Dirgahayu Nelayan Indonesia: Di Laut Berjaya, Di Daratan Sejahtera

rokok dan nelayan
rokok dan nelayan

Adakah teman hangat bagi nelayan ketika mengarungi lautan luas? Sebagian menjawab rokok kreteklah teman hangat nelayan. Sebab meski hujan dan malam datang rokok kretek yang dibakar akan menjadi teman hangat bagi nelayan.

Lain halnya bagi para aktivis antirokok, mereka mengamini bahwa rokok yang selama ini menjadi teman penghangat nelayan itu menjadi penyebab dari kemiskinan. Apa benar seperti itu?

Ketidakberpihakan pemerintah kepada nelayan adalah indikator terbesar penyebab ketidaksejahteraan nelayan. Selama ini nelayan hidup dengan sangat mandiri. Membangun komunitas di pesisir dengan membangun rumah, membangun infrastruktur dilakukan secara swadaya, nyaris tidak ada bantuan dari pemerintah, meski kemudian pemerintah dapat mengklaim sebagai kampung nelayan wilayah administrasi mereka. Lalu kapal-kapalnya juga kebanyakan adalah modal sendiri dan kelompok, meski ada beberapa bantuan kapal dari pemerintah untuk kelompok nelayan, selebihnya untuk jaring tangkap, mesin kapal, dan lainnya dipenuhi secara mandiri.

Dengan kondisi laut yang kini tak lagi bersahabat, daya tempuh nelayan kini bertambah jauh untuk mencari tangkapan. Seberapa pun jauh jaraknya tentu mereka tempuh. Meski mereka tahu bahwa ketika mereka berlabuh, kapal-kapal besar industri perikanan sudah lebih dahulu memonopoli perdagangan di daratan. Mereka tahu itu, dan keesokan harinya mereka tetap berlayar dengan sebatang rokok kretek di tangan. Masihkah hanya menuding rokok sebagai penyebab kemiskinan nelayan saudara-saudara?

Maka, pernahkah sesekali ketika memakan ikan dan jenis sea food lainnya kita berterima kasih kepada nelayan yang telah menangkapnya? Jika lupa atau bahkan belum pernah sama sekali, maka ucapkanlah terima kasih kepada nelayan yang telah melayani pasokan kebutuhan konsumsi kita atas sea food dan hasil tangkapan para nelayan.

Dengan ucapan terima kasih sebenarnya belum berarti apa-apa. Para nelayan bertaruh nyawa, ketika mengarungi lautan. Belum lagi mereka dituduh masyarakat kumuh, miskin dan alasan lainnya agar publik mengamini bahwa mereka harus meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaan mulia mereka.

Biarkanlah mereka menikmati pekerjaan mulia mengarungi lautan luas untuk mencari hasil tangkapan dengan sebatang rokok kretek di tangan untuk sekadar teman penghangat. Dan berbuatlah sesuatu dengan membantu mencari keadilan ketika negara memiskinkan mereka dengan tidak memperhatikan kesejahteraan hidup para nelayan. Tentunya juga ketika mereka terusir dari pesisir laut karena ada kepentingan membangun hunian mewah di pesisir dan tengah laut yang pastinya tidak mungkin untuk dihuni oleh para nelayan.

Di hari yang bersejarah dan mulia untuk para nelayan ini, atas nama perokok kretek mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh nelayan di Indonesia. Dalam doa kami sebelum makan, kami selalu diingatkan oleh Tuhan bahwa apa yang kami konsumsi semoga memiliki keberkahan, sebab kami tahu apa yang kami makan di dalamnya terdapat penindasan dan ketidakadilan. Dirgahayu nelayan Indonesia, di laut nelayan berjaya, di darat nelayan sejahtera.