kretekus
kretekus

Tradisi merayakan hari lebaran di berbagai daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Sebagaimana kita mengenal beragam penyebutan rokok hasil olah kreasi anak bangsa, yang umum dikenal sebagai kretek. Lebaran, selain sebagai sarana silaturahmi, juga menjadi medium peleburan. Lebaran meleburkan segala penat dan kerinduan kita akan sesuatu yang melapangkan.

Di Sulawesi Utara, tepatnya Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) terdapat istilah Lebaran Binarundak. Tradisi ini dirayakan tepatnya dengan menggelar acara makan makanan khas daerah bersama sepekan setelah lebaran. Tradisi makan Binarundak secara massal ini berangkat dari ajang silaturahmi dan ajang reuni para perantau dengan sahabat lama. Tradisi ini terinspirasi dari hal yang lazim dilaksanakan tujuh hari setelah Idul Fitri oleh masyarakat Jaton (Jawa Tondano) di Minahasa atau Gorontalo. Bedanya, selain waktu pelaksanaaan, juga jenis makanan yang disajikan.

Nasi khas Sulawesi Utara berbahan dasar beras ketan dan santan yang disertai bumbu ini dibungkus dulu dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu untuk dipanggang atau dibakar. Bambu-bambu nasi jaha itu diletakkan berjajar di atas serabut kelapa yang dibakar. Tempat pelaksanaannya terkadang di tepi jalan, depan rumah, atau di lapangan terbuka.

Sepanjang proses pembuatan Binarundak, asap tebal menyelimuti kampung. Persis seperti kita mengisap-kebulkan kretek saat kendurian. Semua orang larut di dalamnya, baik perokok maupun bukan perokok melebur tanpa sekat pada Lebaran Binarundak yang penuh asap kebersamaan ini.

Dari Sulawesi kita bergeser ke Banyuwangi. Tanah kelahiran M. Arief, pencipta lagu Gendjer-Gendjer dan Larang Picis yang dicap sebagai lagunya orang komunis oleh rezim Orde Baru. Di Banyuwangi sendiri terdapat satu tradisi tahunan yang disebut sebagai Lebaran Kusir Dokar.

Tradisi napak tilas yang biasa disebut juga ‘Puter kayun’  ini biasanya dilaksanakan setiap 10 hari usai  lebaran Idul Fitri (10 Syawal). Belasan dokar dihias aneka bunga dan beragam aksesoris yang menarik, layaknya andong wisata. Dokar-dokar ini adalah milik warga Boyolangu yang memang masih memegang adat Puter Kayun.

Rute yang dilalui parade delman ini menyusuri jejak dari leluhurnya, Ki Buyut Jakso. Konon, leluhur ini dulu membuka jalan di sebelah utara oleh Belanda. Permohonan bantuan ini dilakukan karena ada gundukan gunung yang tak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (batu dibongkar). Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu bekerja sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar. Dari tradisi inilah istilah Lebaran Kusir Dokar bermula.

Sebelum pelaksanaan puter kayun, tradisi ini diawali sejumlah ritual. Dimulai dari tradisi kupat sewu (seribu ketupat) yang digelar tiga hari melakukan rangkaian adat puter kayun. Mereka juga berziarah ke makam Buyut Jakso yang ada di Boyolangu.

Betewe, Nitisemito si pebisnis kretek itu sebelum dikenal sebagai Raja Kretek adalah seorang kusir delman di sini. Itu terjadi sebelum Ia memulai bisnisnya di Kudus dan dibantu istrinya mengantar kejayaan kretek hingga dikenal dunia sampai sekarang.

Pada jiwa seorang kusir terdapat nilai pengabdiaan yang mengilhami kretekus akan banyak hal. Penghayatan akan hidup dan kebersamaan. Akan arti kemenangan yang hakiki. Mengenali lagi fitrah diri sebagai makhluk yang dibekali akal dan nafsu, kretekus layaknya seorang kusir yang mengantar jagat hidupnya ke tujuan hakiki. Bahagia lahir-bathin.

Well, bulan puasa yang telah berkali-kali kita lewati adalah bulan berlatih untuk mencapai fitrah kemenangan itu. Semoga kretekus sedunia, setelah lebaran pun adalah para ‘kusir’ berprestasi yang senantiasa dapat mengontrol nafsu konsumsi. Sadar akan batas dan adab wal etika, yang dari waktu ke waktu akan terus ditantang oleh zaman dan pasar. Semoga.