Ramadhan sebagai Ajang Menghargai Orang Lain

Indonesia adalah negeri yang beragam. Semboyannya saja Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu juga. Ya negara yang satu ini memang diisi oleh beragam bangsa yang memiliki tradisi beragam. Juga keberagaman agama yang dianut, tentu saja.

Karenanya, setiap Ramadhan tiba, upaya-upaya untuk menghormati dan menghargai semua masyarakat patut diacungi jempol. Perdebatan-perdebatan soal warung makan yang buka dan soal menghormati masyarakat yang berpuasa telah jauh berkurang tahun ini. Sebuah kemajuan yang perlu kita syukuri.

Ramadhan memang bulan yang berbeda. Bulan yang satu ini mengajak masyarakat, entah muslim ataupun bukan, untuk belajar saling menghormati dan menghargai. Untuk saling menghargai hak orang lain. Entah menghargai orang yang berpuasa, juga menghargai masyarakat yang tidak berpuasa.

Semangat menghargai inilah yang harusnya tetap dijaga oleh banyak orang. Belajar menghargai hak orang tidak hanya saat Ramadhan, tapi juga di waktu-waktu lainnya. Kedamaian dan ketertiban yang kita dapatkan ketika saling menghargai harusnya tidak hanya terjadi pada Ramadhan.

Salah satu persoalan, yang perlu diberikan perhatian khusus terkait masalah menghargai hak orang lain, adalah perkara rokok. Ya, selama ini permasalahan tentang rokok dan tembakau telah membawa perpecahan yang lumayan panjang dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang tidak merokok kerap mendiskriminasi para perokok. Entah disamakan dengan penjahat, disebut sebagai biang penyakit, atau angguk-angguk kepala ketika hak perokok hendak dirampas oleh pemerintah. Ya, hal diskriminatif paling sederhana yang diterima perokok tentu saja ketidaktersediaan ruang untuk merokok di tempat umum.

Orang-orang yang tidak merokok sih senang-senang saja ketika hal itu terjadi. Bahkan sebagian di antara mereka amat bergembira ketika hak para perokok tidak diberikan. Malah ada yang senang dengan keadaan yang sengaja dibuat untuk menyiksa para perokok.

Padahal, hal itu adalah bentuk diskriminasi yang sebenarnya melanggar hak perokok. Meskipun stigma yang terlanjur hidup di masyarakat membuat perokok selalu terlihat negatif, tapi masyarakat harusnya sadar bahwa perokok juga bagian dari masyarakat. Punya hak yang harus dihormati. Apalagi kalau haknya memang pada tataran mengonsumsi barang legal.

Persoalan menghargai hak masyarakat ini juga harus ditaati para perokok. Mereka tak boleh lagi mengganggu hak masyarakat yang tidak merokok. Tak boleh lagi ada kasus orang merokok di angkutan kota, merokok saat berkendara, juga merokok di dekat anak kecil.

Menjadi perokok itu haruslah disadari tanggung jawab. Karena barang konsumsi ini mengeluarkan paparan yang dapat mengganggu orang lain, seharusnya para perokok lebih taat ketika melakukan aktivitas udud ini.

Karena itu marilah jadikan momentum Ramadhan ini sebagai ajang untuk belajar menghargai orang lain. Baik yang merokok maupun tidak harus saling menghormati. Jika hal ini bisa dilakukan, niscaya persoalan karena rokok tak bakal lagi terjadi. Sebab inti dari masalah rokok ini adalah setiap pihak yang terkait tidak mau kalah dan tidak mau menghargai hak orang lain.

(Visited 39 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,,,