagai aktivitas pesakitan oleh rezim kesehatan. Karena apa? Ya, karena ada kepentingan industri farmasi yang ingin melanggengkan bisnis obat-obatan.

Sebetulnya metode penyembuhan tradisional yang dianut suku Wachiperi bukan hal baru bagi masyarakat adat Nusantara. Misalnya saja seperti yang dinaut suku Bawo dari dayak Benuaq—Kutai Kertanegara yang dikenal sebagai seorang ahli penyembuhan dengan sebutan Pawang Belian. Tugasnya serupa Pacheco dari suku Wachiperi.

Pawang Belian bukan hanya mampu menyelidiki penyakit yang diderita pasiennya, melainkan mampu menyembuhkannya dengan tata laku penyembuhan serupa. Beberapa ramuan yang memanfaatkan kekayaan alam sekitarnya menjadi andalan ampuh dan dipercaya turun temurun.

Lazimnya pula kretek yang merupakan sintesa tembakau dan cengkeh. Di Kutai, bukan hanya satu orang saja yang diandalkan sebagai pawang atau dukun. Adapula pawang yang ahli menangani patah tulang, salah urat, ada juga yang disebut dukun Saway, ia adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan roh halus. Biasanya dilibatkan pula pada prosesi selametan pasca panen. Adapun lagu atau semacam lantunan puji-pujian yang dijadikan sarananya disebut “memang”.

Suku Wachiperi di pedalaman Andes termasuk yang terisolasi dari dunia luar di tenggara Peru. Bahasa Harakmbut kian mengalami kepunahan penutur. Sementara lagu untuk penyembuhan tradisional yang disebut “esuwa” itu tinggal sedikit orang yang mampu membawakannya.

Esuwa sendiri terbagi beberapa jenis dan peruntukkan. Misalnya untuk menyembuhkan sakit kepala dan migrain, menggunakan Ekhucirite esuwa, Wewechindign esuwa untuk penurun demam, dan Bihichindign esuwa diperutukkan sebagai penahir gigitan ular.

Beruntungnya, sebut saja begitu, pada 2011 UNESCO memasukkan lagu penyembuhan (baca: esuwa) tersebut ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding (daftar warisan budaya tak benda yang butuh perlindungan mendesak). Hal itu terjadi tentu bukan tanpa peran pemerintah, maupun para pengampu kepentingan di sana.

Disorot lebih terarah pada khazanah yang kita miliki, seperti yang dianut suku Bawo dari dayak Benuaq, yang juga punya metode penyembuhan tak jauh berbeda. Mestinya “memang” patut pula diperhitungkan untuk masuk ke dalam daftar pelestarian pusaka budaya yang diprakarsai UNESCO itu.

Sejauh ini yang saya tahu baru 6 jenis pusaka takbenda yang terdaftar di UNESCO; Tari Saman, Batik, Keris, Wayang Kulit, Subak, dan Angklung.

Sebagai penghayat kretek, tentulah saya tak keberatan jika pemerintah melancarkan strategi kebudayaannya dengan merangkul dan mendorong banyak pihak, untuk lebih perhatian terhadap lingkup pusaka budaya takbenda sampai pada tataran yang lebih prestisius. Artinya, tidak sebatas menjadikannya sumber pendapatan belaka, atau sumber pencitraan politik golongan tertentu. Terutama ketika kita menyoroti kretek sebagai satu dari sekian pusaka budaya takbenda, artinya pada kretek terdapat akumulasi daya cipta dan daya kreasi bangsa ini yang telah bersumbangsih terhadap peradaban. Apalagi kretek kian rentan dipunahkan rezim standarisasi melalui traktak FCTC.

Bukankah kretek terbukti sudah menjadi sarana penyembuhan dar hinggai dulu kini, bahkan menjadi penyokong terbesar pada pendapatan Negara. Senyampang itu, jenis pusaka budaya semacam “memang” maupun kretek apakah sudah mendapat perhatian khusus dari pemerintah, atau hanya masih di tataran perayaan artifisial belaka? Adakah strategi kebudayaan yang kita miliki (itu pun jika punya) memosisikan produk budaya Indonesia ke tingkat yang lebih prestisius?

Jika iya, berarti pemerintah proporsional sudah dalam memprioritaskan keunggulan bangsanya dibanding mengutamakan industri bintang atau ketokohan para politisi.