Memprediksi Musim Tanam Tahun Ini

Tanam Tembakau
Tanam Tembakau

Tahun lalu petani tembakau Indonesia mengalami masa suram. Setelah merasakan panen melimpah pada tahun 2015, curah hujan yang mengguyur Indonesia sepanjang tahun lalu membuat hasil panen tembakau jadi tidak baik. Tahun lalu, baik dari segi kualitas maupun kuantitas produksi tembakau Indonesia jauh menurun.

Tembakau memang tanaman yang agak manja. Ia tak bisa terkena banyak air, karena akan merusak kualitas tembakau. Karena itulah tembakau mulai ditanam pada awal musim kemarau dan dipanen menjelang musim hujan.

Memprediksi nasib musim tanam tahun ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Hampir setiap petani bisa membaca keadaan alam. Jika curah hujan masih tinggi, maka musim tanam akan mundur. Dan jika curah hujan tetap tinggi di sepanjang tahun, maka hampir pasti hasil panen tidak akan bagus.

Sialnya, tahun ini curah hujan cenderung tinggi meski telah memasuki musim kemarau. Musim tanam di beberapa tempat dipastikan mundur. Harusnya, awal Mei ini musim tanam telah dimulai. Namun di beberapa tempat curah hujan tinggi memaksa awal Mei ini masih masuk masa pembibitan.

Curah hujan tahun ini cenderung tinggi pada tahun ini. Meski tidak akan setinggi tahun lalu, tapi potensi cuaca seperti itu tetap saja bisa mengganggu masa tanam tembakau. Apalagi ingatan terhadap musim buruk tahun lalu masih membekas. Akhirnya cukup banyak petani yang takut untuk kembali menanam tembakau.

Bisa jadi, dengan kemungkinan curah hujan yang cukup tinggi hasil panen tahun ini tidak akan berjalan terlalu baik. Produksi tembakau tidak akan terlalu baik, kualitasnya tidak terlalu baik, dan Srinthil tidak akan muncul tahun ini. Semua terjadi karena petani belum sanggup mengakali keadaan cuaca yang seperti itu.

Perlu diketahui, teknologi pertanian pada sektor tembakau di Indonesia masihlah belum baik. Dengan perbandingan hasil panen 1 ton dari 1 hektar lahan menjadi bukti masih buruknya teknologi pertanian yang kita miliki. Rata-rata pertahun, petani tembakau kita hanya bisa menghasilkan 200 ribuan ton. Sementara di Tiongkok petani tembakau bisa menghasilkan hingga 2 juta ton.

Perbandingan tersebut menjadi bukti betapa teknologi pertanian tembakau di Indonesia masih buruk. Seandainya hal ini bisa diperbaiki, bukan tidak mungkin produktivitas pertanian dan kualitas akan meningkat hingga kesejahteraan petani ikut meningkat. Dan jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin impor tembakau tidak diperlukan lagi oleh Indonesia.

Selain itu, jika teknologi pertanian tembakau bisa ditingkatkan, para petani bisa menghadapi musim buruk tanpa perlu terlalu risau. Karena dengan meningkatnya teknologi pertanian, para petani tak akan lagi pusing harus berbuat apa untuk menghadapi curah hujan tinggi. Dan nantinya tak akan ada lagi kasus petani takut menanam karena cuaca buruk.

(Visited 62 times, 3 visits today)