Andaikan AA Gym Seorang Perokok

Sebagai seorang yang sering mendengarkan ceramah-ceramah ustaz kondang Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa AA Gym, ada dua hal yang saya tidak sepakat darinya. Pertama soal pandangan politik, kedua soal rokok. Soal pandangan politik saya tidak mau membahas di sini, karena ini situsweb Komunitas Kretek, jadi yang mau saya bahas adalah letak ketidaksepakatan saya dengan AA Gym terkait rokok.

Dalam beberapa kali ceramah AA Gym yang kontennya berkaitan dengan rokok, kadang saya tak habis pikir, kok bisa ya konten ceramahnya AA Gym mirip dengan konten kampanye antirokok? Tak ada masalah juga sebenarnya, toh mungkin AA Gym memang bagian dari kelompok antirokok.

Ada salah satu ceramah si AA terkait rokok yang dipotong dan disebarkan berulang kali oleh antirokok. Ceramah tersebut dimulai dengan sebuah narasi yang sangat baik, jika itu disampaikan oleh penceramah kondang macam AA satu ini. Mengisahkan tentang seorang perokok yang ketika hendak berangkat ke masjid untuk Salat Jumat yang terlebih dahulu mempersiapkan dua lembar uang yang akan dibawanya. Selembar uang pertama nilainya sebesar sepuluh ribu rupiah ditaruhnya di kantung sebelah kiri. Sedangkan lembar yang kedua senilai seribu rupiah ditaruhnya di kantung sebelah kanan.

Sesampainya si perokok di masjid, ia tertidur ketika khotbah Jumat sedang berlangsung. Pada saat itu, seperti biasa kotak amal masjid disodorkan secara bergantian kepada jamaah salat Jumat. Sewaktu kotak amal tersebut tiba di depan si perokok, dengan mata terkantuk-kantuk si perokok merogoh kantung bajunya. Sial baginya, selembar uang seribu rupiah yang sudah ia siapkan untuk amal masjid malah tertukar dengan uang sepuluh ribu rupiah di kantung kiri yang tadinya direncanakan untuk membeli rokok sehabis salat Jumat, mungkin karena faktor rasa kantuk yang dialami dirinya.

Setelah mengisahkan narasi tersebut, AA Gym lantas menyambungkan dengan logika hitung-hitungan ala antirokok. Logika hitungan jika uang buat beli rokok selama setahun itu diinfakkan/disedekahkan, maka akan ada sekian juta rupiah yang diinfakkan si perokok dibandingkan dengan seribu rupiah yang selama ini rutin si perokok infakkan.

Logika ini sangat sederhana memang, namun bukankah kehidupan dan ibadah kita bukan hanya sekadar logika hitung-hitungan? Seharusnya AA Gym terlebih dahulu menerangkan pengertian sedekah dan infak. Sebagaimana menurut ahli fikih, pengertian infak adalah semua jenis pembelanjaan seorang muslim untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Sedangkan sedekah adalah bentuk infak yang lebih khusus lagi, yaitu pembelanjaan yang dilakukan di jalan Allah. Bersedekah tidak harus berupa uang. Kita juga dapat melakukannya dengan cara berbagi pikiran yang berguna dan membantu dengan tenaga.

Jika memulai dari landasan pemahaman ini, maka AA Gym dan kalangan antirokok akan memahami bahwa infak dan sedekah bukan hanya berlandaskan logika hitung-hitungan uang semata. Dalam kasus ini perokok seperti dinafikan bahwa sumbangsih mereka terhadap jalan Allah sangat kecil dibandingkan nominal pengeluarannya untuk membeli rokok. Lalu bagaimana dengan sumbangan mereka melalui pikiran, amal baik non sumbangan materi uang, apakah itu bukan termasuk infak dan sedekah?

Contohnya, seorang perokok yang pekerjaannya adalah satpam sebuah perumahan yang kalau kedapatan jam kerja di malam hari akan membutuhkan rokok sepanjang malam untuk menemani kerjanya sepanjang malam. Jika uang yang tadinya akan ia belikan rokok untuk menemani kerja jaganya di malam hari, karena salah memasukkan ke kotak amal ketika salat Jumat, maka bagaimana nasib si satpam tanpa ditemani rokok sepanjang jaga malam tersebut?

Jika karena tidak merokok kemudian ia mengantuk dan maling menyatroni salah satu rumah, bukankah satpam perokok ini akan disalahkan karena dianggap lalai bertugas? Atau adakah penghuni komplek perumahan tersebut yang bersedekah sebungkus rokok kepada si satpam? Sedangkan kalau kita merujuk kepada terminologi sedekah, satpam tersebut membantu dengan tenaga sudah dapat dikategorikan sebagai sedekah. Dan sekali lagi sedekah tidak harus berupa uang.

Merokok Sama dengan Sedekah

Hal lainnya yang cacat dari logika rokok versus sedekah adalah AA Gym dan antirokok membangun opini bahwa perilaku mengonsumsi rokok adalah hal buruk. Sesuatu yang cenderung membakar uang tanpa adanya manfaat apapun. Dengan membangun opini bahwa lebih baik sedekah ke masjid ketimbang membeli rokok yang menurut AA Gym dan antirokok tak bermanfaat apapun, perlu dikritisi kembali. Bukan kami sebagai perokok tidak setuju bahwa sedekah lebih baik, kami sepakat bersedekah itu adalah anjuran agama dan kewajiban sosial. Yang kami tidak setuju terletak pada logika hitung-hitungan rokok versus sedekah.

Sebab AA Gym tidak tahu bahwa ketika perokok membeli rokok itu sama saja dengan sedekah. Jadi ketika perokok membeli sebatang rokok saja, sudah ada 3 komponen yang disumbangkan kepada negara dalam skema pajak dan cukainya. Lalu sumbangan perokok kepada negara yang sangat besar tersebut (cukainya saja tahun 2016 sebesar 140 triliun rupiah) digunakan oleh negara untuk pembangunan dan program kesejahteraan rakyat. Bukankah itu sudah termasuk sedekah? Bahkan jika ditanya balik, sudah sedekah apa mereka yang mengolok-olok perokok?

Yang terakhir soal AA Gym menyatakan perokok sudah menjadikan rokok sebagai Illah (Tuhan). Kami sebagai perokok jelas-jelas menolak tudingan tersebut. Justru dengan merokok kami menjadi lebih dekat kepada Tuhan. Dengan merokok kami mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada alam. Cita rasa olahan tembakau beserta rempahnya menjadikan kami jadi hamba yang bersyukur, sebab bukankah tembakau, rempah-rempah dan apa yang alam berikan adalah ciptaan Tuhan yang patut kita syukuri.

Dan jika mengatakan Tuhannya perokok adalah rokok, kenapa AA Gym dan antirokok tidak mengatakan pengguna gadget Tuhannya adalah gadget? Bukankah kita juga lebih sering beli pulsa dan kuota ketimbang sedekah ke masjid? Berarti seharusnya gadget juga menjadi Tuhan bukan?

Maka cobalah AA Gym dan antirokok berpikir lebih jernih dalam melontarkan logika-logika kampanyenya. Terlebih jika cacat logika tersebut disampaikan kepada publik dalam bentuk ceramah. Berbahayanya lagi kita berada di era digital yang informasi mengalir sangat deras, banyak di antaranya yang mengunyah informasi mentah-mentah. Seandainya AA Gym seorang perokok, sudah pasti ia lebih bijak menyikapi persoalan rokok.

(Visited 222 times, 15 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,,