Rokok dan Musik yang (ingin) Terpuji

Rokok dan Musik
Rokok dan Musik

Music without words often bring sadness. Music without music even more. (Mark Twain)

Musik sebagai medium ekspresi manusia tak bedanya dengan rokok, sama-sama memberi ruang untuk memaknai hidup, menilik lagi frasa ekspresi (expression) yang berangkat dari pengertian to express; mendorong keluar. Menampakkan apa yang dikandung emosi, pemikiran, juga dialektika di dalamnya, akumulasi itulah yang niscaya mencerahkan, dalam bahasa orang salih sebagai bentuk lain dari ‘sedekah’ para makhluk berbakat. Sulit ditampikkan sesuatu yang khas dari masing ekspresi. Keunikan itu ada pada manusia, bukan pada malaikat dengan segala tugasnya.

Hal itu pula yang ingin ditekankan oleh Mark Twain, walau pun Ia bukan seorang musisi. Namun pada pandangannya tersirat ingin menjelaskan apa yang dimaknai manusia akan hidup. Lebih mengarah lagi apa yang masyarakat maknai tentang musik. Di abad distribusi ini etos berkesenian nisbi dimoderasi kepentingan pihak ketiga, sebab selera dan kebiasaan masyarakat adalah hasil pengkondisian. Agaknya hal itu terjadi pula pada upaya-upaya antirokok dalam memanfaatkan peran para bintang yang dikondisikan sebagai duta kepentingan. Beberapa tahun silam, sewaktu berkesempatan ngobrol dengan James F. Sundah, Ia menyatakan, “di Indonesia sekarang bukan industri musik yang hidup, melainkan industri bintang.”

Manusia tanpa ekspresi tak ubahnya manekin. Hanya ada sebagai alat peraga. Dan musik sesungguhnya adalah kehidupan nada yang dinamis, tidak statis hanya sebatas pencapaian merdu, meriah, lalu menghibur. Unsur-unsur pembentuk karya seni diolah secara berkelanjutan oleh inderawi. Artinya tidak tamat sebatah eporia rasa. Pula melibatkan aspek ekstrinsik yang turut melengkapi kehadirannya sebagai suatu karya, hakikat seni akan terus berdialektika dengan zamannya.

Masyarakat tradisional Nusantara memanfaatkan segala yang tumbuh di sekitarnya sebagai sarana berkomunikasi dengan alam dan Penciptanya. Contohnya alat tiup Serunai, yang dibuat dari batang padi. Atau pula Sasando yang terbuat dari daun lontar dan bambu. Lewat instrumen tradisional itu rasa syukur dialamatkan. Ada nilai-nilai spiritual yang terkandung lewat syair dan nada yang diungkapkan. Niscaya ruang reflektif terbuka bagi penghayatnya.

Kretek sebagai komoditas lokal juga demikian. Seturut sejarahnya menjadi bagian dari identitas Indonesia. Produk budaya yang mencerminkan kekayaan intelektual pencetusnya, serta itikad baik yang menyertai kebutuhannya. Terdapat timbre (warna suara) kretek yang tidak dimiliki rokok putih saat bara api menjalari balutan tembakau itu. Pada kretek, timbre yang ditimbulkan berasal dari rempahnya, serta kehendak kita menikmati yang lesap dan kembali.

Mata dunia melalui UNESCO mengakui angklung sebagai salah satu warisan budaya dunia (The Intangible Heritage). Apa yang khas dari alat musik berbahan dasar bambu itu sebangun dengan apa yang dinyatakan Clive Bell, filsuf seni klasik modern, bahwa seni adalah significant form (bentuk bermakna). Khazanah seni yang kita punya bukanlah produk yang miskin nilai atau nir makna. Melalui manfaat yang dapat diserap bagi kelangsungan para pelestarinya, serta spirit yang berestafet dalam semangat kolektif. Makna bukan sebatas bicara utilitas. Lebih dalam dari itu.

Dimana ada etos di situ ada hidup, sebab seni adalah hidup. Membawa sifatnya dan mencipta bentuk-bentuknya yang merdeka, kadang di luar segala nalar baku dan keumuman. Jika ada seniman maupun musisi yang berproses menampilkan ekspresinya ditemani kepulan asap rokok, secara prinsip hal itu bukan suatu perbuatan ilegal, bukan juga tindak amoral yang aib di mata kemanusiaan. Merokok dan bermusik adalah dua ekspresi budaya yang otonom dalam memproporsikan haknya untuk ada dan menjadi (being-becoming) pada ruangnya.

Bandingkan jika kita menonton pertunjukan wayang di gedung berkelas dengan di alun-alun atau lapangan milik warga, di gedung itu kita belum tentu mendapati hal-hal yang mencirikan Indonesia sebagai sebuah pertunjukan utuh. Pertama, di gedung berkelas jangan harap mendapati aroma kretek, minyak angin, petromak penjual kacang rebus, atau koyo kusam di pelipis hansip. Kedua, kita disuguhkan Indonesia yang monoton dan tercerabut. Sama halnya ketika kita menikmati tontonan musik campur sari, dimana serunya jika ekspresi kendang kempul absen dari panggung, jika semua instrumen hanya mengandalkan suara yang diformat pada elektone. Haish, garing blass. Seloroh teman penikmat campur sari.

Tidak jarang musisi melibatkan rokok dalam proses kekaryaannya, gitaris gaek Ian Antono misalnya, jauh sebelum kita mengenal definisi gaya hidup, yang oleh antirokok distigmatisasi sebagai perilaku tidak sehat. Celakanya, etos yang dipaksakan atas nama satu kebenaran itu mengarah pada pengkategorian karya. Jika karya itu berasal dari seniman yang merokok, dianggap tidak mencerminkan nilai terpuji. Lalu karya-karya terpuji hanya berasal dari seniman yang bukan perokok. Jika memang begitu adanya, mari kita konyol-konyolan membandingkan lagu-lagu Iwan Fals pasca beliau ‘hijrah’. Apakah faktor konsumsi dan kebiasaannya yang telah beralih itu berdampak pada kualitas karyanya yang (dulu dikenal) kritis? Iya jelas. Itu sudah.