Yang Adiktif adalah Media Sosial, Bukan Rokok

Rokok dicap sebagai produk yang adiktif. Adiktif berasal dari kata addict, yang artinya ketergantungan. Dalam KBBI adiktif adalah sesuatu yang bersifat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya. Cap adiktif pada rokok ini sebenarnya dipakai oleh kalangan antitembakau untuk menstigmakan bahwa rokok adalah produk berbahaya. Tentunya melalui jalur kesehatan sehingga rokok akan dianggap oleh publik sebagai produk yang tidak sehat.

Jika berbicara adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini sudah diperkuat dengan argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.

Nah, ada satu hal yang menarik jika berbicara mengenai adiktif atau kecanduan. Karena rokok terus-terusan dikampanyekan dan sering tidak sadar bahwa kita juga menyebut rokok itu adiktif, kita luput melihat bahwa banyak produk dan kebiasaan yang menyebabkan adiktif. Salah satunya adalah media sosial.

Sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health di Inggris Raya mengenai tingkat adiktif media sosial bagi penggunanya. Penelitian ini berdasarkan responden dengan jumlah sebanyak 1.500 orang, berusia antara 14 hingga 24 tahun. Hasil penelitian ini mengungkapkan kalau kecanduan (adiktif) yang diakibatkan oleh media sosial ternyata sangat tinggi, secara khusus di segmen anak muda.

Para peneliti mengungkapkan kalau penggunaan media sosial pada saat ini berdampak pada meningkatnya kecemasan serta depresi di kalangan anak muda. Bahkan, peningkatan angka cemas serta depresi tersebut cukup tinggi, mencapai angka 70% sejak 25 tahun terakhir.

Penelitian lain juga dilakukan oleh Status of Mind yang memiliki laporan berbeda mengenai kecanduan media sosial. Hasilnya memperlihatkan media sosial yang paling berdampak buruk pada kalangan remaja. Mereka mengungkapkan kalau media sosial seperti Facebook, Instagram, Snapchat, dan Twitter secara umum berdampak negatif.

Dengan melihat hasil penelitian tersebut, saat ini kita seakan melupakan bahwa terminologi adiktif yang sebenarnya adalah apa yang sedang dilakukan oleh banyak orang seperti media sosial ini menyebabkan adiktif. Rokok yang sudah terlanjur diamini oleh publik menyebabkan adiktif pada akhirnya menjadi pembiasan terminologi adiktif dan hal-hal adiktif lainnya.

Padahal, kalau jernih melihat persoalan yang adiktif, media sosial ini jelas produk dan kebiasaan yang menyebabkan adiktif dan mengandung hal-hal yang negatif. Mari lihat lagi penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA). Penelitian tersebut mengatakan banyak generasi millennial khawatir dengan waktu yang mereka habiskan dengan gadget dan medsos. Lebih dari 1 dekade setelah munculnya smartphone, Facebook, sampai Twitter, mereka menjadi ‘constant checker’. Mereka terbiasa mengecek smartphone, jika tidak melakukannya mereka akan merasa stres. Karena itulah, mereka lebih memilih terus mengecek gadget.

Para peneliti dari Universitas Colombia dan Universitas Pittsburgh juga menyatakan bahwa pengguna adiktif media sosial dinilai tak bisa mengontrol dirinya. Bagi mereka yang mengalami kecanduan akut, bahkan memiliki kontrol diri rendah. Setidaknya ini menurut studi termutakhir.

Dampak lain dari adiktif media sosial yakni dampak negatif pada psikis dan mental penggunanya. Para pakar kesehatan menjabarkan efek negatif dari adiktif media sosial seperti menimbulkan rasa iri, tingginya obsesi, ambisi, hingga menipu diri sendiri.

Sebagai contoh, media sosial kini juga seakan-akan berubah menjadi ajang seseorang mengekspresikan diri dan memamerkan kegiatan sehari-hari. Hal ini ternyata bisa memicu rasa iri pada orang lain, khususnya jika ada teman yang memiliki kesuksesan lebih besar dari kita. Rasa iri ini bisa membuat masalah berupa depresi yang tentu sangat buruk bagi psikologis kita.

Selain rasa iri, media sosial juga kerap menjadi ajang bullying yang sangat sering terjadi. Banyak orang yang pada akhirnya merasa depresi, tertekan, hingga memutuskan untuk bunuh diri hanya karena merasa dipermalukan oleh banyak orang di media sosial.

Sementara pada persoalan obsesi, banyak orang yang pada akhirnya memiliki obsesi melakukan atau mendapatkan sesuatu hanya karena melihat orang lain mendapatkannya di media sosial. Obsesi ini bisa menjadi masalah besar jika akhirnya pengguna ponsel memilih untuk memakai segala cara agar keinginannya tercapai. Beberapa orang bahkan bisa menipu diri sendiri dan memiliki kepribadian berbeda di media sosial yang tentu menjadi masalah psikologis yang buruk.

Tentu banyak hal lainnya yang dapat menyebabkan adiktif kepada konsumennya, tapi hal tersebut selalu tertutupi dengan rokok yang selalu menjadi kambing hitam jika ada kata-kata adiktif. Bukan tanpa alasan juga rokok jadi kambing hitam dengan cap adiktif ini. Di baliknya terdapat kepentingan bisnis farmasi untuk menjual obat-obatan tertentu yang diklaim mampu menghentikan kebiasaan merokok seseorang.

Padahal obat-obatan ini sejatinya adalah zat adiktif dari ekstraksi tembakau yang dikemas dalam bentuk permen, pil dan koyok. Artinya akan ada pengambilalihan bisnis tembakau dari rokok yang bahan bakunya alami dari daun tembakau ke industri farmasi yang mengekstraksi tembakau menjadi obat-obatan yang tentunya menyebabkan produk tembakau mengandung zat adiktif.

Jadi, jika sudah paham soal adiktif yang ternyata itu dekat dengan keseharian kita, seperti media sosial ini dan maksud dari mengambinghitamkan cap adiktif pada rokok, masihkah kita mau bilang bahwa rokok menyebabkan adiktif? Kalau masih, berarti Anda adiktif mengonsumsi informasi yang menyesatkan.

(Visited 64 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,,,,