Melepas Stigma pada (Sebatang) Rokok

Sebatang Rokok
Sebatang Rokok

Mengapa sebagian masyarakat masih menganggap rokok sebagai musabab dari segala keburukan?

“Mula-mula memang merokok, tapi lama-lama juga ngelakuin yang ‘lain’”. Pernyataan itu agaknya lumrah kita dengar dalam pergaulan sehari-hari. Selain menjadi ungkapan ketidaksukaan kepada perokok, itu kalimat paling jelas bahwa rokok masih kerap dipandang negatif oleh sebagian orang. Padahal persoalan rokok adalah persoalan berbagi hak. Dan tak ada hubungannya dengan moralitas seseorang.

Khususnya bagi bukan perokok; sebagian di antara mereka tak sedikit yang beranggapan rokok adalah awal mula dari segala hal yang bersifat negatif; konsumsi narkoba, kriminalitas, dan hal-hal yang merugikan orang lain. Bagaimana ukurannya? Saya tidak tahu. Tapi, begitulah nyatanya stigma yang masih tertanam dan masih diyakini banyak orang.

Mereka yang mengeluarkan pernyataan macam itu biasanya ditujukan kepada perokok pemula. Tujuannya untuk menakut-nakuti. Tapi, sadarkah bahwa hal itu menunjukkan perokok dalam lingkungan masyarakat kita telah mendapat tempat sedemikian rendahnya; bahwa perokok identik sebagai penjahat yang patut untuk  menerima diskriminasi.

Stigma macam itu tak sulit untuk kita temui dalam lingkungan terdekat kita, mulai dari teman bahkan keluarga. Dulu, ketika awal mula saya kedapatan merokok, ibu saya juga pernah memberi nasihat begitu. Saya hanya diam saja. Saya tahu, itu kehendak umum dan sudah menjadi keyakinan sosial. Saya tak bisa mendebatnya. Kualat saya. Beberapa teman saya juga bisa dengan enteng berucap demikian.

Meski saya juga yakin, mereka yang bisa dengan mudah beranggapan rokok adalah musabab dari semua hal-hal negatif, tak juga meyakini itu sepenuhnya. Tapi persoalannya, mau tidak mau itu sudah menjadi stereotipe yang dimafhumi banyak orang. Konsekuensinya, perokok terlepas dari personalitasnya secara umum, telah berada dalam posisi yang rentan didiskriminasi. Dan stigma macam itu, adalah hal paling menakutkan dalam hidup bersosial.

Stigma, atau stereotipe adalah kesimpulan. Sialnya, kesimpulan itu kadang lebih banyak diambil hanya dari beberapa pengamatan. Tentu saja itu tak objektif. Apalagi, kita agaknya lebih suka melihat sisi negatif ketimbang melihat dengan sehat dan adil.

Saya sering dongkol kalau ada orang yang dengan mudah memberi penilaian pada seseorang. Apalagi sampai menggeneralisirnya. Itu penilaian yang tak adil, dan untuk soal ini, tentu banyak perokok ‘baik’ lain yang dirugikan dengan stigma itu.

Itu barangkali hanya salah satu saja dari sekian stigma yang didapat perokok. Ada lagi misalnya, merokok sebagai bagian dari upaya eksistensi diri. Prinsipnya sama; ketidaksukaan bisa diekspresikan dalam banyak hal. Dan ekspresi ketidaksukaan seseorang kepada perokok salah satunya adalah menghubungkan dengan mudah nilai-nilai buruk kepada perokok. Dia tak sadar, padahal pengajian-pengajian yang sering didengarkannya adalah dari kyai yang juga merokok. Tapi ia bisa dengan mudah menilai rokok sebagai dalang dari segala hal yang menurutnya buruk.

Kita memang lebih suka nyinyir ketimbang melihat secara jernih. Jangankan soal rokok, cara berpakainan pun—padahal hanya soal kebiasaan—kita kerap nyinyiri. Sesuatu yang berbeda dianggap salah dan keliru, seolah-olah semuanya adalah kemutlakan. Dan rokok, dengan statusnya sebagai barang legal, dianggap telah menjadi musabab dari semua keburukan.  

Mengapa stigma, kesimpulan, streotipe, bisa dengan mudah tertanam dalam otak? Mengapa sesuatu yang sudah menjadi kehendak umum, bisa dengan mudah pula kita yakini? Hanya karena tidak kita konsumsi, maka kita berhak menyalahkannya. Padahal ada begitu banyak kekeliruan lain yang kita juga kita lakukan, dan tak pernah kita permasalahkan.

Tak ada yang salah dari sebatang rokok. Mengkonsumsinya adalah sebuah pilihan. Selama tak merugikan orang lain, kenapa pula harus kita permasalahkan. Rokok tak ada hubungannya dengan dengan moralitas seseorang, apalagi menjadikannya sebagai musabab dari semua hal-hal yang bersifat negatif.