3 langkah Menjadi Perokok Etis Yang Rahmatan Lil Alamin

Hukum Merokok

Ketika bulan Ramadhan tiba, kampanye-kampanye berhenti merokok makin  getol disuarakan pegiat antirokok. Media mainstream turut ikut-ikutan meramaikan kampanye tersebut. Bagi perokok, berhenti merokok tak mesti ditekankan saat bulan ramadhan saja, kapan pun jika ingin berhenti, tanpa ditekan pun berhenti dengan sendirinya, kenapa juga harus menunggu bulan Ramadhan? Apa lantaran Ramadhan adalah bulan puasa yang disetarakan dengan bulan pendidikan, mendidik perilaku konsumsi. Hih. Faktanya lonjakan volume sampah terjadi di tiap Ramadhan.

Demikian pun dengan menjadi perokok etis, secara filosofis, perokok etis adalah jati diri perokok yang rahmatan lil alamin. Aspek perokok etis yang rahmatan lil alamin ini yang saya mau lebih tekankan.

Meski didiskriminasi habis-habisan, perokok terus belajar tawadhu alias rendah hati. Buktinya meski perokok adalah konsumen yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap negara (bayangkan empat belas persen total penerimaan dari disumbangkan konsumen rokok), perokok ogah riya dan tidak rewel  terkait kontribusi mereka.

Perokok juga tidak lantas reaksioner menanggapi tudingan-tudingan diskriminatif antirokok. Tidak didasari kebencian dan perilaku diskriminatif juga yang diberlakukan. Justru perokok menanggapi tudingan serba absurd itu dengan guyonan khasnya. Salah satu cerminan perilaku yang rahmatan lil alamin: tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, balaslah dengan kebaikan dan kasih sayang.

Menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin bukanlah perkara yang absurd atau mengada-ada. Memaknai konsep etis yang didasari kesadaran bahwa hakikat hidup bersama adalah rahmat yang dikandung kesemestaan kita: Indonesia. Okelah, tanpa panjang cakap. Ada tiga langkah yang mendasari itu semua.

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.

 

Kedua: Berbagilah dengan Sesama

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.

(Visited 180 times, 2 visits today)