Mbah-Gotho
Mbah-Gotho

Suparman Sodimejo. Pria yang akrab dipanggil Mbah Gotho ini dikabarkan tutup usia pada hari Minggu (30/4/2017) lalu. Berbagai sumber meriwayatkan berbagai hal terkait hidup Mbah Gotho, terutama yang kerap berhubungan dengan keberadaannya sebagai manusia tertua dari Sragen yang sudah mencapai umur 146 tahun.

Mbah Gotho termasuk perokok yang bersahaja. Disebut bersahaja lantaran laku kesehariannya, layaknya para petani di desa-desa; bangun pagi, pergi mencangkul atau merumput, dan yang khas pada dirinya dalam melakukan aktivitas adalah bekerja tanpa alas kaki. Jika dirasa sudah lelah, Mbah Gotho tidak memaksakan diri untuk memforsir diri.

Beberapa waktu lalu, dua puluh hari sebelum ajal menjemputnya, persis pada Senin 10 April 2017,  Tim Dokter asal Amerika mengunjungi kediaman Mbah Gotho di Dukuh Segeran RT 18 RW 06, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, untuk melakukan rangkaian tes DNA.

Tim Dokter ini mengambil urine, darah, dan gigi, sebagai sample untuk diuji secara laboratorium. Yang kabar hasilnya nanti baru akan diketahui keluarganya enam minggu kemudian, terhitung sejak pengambilan sampel. Usaha ini dilakukan untuk membuktikan keabsahan usianya yang di atas rata-rata orang tertua di dunia.

Mbah Gotho termasuk dari sedikit manusia yang bisa menembus umur tiga digit dari total penghuni Bumi sekitar 7 miliar jiwa. Mereka ini biasanya dijuluki sebagai “centenarians”, orang yang berhasil melewati usia 100 tahun atau lebih. 

***

Rumput tak lagi ada, tumbuhan tak lagi ada, hewan tak lagi ada, semua telah menjadi gendhing. Anda masih melihat semua itu ada, tapi saat ini bagi saya telah menjadi gendhing. Saya telah di hadapan jagad ageng itu sekarang, tinggal menunggu saatnya saja. Saya ini hanya tinggal nunggu memanise pati (menunggu nikmat kematian) yang pasti akan menjemput”

Ucapan yang mengandung nilai kearifan lokal ini disampaikan Mbah Gotho sebagai satu isyarat akan ‘panorama’ batinnya, suatu keadaan jagat diri yang tak lagi sama seperti yang dialaminya dulu. Bahwa banyak hal yang pernah menjadi bagian dari hidup dan laku keseharian pada akhirnya akan sampai pada satu kenikmatan pasti, dan itu demikian dinantikan Mbah Gotho. Dia telah mencapai titik makrifatnya, suatu dimensi batin yang jarang didapat manusia umum yang miskin penghayatan hidup.

Bukan satu hal yang mengherankan, khususnya di negeri ini seorang Mbah Gotho kemudian lebih dikenal lantaran usianya yang sangat istimewa. Termasuk pula kebiasaan yang dilakoninya. Ya merokok, makan es krim, pergi merumput walau sudah sepuh, dan beberapa kebiasaan lainnya yang tak terungkap seluruhnya oleh media. Yang bagi orang perkotaan dipandang bukanlah suatu hal lazim. Sementara selain Mbah Gotho, ada juga Nenek Anami asal Purwakarta (140 Th), Maria Kabiung atau yang akrab dikenal Nenek Dessi (136 Th), mereka adalah orang-orang yang merawat etos kesahajaan sampai hari tuanya.

Menilik beberapa faktor yang membuat diri mereka sampai pada usia setua itu bukan semata-mata tak dibekali oleh apa yang didapatnya di masa muda. Sedianya laku kesahajaan itulah yang merupakan esensi dari kearifan lokal kita. Dimensi ini yang kiranya dapat diserap sebagai pelajaran bagi banyak pihak. Terutama bagi yang kerap mengabaikan pola hidup seimbang. Karena biar bagaimana pun segala hal yang dikonsumsi bukan tidak punya faktor risiko. 

Mbah Gotho muda dulu bukanlah manusia yang hidup dimanja oleh segala kemudahan zaman. Sejak umur sepuluh tahun saja dia sudah membantu orang tuanya menggarap sawah. Membiasakan kakinya bergumul dengan lumpur dan sekian daya juang hidup yang mendidiknya menjadi pribadi istimewa. Istimewa dalam pengertian di sini tak menampikan proses hidup yang menempa dirinya, sehingga kesabaran bukan sesuatu yang enteng diucap sekadar untuk menyedap-nyedapkan perasaan belaka.

Selamat jalan Mbah Gotho, laku hidupmu menginspirasi dunia.