Tembakau Prancak
Tembakau Prancak

Ada dua jenis bahan baku tembakau yang kerap dipakai untuk industri kretek Indonesia dewasa ini. Khususnya yang diserap oleh salah satu perusahaan kretek ternama. Dua jenis tembakau itu adalah tembakau Sindoro dari Temanggung dan tembakau Prancak dari Madura. Mengingat kecenderungan selera masyarakat perokok dewasa ini juga dipengaruhi gaya hidup dan pola konsumsinya.

Hal inilah kemudian yang membuat penulis lebih menyoroti sisi menarik dari tembakau Prancak. Jenis tembakau gunung dari daerah Prancak ini telah mengalami berbagai usaha pemurnian, sehingga dari usaha tersebut muncul sejumlah kategori, seperti Prancak N-1, Prancak N-2, Prancak-95. Usaha yang diprakarsai oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) serta Balai Penelitian Alih Teknologi Pertanian (BPATP) ini yang selanjutnya menganjurkan untuk menggunakan varietas Prancak- 95, Prancak N-2 atau Jepon Raja sebagai bagian dari pemenuhan industri rokok.

Apa yang melatari usaha pemurnian itu terjadi? Selain tembakau juga terserap untuk industri rokok, kandungan tembakau terserap pula untuk diolah sebagai bahan farfum. Mari kita telisik sedikit hal-hal seputar tembakau Prancak dengan karakternya.

Perlu diketahui, bahwa jenis tembakau Prancak N-2 merupakan varietas baru hasil persilangan antara tembakau Prancak-95 dengan tembakau oriental (Izmir), tembakau oriental jenis ini dikenal sebagai tembakau aromatik, dan menjadi standar mutu tembakau oriental klasik di Turki. Kecenderungan aromatik inilah yang lazim disukai masyarakat kita, harumnya sangat khas, gurih, dan manis. Satu hal yang menciri terkait rokok kretek—baik yang berfilter maupun kretek mild—memiliki karakter Oriental Nutts. Berbeda dengan rokok putih (non cengkeh) yang memiliki karakter Burley Nutts.

Beberapa hal yang diisyaratkan sebagai keunggulan dari tembakau Prancak N-2 karena memiliki sifat-sifat kombinasi dari kedua varietas tetuanya, di samping sifat baru dari varietas ini, yaitu kadar nikotinnya yang rendah; 2,00 ± 0,62 %. Produksi rajangan sebesar 789 ± 238 kg/ha. Keunggulan lainnya, varietas ini terbilang tahan terhadap penyakit Lanas. Rendah nikotin itu sejurus skema yang diisyaratkan pada regulasi hasil aksesi FCTC, terkait pengendalian produk hasil tembakau. Meski sebetulnya rata-rata tembakau asli Indonesia dengan kadar nikotin yang relatif tinggi.

Menurut berbagai sumber, tercatat ada banyak varietas tembakau yang berasal dari Madura dan daerah Tapal Kuda. Yang terkenal di antaranya Prancak, Jepon Cangkreng, Jepon Keneek, Jepon Raja, Jepon Bukabu, Jepon Tarnyak, Jepon Bojo.

Secara umum tembakau Madura sendiri dibagi menjadi tiga bagian: tembakau gunung, tembakau tegal, dan tembakau sawah. Jenis tembakau gunung adalah yang paling diburu oleh pabrik rokok, meski produktivitasnya terbilang sangat rendah dibanding tembakau sawah. Sekadar untuk tambahan catatan, tembakau gunung di Madura hanya menghasilkan 400-500 Kg/Ha, sementara tembakau sawah bisa mencapai 1000 Kg/Ha, bahkan lebih. Tembakau sawah karakternya kurang disukai oleh pabrik rokok, karena terkadang kandungan kloritnya sangat tinggi.

Satu hal tersendiri, yang tak kalah menarik dari jenis tembakau Prancak, terlebih menyoal tembakau Prancak-95. Yang ternyata sejak 4 tahunan lalu sudah dikembangkan dan dibudidaya di China. Di Negeri Tirai Bambu itu tembakau yang beraroma khas untuk rokok kretek kita ini dikembangkan di Propinsi Yunan. Di propinsi Yunan tembakau ditanam pada lahan di atas 700 meter permukaan air laut.

Menurut Hendra, Kepala Bidang di Dinas Perindag Pamekasan, hal tersebut bisa menjadi berkah bisa pula menjadi petaka. Karena menurutnya lagi, dibandingkan dengan tembakau Prancak-95 produksi Madura, produksi China secara fisik kualitasnya lebih baik, lebih bersih dan terhindar dari unsur-unsur non tembakau, sebagaimana sering ditemukan pada tembakau produksi Madura. Apalagi harganya lebih murah, bukan mustahil ini dilirik oleh perusahan rokok dari berbagai negara, termasuk pula oleh perusahaan rokok di Indonesia.

Namun ada satu hal otentik yang membedakan tembakau Prancak-95 produksi China dengan Prancak-95 Madura, kata Hendra melanjutkan, adalah soal aromanya. Aroma tembakau Prancak-95 Madura tidak bisa ditiru oleh budidaya tembakau Prancak-95 dari China. Yang membedakan itu terjadi karena kontur atau struktur tanah Madura yang memang khas. Karena itu merupakan kelebihan dari tembakau Madura.  Namun tidak menutup kemungkinan, sesuai dengan kemampuannya dalam teknologi, bisa saja China membuat ekstrak aroma tembakau Madura lalu dicampurkan ke tembakau Prancak produksinya sendiri.

Biar bagaimana pun kita patutlah berbangga, meski varietas tembakau Prancak-95 ini telah dikembangkan di China. Usaha penyilangan tembakau yang menghasilkan jenis tembakau Prancak-N2 tentu punya nilainya sendiri, yakni karakter yang kombinatif. Sama halnya dengan tembakau Campalok yang  pada tahun 2015 lalu memiliki daya jual tinggi.

Dimana jenis tembakau itu dikatakan Campalok karena di sekitaran lahan tanamnya terdapat pohon Campalok yang berada di areal pemakaman. Bibit tembakau Campalok sendiri adalah dari jenis tembakau Jepun Cangkreng. Kenapa harga jualnya per kilogram pada waktu itu bisa mencapai 1,5 juta, iya tentu selain karena tata laku tanamnya, kontur tanah, serta unsur pohon di sekitarnya juga punya andil. Tak jauh berbeda dengan perkebunan kopi yang membutuhkan tanaman pendamping, tanpa menihilkan mutu lahan tanam serta cuaca yang bersesuai.

Dari hal itulah kita dapat memetik kesimpulan, bahwa kemajemukan tembakau Indonesia mengisyaratkan karakter serta nilai tawarnya masing-masing. Dari sebatang kretek saja ada lebih dari dua percampuran tembakau, belum lagi unsur cengkeh di dalamnya. Fakta ini sejurus dengan nilai ke-bhineka-an masyarakat kita yang berasal dari percampuran antar etnis. Pada varietas tembakau Indonesia pun mengalami hal serupa.